Penyebaran Buku PDF Bajakan: Niat Mulia Tanpa Menimbang Lagi Efeknya

Semasa menghabiskan waktu ditengah pandemi, salah satu kawan saya dengan niat yang mulia menyebarkan status Whatsapp, “yang ingin buku (…) bentuk PDF bisa langsung chat ya…”

Saat itu pula saya bertanya kepadanya tentang legalitas dari buku dalam format PDF tersebut. Ternyata jawaban yang saya dapatkan dari dirinya cuma sebatas meneruskan pesan berantai, ia tak tahu menahu tentang kepastian legalitasnya. Ia hanya ingin membuat para temannya yang sedang bosan ditengah pandemi agar mengisi waktu dengan membaca buku. Tentu itu niat yang mulia meski dengan cara yang cukup terbilang salah.

Tak lama, selang beberapa hari jagat dunia maya dibuat heboh tentang beberapa argumen dari para penulis kenamaan di media sosial, masing-masing dari mereka mengeluh tentang penyebaran buku pdf bajakan. Sebagian ada yang berusaha menjelaskan tentang dampak dari pembajakan, sebagian lagi dengan lantang mengutuk para pembajak.

Pembajakan buku memang bukan hal baru lagi di Indonesia. Tahun lalu, para pelaku industi perbukuan dibuat geram dengan menyebar secara bebasnya buku bajakan di aplikasi belanja online ternama. Mereka menyayangkan tidak adanya penyaringan yang tegas tentang buku-buku yang diperjualbelikan secara online.

Terjadi pula perdebatan sengit saat itu. Dari pihak pro yang mendukung pembajakan mengatakan bahwa itu adalah sebuah bentuk upaya penyebarluasan ilmu pengetahuan agar lebih mudah dijangkau oleh masyarakat. Menolak pembajakan sama saja mendukung kapitalisme ilmu pengetahuan. Sedangkan dari pihak yang menolak pembajakan, baik itu para pelaku industri perbukuan hingga orang-orang yang bergelut dalam dunia literasi, mengatakan bahwa dampak dari pembajakan buku sangatlah meresahkan. Membajak buku sama seperti kalian mencuri dari jerih payah seorang penulis, penerbit, editor, desainer, layouter, penerjemah dan masih banyak pekerja-pekerja lainnya, yang dengan susah payah bekerja untuk uang walau tak seberapa.

Yang perlu kalian ketahui, jangan pikir bahwa seorang penulis buku mendapatkan limpahan uang dalam sekali penerbitan bukunya. Masalah utama yang masih dirasakan oleh seorang penulis hingga saat ini adalah royalti yang terbilang kecil.

Baca Juga :  Lelaki Harimau: Wujud Dari Segala Bentuk Ketidak Manusiaan

Itu sekelumit kecil soal pembajakan, tapi apakah buku format PDF yang tersebar merupakan salah satu bentuk melanggar hak cipta atau termasuk dalam bentuk pembajakan? Harus diakui bahwa perlindungan hukum atas suatu karya di Indonesia masih dikatakan lemah.

Dalam UU Hak Cipta, sebuah karya hanya dilindungi dari bentuk publikasi ilegal dalam tujuan komersil. Maka artinya, bisa dikatakan bahwa buku-buku yang tersebar dalam bentuk PDF di internet, jika tak ditujukan untuk komersil berarti tak melanggar dari UU Hak Cipta. Inilah yang menjadi dalih para pembajak bahwa tujuan mereka adalah mencerdaskan bangsa dan masyarakat melalui jangkauan buku murah dan mudah.

Tapi, apakah benar bahwa tujuan untuk mencerdaskan itu sudah tepat sasaran? Begini logikanya, kebanyakan dari orang-orang yang mengakses buku PDF sudah pasti adalah orang yang memiliki smartphone. Yang dimana kebanyakan orang tersebut masuk dalam kategori ekonomi menengah. Dan saya percaya, orang-orang tersebut sebetulnya mampu untuk membeli buku fisik yang orisinil, tanpa perlu membajak. Bisa dikatakan bahwa sebetulnya tujuan akses buku murah untuk masyarakat tak tepat sasaran. Sudah tak tepat sasaran, membunuh industri perbukuan pula.

Muhidin M. Dahlan, dalam essainya yang terbit di mojok, mengutarakan secara jelas dampak dari pembajakan ini secara sinis namun tetap cerdas. Mencoba mengandaikan situasi dimana para penulis sudah lelah untuk membuat tulisan berkualitas, editor yang sudah tak peduli lagi dengan hasil editannya, layouter, designer, dan semua pelaku industri perbukuan yang sudah muak dan memilih untuk kalah. Kalau sudah begitu, coba bayangkan apa yang terjadi? Tak akan ada lagi buku-buku berkualitas lahir dari penulis indonesia. Tak akan ada lagi orang yang bermimpi menjadi penulis hebat. Semua itu runtuh karena pembajak-pembajak sialan yang sok maha benar dan mulia itu, berdalih bisa menyebarluaskan pengetahuan kepada masyarakat secara gampang tanpa taat pada regulasi.

Kasus semacam ini sebetulnya bisa diatasi, mulai dari kalian sendiri untuk tak lagi membaca dan membeli buku ilegal atau bajakan. Kalau kalian ingin akses buku elektronik, sudah tersedia i-pusnas. Kalau tak punya uang untuk membeli buku fisik, datanglah ke perpustakaan, pinjam buku di sana. Atau kalian bisa mencari buku bekas yang orisinil, itu sudah lebih dari cukup untuk menjaga ekosistem perbukuan dan literasi kita dari bentuk pembajakan.

Baca Juga : 5 Tipe Pembaca Buku Fiksi Dengan Tren Kekinian

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *