Perempuan di Titik Nol: Kejamnya Patriarki di Tepian Sungai Nil

Bukan rahasia umum memang, patriarki adalah tindakan yang merugikan banyak pihak. Terlebih kaum perempuan yang menjadi sasaran.  Walaupun perempuan adalah yang paling rentan, tapi  pada dasarnya lelaki pun juga bisa dibuat sengsara oleh sistem ini. Namun, masih banyak yang mengelak dan menuduh orang-orang yang tidak suka dengan sistem ini dengan sebutan yang tidak baik. Itulah yang bisa kita dapatkan dari buku “Perempuan di titik nol”.

Sebuah novel buatan Nawal El Sadaawi, seorang dokter dan penulis yang banyak menuliskan soal isu perempuan ini, menelanjangi kejamnya sistem patriarki dengan setting keadaan timur tengah. Lebih tepatnya Mesir.

Lewat bukunya, Nawal mengajak kita untuk menyaksikan hidup Firdaus. Seorang narapidana yang divonis hukum gantung karena sudah membunuh seseorang. Namun dia malah menolak grasi dari presiden yang diajukan oleh salah satu dokter penjara. Menurutnya, kematian hanyalah satu-satunya cara untuknya bisa terbebas dari semua belenggu.

Dari lahir, Firdaus sudah menjalani kehidupan yang kurang baik. Segala diskriminasi dan ketidakadilan itu dilahapnya semenjak lahir di dunia. Rumah dan keluarga yang harusnya menjadi tempat terbaik dan pendukung utamanya agar bisa berkembang dengan lebih baik, malah menjadi media pertama kekejaman patriarki.

Baca Juga : Review Buku Jungkir Balik Pers: Kita Dan Media Sama-Sama Jungkir Balik

Salah satu bagian yang ku ingat kira-kira begini, lauk makan utamanya hanya untuk ayahnya. Sedangkan ia akan makan apa saja yang tersisa. Ayahnya bisa tidur di atas dipan, sedangkan dia di lantai dengan alas seadanya bahkan dalam udara yang lebih dingin dari biasanya. Dari berladang hingga memasak, semunya Firdaus yang kerjakan.

Belum lagi pelecehan yang dia dapatkan dari pamannya. Ini juga bagian unik miris menurutku. Bagaimana dia belum bisa membedakan mana itu rasa sayang, mana hal yang terlarang. Pelecehan seksual yang dia terima, dipikirnya adalah bentuk cinta kasih yang diberikan pamannya. Ini juga membuatku sadar bahwa pendidikan seks sejak dini itu penting.

Puncaknya, menurutku di sini terjadi ketika Firdaus yang saat itu masih berumur belasan tahun, dijodohkan dengan lelaki tua cacat oleh paman dan bibinya. Awalnya paman Firdaus merasa janggal namun malah semakin dipengaruhi oleh istrinya. Itu semua dilakukan karena mereka menganggap Firdaus sudah cukup dewasa dan meresahkan.

Bibinya berpikir bahwa Firdaus bisa menjadi sumber firnah di rumahnya jika terus-terusan tinggal di sana. Berkedok agar  bisa menjadi perempuan yang lebih terhormat karena bisa menikah dengan tokoh yang disegani, menurutku itu lebih terlihat seperti dia sedang menjual keponakannya.

Lagipula kehormatan yang diprediksi paman dan bibinya itu tidak dia dapatkan. Malah sebaliknya, kekerasan dalam rumah tangga dan perlakuan tidak menyenangkan lainnya menjadi makanan sehari-hari di rumahnya. Kasih sayang suami istri yang wajar, tidak muncul dalam pernikahan itu. Terlebih, suaminya sangat kikir.

Tragisnya, ketika ia mengadukan itu semua kepada paman dan bibinya, mereka malah menyalahkannya. Menganggap Firdaus tidak tau diri dan sebagainya. Hingga akhirnya dia tidak tahan dan kabur dari suaminya lalu tinggal di jalanan. Bertemu dengan lelaki lain yang dianggapnya baik, namun ternyata sama saja bajingannya.

Bertubi-tubi perlakukan tidak menyenangkan dia dapatkan, hingga akhirnya dia bertemu seorang germo perempuan yang memperlakukannya dengan sedikit lebih baik. Di situlah kehidupan awalnya sebagai pelacur dimulai. Firdaus yang polos pun berubah menjadi pelacur yang tidak berperasaan.

Baca Juga : Yang Kaya Teriak Prokes, Yang Miskin Teriak Lapar

Namun bukan berarti diskriminasi gender itu selesai. Masih ada lagi perlakuan tidak menyenangkan yang dia raih. Hingga akhirnya ia sadar, memang mungkin kematian bisa menjadi jawaban kebebasan.

Seperti salah satu lirik band apik kesukaan saya yang pernah berbunyi “sometimes solutions aren’t so simple, sometimes goodbye is the only way..

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *