Peran literasi dalam melawan hoaks

Belakangan ini berita palsu begitu banyak beredar di dunia maya. Media sosial menjadi tempat bersarangnya berita bohong yang sengaja diedarkan. Bahkan, berita-berita yang tidak sesuai dengan fakta cepat sekali menjadi viral. Banyak masyarakat yang percaya dengan hoaks, karena informasi yang mereka dapat itu sesuai dengan opini atau sikap yang dimiliki. Biasanya, masyarakat yang mudah tertipu berita hoaks adalah mereka yang tidak mempunyai referensi informasi yang kuat dan malas untuk mencari kebenaran, sehingga mudah sekali terpengaruhi.

Baru-baru ini masyarakat Indonesia sedang terkena wabah hoaks. Pada kasus Ratna Sarumpaet yang sempat mengaku dianiaya oleh beberapa oknum, sehingga wajahnya mengalami luka lebam. Pastinya beberapa orang percaya akan kejadian itu, apalagi kabar tersebut juga dibenarkan oleh juru bicara tim Prabowo-Uno. Tak ketinggalan pula, pengacara Ratna Sarumpaet juga mengatakan hal yang sama. Dan masih banyak lagi yang mengatakan bahwa Ratna memang benar dikeroyok.

Prabowo sempat mengatakan bahwa kejadian yang dialami Ratna Sarumpaet ini merupakan tindakan yang melanggar hak asasi manusia. Sehingga Prabowo ingin  bertemu dengan Kapolri Jendral Tito Karnavian untuk membicarakan penganiayaan yang dialami Ratna tersebut. Namun, pihak polisi menyanggahnyah. Setelah mendapatkan laporan bahwa berita itu tidak benar, kepolisian melakukan penyelidikan. Dari hasil penyelidikan tersebut Ratna Sarumpaet diketahui tidak dirawat di 23 rumah sakit untuk melakukan operasi dan tidak melapor ke Polsek Bandung dari tanggal 28 September sampai 2 Oktober 2018. Memang benar Ratna Sarumpaet sedang di Bandung, namun data yang didapat saat dia datang ke rumah sakit yaitu pada tanggal 21 September 2018.

Saat berita bohong itu sedang panas-panasnya tersebar luas. Ratna Sarumpaet mengklarifikasi bahwa kabar dirinya dikeroyok itu tidak benar. Padahal, kenyataanya statement berita hoaks Ratna yang dimaksudkan untuk menyembunyikan persoalan pribadinya yaitu operasi plastik. Bekas lebam yang dialaminya itu bukan karena dianiaya melainkan karena ia menjalani operasi plastik. Wah, hebat sekali ibu yang satu ini, bisa membuat negara Indonesia meringis melihat kelakuannya.

Itulah contoh masyarakat yang mudah termakan hoaks, jika menerima informasi hanya berdasarkan apa yang ia sukai lalu ia percayai, dan mereka hanya melihat dari satu sudut pandang saja dan tidak melihat dari sudut pandang lainnya. Kurangnya budaya membaca juga menjadi salah satu penyebab cepatnya berita hoaks menyebar. Bagaimana tidak ? Mereka yang sering tertipu berita hoaks bahkan melihat dari judulnya saja sudah terprovokasi, padahal membaca isinya saja belum.

Ada baiknya, sebelum terkena wabah hoaks cari tahu dulu sumber kebenarannya, seperti saat membaca judulnya, kita jangan langsung terprovokasi. Biasakan selalu membaca isi beritanya dan mencari tahu kebenarannya. Selanjutnya, kita harus cermat dalam memilih situs berita. Di Indonesia terdapat 43.000 situs, dan yang sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi tak sampai 300. Artinya, terdapat puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan beria palsu diinternet perlu diwaspadai. Jadi, usahakan membaca sumber berita dari yang terpercaya seperti Kompas, Kumparan, Detik.Com, Tirto.Id dan lain-lain. Kemudian, mengecek keaslian foto atau video yang tersebar. Caranya bisa juga dengan melakukan Drag and Drop ke kolom pencarian pada Google Image. Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar yang serupa sehingga bisa menjadi perbandingan. Empat kunci dalam melawan hoaks yaitu baca, tanyakan, mengecek, dan pastikan.

Inilah mengapa gerakan Literasi sangat penting dilakukan. Literasi bukan hanya soal membaca dan menulis, tetapi literasi juga dapat memerangi hoaks. Kita sebagai masyarakat yang cerdas harus dapat melihat berita yang sumbernya sangat jelas. kita juga harus bisa mempunya kemampuan yang baik dalam menggunakan teknologi digital untuk mengakses, mengelola, menganalisa, dan mengevaluasi informasi yang kita dapatkan. Jangan ditelan mentah-mentah begitu saja, berusaha berfikir kritis agar bisa membangun pengetahuan baru supaya kita dapat berpartisipasi secara efektif dalam memerangi hoaks dimasyarakat.

Komentar
Nuryeti

Never stop learning, because life never stop teaching

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *