Pendorong Semangat Membaca Bersama Angkot Pustaka

Angkot, sebuah moda transportasi yang sudah ada sejak lama. Dulu dan sekarang masihlah berbentuk seperti itu, dengan rupa dan fisiknya, mungkin hanya beberapa angkot saja yang dimodifikasi lebih berbeda agar menarik penumpang untuk naik. Namun, angkot hari ini tetaplah masih menjadi primadona oleh beberapa orang.

Seperti angkot sederhana, jurusan Serang-Pandeglang ini, terlihat tampak biasa, tampak dari luar tak ada yang istimewa. Ya, seperti angkot pada umumnya. Tapi jika menengok ke dalam, akan terlihat perbedaan yang mencolok dari angkot tersebut. Angkot ini, memiliki kelebihan tersendiri, dengan rak berisikan buku yang berada tepat di kaca belakang.

Edi Badrudin atau akrab disapa Udin Angkot adalah supir angkot sekaligus pemilik angkot yang punya sisi kemenarikan di dalamnya. Dijuluki nama Udin karena sang pemilik biasa di sebut oleh warga sekitar dan para supir disana. Bermodal rak buku yang dibuat dari kayu dan buku-buku sumbangan para donatur, pak Udin mantap melanjutkan perjuangan untuk terus memberikan akses membaca buku gratis kepada masyarakat. Bermula dari membuka perpustakaan kecil-kecilan di rumahnya dan hanya bermodal 10 buku, lambat laun buku-buku yang terkumpul kurang lebih kini bertambah menjadi 400 buku.

Awal terinisiasinya dorongan untuk membuka pustaka angkot, karena disana masih kurang dalam melakukan kegiatan membuka perpustakaan gratis di rumah, segera pak Udin pun menyulap sedikit angkotnya menjadi perpustakaan sederhana yang dapat menampung beberapa buku untuk bisa dinikmati oleh para penumpang agar tidak jenuh saat di perjalanan dan saat mobil sedang menunggu penumpang.

Dengan segala keterbatasan yang ada, pak Udin terus melanjutkan niat mulianya untuk terus menebar virus membaca dan berkeinginan memberantas buta aksara. Bahkan beberapa pelajar dan mahasiswa yang sedang di angkot pun tak rewel, sebab bagi mereka, pengadaan fasilitas membaca buku ini terbilang merupakan hal yang asyik, ketimbang melulu memegang hp atau jenuh menunggu tujuan tiba, lebih baik membaca kata per kata, kalimat per kalimat dari buku yang disediakan.

Pak Udin tak khawatir jika buku yang dijajakan di rak hilang diambil oleh tangan-tangan jahil penumpang. Justru pak Udin mengikhlaskan buku-bukunya, karena menganggap pasti yang mengambil bukunya adalah orang yang begitu mencintai dunia membaca. Juga pak Udin tidak menganggap itu sebagai kerugian besar.

Meski usia lanjut, rambut-rambut sudah memutih, keriput juga sudah mulai nampak terlihat dan hanya mengeyam sampai tingkat pendidikan menengah. Hal-hal itu tidak menyurutkan semangat belajar pak Udin. Ia tetap terus membacaa di kala senggang sembari menunggu angkotnya terisi penuh oleh penumpang. Berkat perpustakaan kecilnya juga, banyak para supir yang terkena virus membaca sembari menunggu penumpang atau membaca sembari ngopi di warkop-warkop terminal.

Dengan berkonsepkan angkot pustaka. Angkot pun harus mengalami sedikit perubahan dari jumlah penumpang yang di angkut. Jika angkutan umum biasa bisa mengangkut sampai 10 orang, karena rak buku yang terpasang di angkot pak Udin menjadikan angkot hanya bisa dinaiki delapan orang saja. Tapi itu adalah konsekuensi yang harus dibayar untuk niat mulia menebarkan virus membaca dan usaha menghilangkan buta aksara kepada masyarakat.

Meski kesehariannya begitu sederhana, berseragam kaus, topi, dan sandal jepit. Semangat membacanya tak akan luntur lewat keterbatasan itu. Pak Udin dengan kegigihan yang tinggi itu dapat menjadikannya begitu kaya (ilmu). Seperti peribahasa “Apa yang kau tanam, itu yang kau tuai”.

Selama masa perjalanan karirnya di dunia jasa, malahan Pak Udin kini sudah menerbitkan buku yang berisi kumpulan puisi yang diterbitkan oleh Puri Pusaka Bandung pada tahun 2012. Buku dengan judul Tidur Dalam Mimpi itu berisi kumpulan 27 puisi dan sudah terjual di 17 provinsi di Indonesia. Hebat bukan?

Banyaknya gerakan membaca yang di lakukan oleh seluruh elemen masyarakat membuat saya semakin yakin bahwa sebenarnya minat membaca masyarakat Indonesia begitu tinggi. Penyediaan fasilitas yang kurang memadai menjadi faktor dasar mengapa saat ini banyak masyarakat lebih gemar bermain gadget ketimbang membaca buku.

Semoga apa yang diperjuangkan oleh Pak Udin dapat tertlular kepada para supir-supir dan penumpang angkutan umum, khususnya di Indonesia. Kegemaran masyarakat kita yang gemar mengggunakan kendaraan umum menjadi pemecut semangat untuk memulai sedini mungkin.

Komentar

Penyuka karya Dewi Lestari dan berhasrat ingin bertemu sang Supernova

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *