peran

Peran Anak Dalam Kemajuan Literasi dan Masa Depan

Telah 34 tahun Peringatan HAN (Hari Anak Nasional) diselenggarakan, sejak pertama kali diterbitkan berdasarkan Keputusan Presiden No. 44 tahun 1984. Lagi-lagi upayanya adalah mendorong semua elemen, orang tua, keluarga, pendidik, masyarakat, dunia usaha, media, pemerintah dan semua pihak yang terkait agar turut fokus melindungi anak-anak di Indonesia.

Tepat pada perayaannya di tahun ini yang jatuh pada tanggal 23 Juli, Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak mengangkat tema tentang kualitas keluarga dalam perlindungan anak. Ya, boleh saja, itu bertujuan agar hak dan perlindungan anak dapat terpenuhi. Namun, di sisi lain ada sebuah hal yang perlu disoroti. Bahwa sejauh ini titik permasalahan ada pada minimnya peran keluarga dalam menaikkan budaya literasi pada anak.

Anak-anak yang kurang mendapat perhatian serta minimnya peran dari orangtua cenderung mengarahkan pada aktifitas yaitu bermain gawai atau asyik bermain dengan kawannya hingga tak kenal waktu. Dapat dibayangkan apabila dari total 87 juta anak di Indonesia, setengah dari mereka melakukan hal tersebut. Tentu ini jadi permasalahan yang besar bagi kita semua, terutama bagi orangtua.

Maka dari itu, sebelum merembet kepada konteks yang lain, seperti pernikahan di bawah umur, rokok dan stunting (gizi buruk anak) serta terparahnya lagi, kekerasan pada anak yang kerap kali terjadi. Literasi adalah kunci utamanya, agar anak dapat membuka jendela dunia dengan baik.

Meski, kemampuan membaca, menelaah, dan menganalisis informasi tak bisa dimiliki secara instan. Mereka cukup perlu dibentuk dari kebiasaan sejak kecil.

Baca Juga:  Apakah Masa Sekolah Menyenangkan?

Orangtua bisa memberikan pemahaman literasi dengan merutinkan belajar selepas mengaji di waktu maghrib atau mencontohkan kegiatan membaca di depan anaknya, sehingga sang anak terangsang dan ingin melakukan kegiatan serupa, karena nantinya anak akan tumbuh menjadi sosok yang memandang buku atau sumber bacaan sebagai kebutuhan.

Tidak mesti dari keduanya, baik ayah ataupun ibu, secara bergantianpun sebetulnya bisa, asalkan konsisten. Atau lebih lengkapnya bisa dapat menggunakan pola mengajak berbicara, bermain, bernyanyi, membacakan buku hingga melakukan kegiatan menulis. Dengan begitu, pola pengasuhan dapat dilakukan secara asih, asuh dan asah.

Senada dengan hal sebelumnya, terkait membahas seputar literasi. Kak Seto, seorang psikolog sekaligus Ketua Komnas HAM pernah menyinggung terhadap problematika yang mendera bangsa ini, menyeret pada konteks pendidikan dan anak, bahwa pendidikan kita belum memenuhi tuntutan pendidikan karakter. Masih ada kekerasan di sekolah dan rumah, kurikulum semakin padat, dan cara mengajar yang belum ramah anak.

Baca juga:  Arswendo Atmowiloto: Permata Yang Abadi

Nah, inilah yang dimaksud dengan kekeliruan perencanaan keluarga dan peran kelembagaan. Sudah usang dimakan zaman, bukan lagi cara mengajar anak dengan diidentikan pada hal yang berbau kekerasan agar mereka patuh untuk belajar. Sekarang jaman semakin canggih dan carapun semakin bervariatif, barang 5-10 menit dengan memahami panduan dalam mengajarkan anak di internet saya rasa itu langkah yang sudah paling mudah. Dengan demikian, jika dengan orangtua sendiri saja anak sudah diperdulikan dan dikenalkan dengan budaya berliterasi, bukan tak mungkin di hari esok sang anak mempunyai reputasi dan karir yang gemilang untuk masa depan. Terlebih  untuk kemajuan bangsa dan bernegara.

Terakhir, saya titipkan sebuah kutipan yang dapat menyadarkan kita semua tentang anak-anak dan generasi selanjutnya.

Hanya ada dua jenis anak muda di dunia. Mereka yang menuntut perubahan. Mereka yang menciptakan perubahan. Silakan pilih perjuanganmu.- Pandji Pragiwaksono

Komentar

Benci feodal namun juga bukan patriotik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *