pembajakan

Pembajakan Buku: Parasit Klasik Tak Kunjung Berkesudahan

Pembajakan buku sebetulnya adalah parasit klasik yang tak kunjung berkesudahan. Pelakunya, selalu selalu berlindung dengan narasi heroik bahwa masyarakat harus mendapatkan akses buku lebih murah. Ilmu harus bisa diakses semua kalangan, dan seterusnya dan seterusnya—yang padahal, disamping perilaku ‘heroik taik kucing’ itu, ada pekerja-pekerja kecil kehilangan haknya.

Seperti yang belum lama terjadi, ada penyebarluasan buku dalam bentuk pdf tanpa izin dari penerbit maupun penulis. Buku pdf bajakan itu disebarluaskan secara berantai, dari satu orang ke orang yang lain. Sangat disayangkan, mereka yang mendownload tak mau lebih dulu mencari informasi legalitas dari buku digital tersebut. Mungkin, karena “peduli setan, yang penting gratis.”

Narasi-narasi pembajak memang diamini juga oleh banyak pihak. Bagi mereka, “Buku itu harusnya dijual dengan harga murah.” Ucapnya sembari meminum segelas kopi ekspresso dan ditemani kentang goreng hangat di cafe ternama kawasan menteng.

Selain pembajakan dalam bentuk pdf, tentu saja dalam bentuk fisik juga terjadi. Kejomplangan harga buku bajakan dan buku original memang membuat banyak pihak heran. Bahkan banyak juga masyarakat yang bertanya, kenapa bisa buku bajakan tersebut dijual dengan harga murah?

Pertanyaan tersebut, belum lama ini terjawab dari status facebook fanbase penulis Eka Kurniawan. Dalam statusnya, ia mengungkapkan bahwa “Bagaimana pembajak bisa membuat harga murah? Dua pilihan: 1) Dia memiliki alat produksi; 2) Dia memiliki kapital untuk menekan bahan baku—pada saat yang sama tidak membayar upah pekerja (penulis, editor, desainer, layoutter, dll.)”

Selain itu, Eka juga menambahkan sebuah gambar potongan tentang salah satu akun yang mengindentifikasikan dirinya sebagai Anarko Sindikalis. Dalam potongan gambarnya, akun tersebut berargumen kurang lebih menyatakan bahwa orang lebih banyak memilih buku bajakan karena harganya murah. Tanpa peduli hak cipta, kualitas kertas, yang penting isinya sama.

Terakhir dalam postingannya, Eka menambahkan “Anarko zaman sekarang ternyata juga mendukung alat produksi dan kapital serta ikut menenggelamkan kelas pekerja. Debat terbuka!”

Komentar terakhir dari Eka cukup telak untuk orang yang mendaku sebagai Anarko Sindikalis kelas kambing tersebut. Berani betul orang itu mendaku anarko sindikalis tanpa paham konsep ideologinya.

Sudah banyak sebetulnya komentar setipe dengan Eka Kurniawan. Muncul juga dari orang-orang besar. Namun lagi-lagi, pembajakan memang selalu jadi parasit. Sialnya, parasit itu tak kunjung hilang walau sudah coba dikikis oleh banyak orang.

Anggapan soal mengabaikan hak pekerja dalam proses terbitnya sebuah buku merupakan ironi. Apalagi, berlindung dibalik narasi “akses buku bacaan merata”. Sekarang begini, mana yang lebih sadis, mematikan penghidupan seseorang dari menulis buku maupun penerbitan atau tidak mendapatkan akses buku bacaan secara merata? Keduanya itu sama. Untuk itu kita sebagai masyarakat madani tentu jalan yang paling moderat adalah mendukung kerja keras para pekerja di industri perbukuan.

Baca juga: 4 Teknik Membaca Yang Efektif

Coba bayangkan saja satu judul buku yang diterbitkan itu mesti dilalui dengan berbagai tahap dan melibatkan banyak pekerja di dalamnya. Dan pembajak dengan seenak jidat merusak alur perbukuan itu dengan menerbitkan buku palsu. Pembajak bukan cuma merusak, tapi juga mencuri kekayaan intelektual penulis dan penerbit.

Jadi mulai saat ini tutup pasar buku bajakan agar tidak merajalela. Kita pun sebagai konsumen coba kembali sadar dan berhenti membeli buku bajakan. Sebab, mereka ada karena kalian yang masih sering membeli hanya karena murah. Sudah cukup pembajak saja yang dianggap murahan, apa kalian mau sebagai pembeli juga di cap murahan?

Komentar
Dhani Arief Wicaksono

Benci feodal namun juga bukan patriotik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *