Pendekar Cisadane dan Kisah yang Dilupakan

Warga Jakarta selalu mendambakan sosok Si Pitung, ahli silat pembela rakyat kecil. Kisahnya menjadi bahan perbincangan rakyat dari dulu sampai sekarang. Terutama tentang perlawanannya kepada penjajah dan menjadi pembela rakyat kecil pada saat itu. Tak hanya Si Pitung, Si Jampang dan Bang Pi’i yang sama-sama berjuang membela rakyat tertindas, masih dikenang jasa-jasanya higga sekarang.

Seperti Jakarta, Bandung juga memiliki tokoh seperti Si Pitung. Mohammad Toha, seorang pejuang yang sangat melegenda dalam peristiwa Bandung Lautan Api.

Pendekar-pendekar tadi adalah jawara silat yang kehebatannya sangat dibanggakan. Memang, kisah-kisah tentang pendekar banyak berkembang di masyarakat Indonesia. Biasanya setiap daerah mempunyai tokoh pendekar yang dibanggakan, termasuk di Tangerang.

Ya, Pendekar Cisadane. Nama yang sudah melekat lama pada tim Persita sebagai julukan khas selain Laskar La Viola. Pendekar Cisadane sudah familiar di telinga masyarakat Tangerang. Namun sedikit orang yang tahu tentang kisahnya.

Ada yang menyebutkan bahwa Pendekar Cisadane adalah orang yang melawan Ratu Siluman Buaya di bantaran sungai Cisadane. Dikisahkan bahwa dulu ada penghuni sungai Cisadane berwujud buaya yang mengganggu warga sekitar Cisadane. Singkat Cerita, Pendekar Cisadane mengalahkan Ratu Siluman Buaya yang membuat resah warga sekitar. Setelah  mengalahkan Ratu Siluman Buaya, suasana kembali tentram. Sosok Pendekar Cisadane pun menjadi pahlawan pada saat itu.

Pendekar Cisadane bukanlah tokoh rekaan. Ia nyata, hidup pada jaman sebelum kemerdekaan. Seperti Si Pitung dari Jakarta, Pendekar Cisadane adalah orang yang menggunakan kesaktiannya untuk melawan penjajahan Belanda.

“Pendekar Cisadane itu benar-benar ada. Namanya Surya. Dia lahir sekitar tahun 1930-an di Rawa Kidang, Kecamatan Sukadiri (dulu Kecamatan Mauk, red), Kabupaten Tangerang. Tapi sekali lagi banyak orang yang belum tahu Pendekar Cisadane itu,” ungkap Mimi Ch, penulis novel ‘Benteng Membara’, dikutip dari tangselpos.co.id

Surya belajar silat dari H Karim, salah satu tokoh ulama di Rawa Kidang. Selain H Karim, Surya juga belajar ilmu silat Cina dari Ko Beng Hok yang tinggal di Pekayon, tidak jauh dari Rawa Kidang.

Pendekar Cisadane ini adalah sosok yang sederhana dan peduli kepada rakyat miskin. Semasa hidupnya ia membela rakyat yang ditindas oleh Belanda. Dan seperti pendekar yang lain, sosok Surya selalu membawa golok dan memiliki ilmu kanuragan yang disegani oleh musuh-musuhnya.

Sekarang, kisah perjuangannya memang hanya cerita. Tidak ada yang tahu pasti kapan dan dimana Surya dimakamkan. Yang ada hanya sungai Cisadane, saksi bisu tentang kejadian masalalu.

Bukan hanya airnya yang melimpah, sungai Cisadane patut dibanggakan dengan kisah-kisah yang ada disekitarnya. Termasuk kisah tentang Pendekar Cisadane yang sudah melekat pada tim sepak bola Tangerang.

Komentar

Bergembira sebelum negara api menyerang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *