Pelanggaran Hukum Terhadap Mereka yang Dituduh Anarko Sindikalis Tangerang

Kasus vandalisme berdalih gerakan Anarko Sindikalis ingin gulingkan rezim memasuki babak baru. Kini, sidang kedua atas kasus tersebut telah berlangsung di Pengadilan Tinggi Negeri Tangerang. Ada beberapa hal janggal dalam kasus tersebut, terungkap saat pembacaan eksepsi yang dilakukan para korban dituduh tersangka.

Penangkapan terhadap mereka yang dituduh Anarko Sindikalis terjadi pada 9 April 2020 di Kafe Egaliter, Tangerang. Rio, Riski Riyanto, dan Riski Julianda ditangkap dengan banyak pelanggaran hak. Kejanggalan pertama terjadi saat Rio meminta surat penangkapan yang sah pada polisi. Rio menceritakan bahwa dalam surat penangkapan itu, tidak tertulis identitas orang yang dituju.

Setahu saya, pelaksanaan tugas penangkapan harusnya memang memberikan surat perintah kepada orang yang hendak ditangkap. Dan isi dari suratnya harus memuat identitas orang yang disangka melakukan tindakan melanggar hukum. Tentu saja harus lengkap juga dengan uraian singkat kasus kejahatan apa yang dilakukan.

Isi surat penangkapan hanya menulis polisi yang bertugas dan kasus kriminal hukumnya. Bukan hanya itu saja, ketika terdakwa meminta kejelasan suratnya, polisi malah mengintimidasi dengan menodongkan senjata memukuli mereka dengan helm. Eksepsi yang dibacakan Rio adalah bagian dari menuntut haknya.

Pengamanan atau penahanan terduga memang harus didasari bukti yang kuat. Jika kita mengacu pada landasan hukum yang ada di KUHAP, polisi tidak boleh melakukan penyiksaan pada orang yang terduga melakukan kejahatan. Ini merupakan hak yang memang dimiliki oleh tahanan, mereka harusnya bebas dari Intimidasi, ditakut-takuti, dan mengalami kekerasan.

Dari awal saja rasanya kita tahu bahwa proses penangkapan yang terduga Anarko Sindikalis Tangerang itu tidak dilakukan sesuai dengan prosedur hukumnya. Selain itu, beberapa perlakukan tidak menyenangkan juga dialami oleh mereka. Saat di Kantor Polres Metro Tangerang, mereka di BAP (berita acara penangkapan) tanpa didampingi oleh penasihat hukum dan pemukulan pun terus berlanjut sampai Polda Metro Jaya.

Baca Juga : 5 Rekomendasi Buku Untuk Menemani Aktivitas Di Rumah Aja

Padahal ketika memang sudah ditangkap, mereka memiliki hak untuk menghubungi dan mendapat penasihat hukum. Serta kembali lagi, seharusnya mereka diperlakukan dengan baik tanpa mengalami intimidasi atau juga kekerasan.

Ketiga orang tersebut menceritakan banyak sekali kekerasan yang mereka alami. LBH Jakarta juga menuturkan ada banyak sekali hal janggal dalam proses penangkapan mereka. Shaleh Al Gifari, pengacara LBH serta pendamping hukum mereka menuturkan jika tidak ada info yang jelas terkait orang-orang yang sedang dalam penanganan ini.

Misalnya ketika sudah mendapat pemberitahuan keluarganya ada yang ditangkap, keluarga terdakwa mendatangi korban ke Polres dan malah mendapat kepastian jika kasus mereka sudah ditangani oleh Polda. Itu pun, menurut Shaleh, tidak ada info dan kejelasan yang karena sudah mendatangi beberapa kali ingin bertemu tapi tidak diberikan akses.

Dengan dalih pandemi COVID 19, polisi memutus akses tersebut. Padahal, menurut Shaleh, keluarga harusnya diberikan akses untuk bertemu. Meski akhirnya terduga bisa ditemui pada 5 Mei, tetap saja ada beberapa hak yang memang harusnya diberikan pada tersangka.

Pun ketika ditemui, tiba-tiba mereka sudah mendapat bantuan hukum atas penunjukan pengacara oleh polisi. Jika mengacu pada KUHAP, mereka berhak memilih kuasa hukumnya sendiri dan memang LBH Jakarta adalah lembaga hukum yang tersangka memang pilih. Pada akhirnya, polisi hanya menunjukkan pelanggaran hukum demi pelanggaran hukum yang mereka lakukan.

Kejanggalan yang mampu saya tulis mungkin hanya bagian kecil dari penderitaan yang para tersangka alami. Kita mungkin tidak bisa memutuskan sepihak bahwa apa yang mereka lakukan itu sepenuhnya benar atau salah. Tapi terlepas dari itu, paling tidak kita sadar satu hal: apa yang mereka alami dari proses penangkapan hingga sidang, ada banyak sekali hak-hak tersangka yang dicederai.

Baca Juga : Pendidikan Jasmani Dan Kesunyian: Puisi Yang Menggugah Kenangan

Komentar

Nggak bisa tidur kalau belum diucapin selamat malam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *