Penyitaan Buku Dalam Upaya Mempertontonkan Kebodohan

Ketika mendengar kabar adanya aksi razia buku di Makassar oleh sekelompok orang, saya langsung berpikir bahwa orang yang melakukan penyitaan buku tersebut pasti tidak paham betul pemikiran Marx, apalagi mengkritisi filsafatnya. Lagi-lagi bermodalkan alasan bahwa buku tersebut tidak sesuai dengan ideologi pancasila.

Kita selalu tersenyum sumringah ketika banyak orang dari Timur Tengah, Eropa dan Amerika memuji pancasila, Namun sayangnya kita merasa membela pancasila bahwa banyak uoaya yang dilakukan dengan membubarkan diskusi, membubarkan lapak baca, dan razia buku. Apakah itu ciri negara berperadaban besar?

Kalau memang kita menganggap pancasila adalah ideologi terbaik, ya kita harus punya argumentasi tentang landasan filosofisnya yang dapat membedakannya dengan sosialisme komunis dan kapitalisme, bukan hanya berbeda secara defenisi tapi berbeda mulai dari pada basis epistemologisnya sampai aksiologisnya. Dan itu semua bisa kita ketahui ketika telah membedakan landasan filosofis antara sosialisme, kapitalisme dan pancasila. Untuk itulah perlu kita baca bukunya agar tahu perbedaan dan kelemahannya.

Baca Juga: Cerita Bumi Tahun 2683: Keberlangsungan Hidup, Perjuangan Bangsa Burung Dan Kekejaman Manusia

Apakah kita harus kembali ke zaman kegelapan lagi seperti di Eropa dulu dan kembali menjalani kehidupan beragama sebagai sebuah dogma yang anti terhadap kemajuan berpikir? Biarlah kebodohan itu dijalani oleh mereka yang sudah menjadikan kebodohan sebagai pakaian kemuliaan mereka. Tapi jangan paksakan orang lain untuk menjadi bodoh dengan cara melakukan razia buku dan pembubaran diskusi ilmiah.

Jika kita memang menganggap sebuah pemikiran atau ideologi adalah benar, maka kita tak akan pernah khawatir atas datangnya berbagai kritik dan komentar. Justru, kritik dan komentar itu adalah ujian seberapa tangguh sebuah ideologi dibangun diatas fondasi pengetahuannya.

Penyitaan buku sudah pasti tidak akan dilakukan oleh orang bijaksana dan para ilmuwan. Tradisi keilmuan mengajarkan, jika tidak sepakat dengan suatu pemikiran maka buatlah tulisan yang mengkritik pemikiran tersebut. Ketika ideologi sosialisme komunis tumbuh subur di Irak, para ulama dan ilmuan di sana tidak melakukan seperti apa yang dilakukan di Makassar. Yang dilakukan oleh para Ulama dan pemikir di sana adalah melakukan kuliah terbuka, menulis buku, menulis makalah, melakukan diskusi dan seminar untuk membendung perkembangan sosialisme di sana.

Penyitaan buku yang dilakukan di Makassar hanyalah upaya mempertontonkan kebodohan sehingga akan menjadi kontraproduktif dengan semangat mencerdaskan kehidupan bangsa. Setiap orang punya hak untuk tetap menjadi bodoh, sebagaimana setiap orang punya hak untuk menjadi cerdas. Namun tidak ada norma yang membolehkan pembodohan dipaksakan kepada orang lain, meskipun atas nama agama, karena agama yang baik pasti akan mengajak umatnya untuk menjadi lebih baik, lebih berilmu, lebih beretika, menghargai hak orang lain, dan menghargai karya orang lain.

Baca Juga: Sepenggal Kisah Dari Toko Buku Bekas Milik Fajarudin Hutagalung

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *