Pengusiran Biksu Dan Pelanggaran HAM Di Tangerang

Intoleransi kembali terjadi di kampung Kebon Baru, Desa Babat Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang. Mulyanto Nuralim , seorang Biksu harus terusir karena dianggap meresahkan warga dan harus menerima kenyataan pahit jika persatuan dapat dipecah belah karena perbedaan agama.

Hal ini terkait rencana kebaktian umat Buddha yang hendak melakukan tebar ikan di Kampung Kebon Baru dan mendapat penolakan dari warga sekitar. Bahkan Biksu Mulyanto diminta angkat kaki karena diduga akan membuat warga berpindah agama dan memeluk agama Buddha. Penolakan warga yang semakin berkembang akhirnya diadakanlah pertemuan para tokoh yang dihadiri Kepala Desa Babat, Camat Legok bersama dengan Kapolsek Legok.

Pertemuan itu sendiri katanya diselesaikan dengan cara kekeluargaan dan meminta agar Biksu Mulyanto tidak memasang ornamen yang mencolok jika ingin beribadah agar tidak menimbulkan kecurigaan warga. Bayangkan saja, mau beribadah saja diminta ngumpet-ngumpet.

Saya sendiri cukup kaget dan merasa miris. Bagaimana bisa bangsa yang dilahirkan dari keberagaman ini masih tidak ramah terhadap perbedaan. Sampai kini saya rasa perdebatan tentang perbedaan umat beragama adalah debat kusir yang tak berujung. Entah, terlalu mudah dipecah belah atau memang kita yang merasa dan menganggap bahwa keyakinan kita lah yang paling benar.

Terlebih, Tangerang memang belum ramah soal Hak Asasi Manusia. Setelah kasus persekusi Cikupa yang sangat tidak manusiawi, kebakaran pabrik kembang api yang tak mementingkan kesehatan karyawan atau juga surat larangan beriibadah di Rajeg, Tangerang, menjadi fakta jika kita masih saling mencederai hak individu manusia.

Tudingan soal Biksu Mulyanto yang diusir hanya karena kesalahpahaman semata, itu sebuah bualan. Kita punya dasar hukum yang melindungi kebebasan beragama. Pasal 28 E ayat 1 berbunyi

“Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali”.

Namun kembali lagi, aturan hanya aturan dan segelintir orang tak menaatinya, tentu akan berdampak buruk dan merugikan bagi yang didiskriminasi haknya.

Saya sendiri menanggapi ini ke dalam dua hal. Menurut saya, jika kegiatan beribadah saja dilarang, hal ini sangatlah miris. Bagaimana mungkin kita masih mengakui ada 6 agama jika beribadah saja masih menimbulkan saling kecurigaan yang berdampak pada perpecahan. Apalagi jika alasannya takut murtad, itu sangat tidak masuk akal.

Jika ada yang berpindah keyakinan, biarlah itu jadi urusan individu dengan Tuhan, jangan malah main mengkambing hitamkan pemuka agama. Nah, kenapa giliran agama lain pindah ke agama yang kita anut kita senang dan memuja setinggi-tingginya?

Kedua, mengapa minoritas sering kehilangan kebebasan beribadah dan ruangnya dipersempit. Saya sendiri membayangkan jika saja para mayoritas mendapat perlakuan serupa, saya yakin responnya akan lebih berbahaya, entah karena merasa golongannya lebih banyak jika berbicara perbandingan atau mungkin karena memang terlalu sensitif dan tak mau menerima perbedaan.

Jika saja para minoritas  melakukan hal serupa aksi 212, saya rasa itu sangat mungkin dan mampu. Namun, Hal paling saya apresiasi adalah mereka para minoritas tak melakukan itu dan tetap legowo.

Saya selalu yakin jika tak ada yang lebih indah dibandingkan saling menghargai terhadap sesama, karena persatuan tentu harus dijaga demi keutuhan dan kedaulatan. Terutama pada bangsa dan negara.

Kasus-kasus macam ini kadang sering terjadi, beberapa teman saya juga kerap bercerita jika minoritas yang ingin melakukan izin untuk kegiatan keagamaan kadang sering terhambat dan tak mendapat respon yang baik.

Serta, apa yang terjadi di Legok adalah sebuah ironi di negara yang katanya ramah dan bertoleransi, mulai sekarang kita harus meyakini bahwa tak ada yang baik karena membenci. Lagipula, alasan masyarakat mengusir Biksu hanya takut jika ada yang berpindah agama, sungguh sangat tidak masuk di akal, salahkan dulu lingkungannya bukan langsung main salahkan para pemuka agama lain.

Dalam kutipan Gus Dur pun berkata, “Tidak penting agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu”.

Untuk itu saya mengakui memang dalam kutipan nya Gus Dur memang jika kita dinilai baik bukan karena latar belakang agama, tapi perbuatan kita terhadap sesama.

Komentar

Nggak bisa tidur kalau belum diucapin selamat malam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *