‘Pantai Sampah’, Julukan Penuh Harapan

Pantai adalah salah satu destinasi wisata yang disukai oleh banyak orang. Karena biasanya pantai selalu memberikan pemandangan indah untuk memanjakan mata. Seperti melihat sunset, mendengar riuhnya ombak, dan menikmati jenis-jenis wahana yang dimiliki.

Namun, tidak berlaku bagi ‘Pantai Sampah’ yang berlokasi di Desa Tanjung Burung, Teluk Naga, Kab. Tangerang. Beberapa waktu lalu saya sempat menyambangi Desa Tanjung Burung bersama dengan teman-teman saya. Kami bertemu dengan salah satu Tokoh Masyarakat: Pak Guntur. Setelah kami melakukan perbincangan, kami mendapatkan banyaknya permasalahan yang dialami oleh masyarakat di sana. Seperti: perekonomian, kebersihan dan kesehatan.

Dari perbincangan itulah, ‘Pantai Sampah’ menjadi fokus utama saya dari sekian banyak permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat Desa Tanjung Burung. Dari namanya saja sudah bisa kita bayangkan, tak terbesit sedikit pun hal menarik dari pantai tersebut. Dengan memiliki julukan berkonotasi negatif, pantai ini memang dihantui oleh puluhan ribu sampah. Bahkan sampah-sampah di sana bisa saja membentuk dataran dengan sendirinya.

Pengelolaan sampah yang kurang optimal memberikan dampak buruk bagi masyarakat di sana. Penumpukan sampah di bibir pantai membuat masyarakat resah selama bertahun-tahun. Karena sampah yang telah menumpuk mencemari kualitas air, meluapnya air, dan menghasilkan bau yang tak menyenangkan. Bagi sebagian masyarakat berprofesi sebagai nelayan dan memiliki tambak sangat dirugikan dari kehadiran sampah-sampah ini.

Baca Juga: Nostalgia Bersama Es Goyang; Jajanan Legendaris Yang Masih Eksis Di Tangerang

Salah satu warga yang memiliki tambak juga sudah luput tertimbun tumpukan sampah yang begitu ekstrim. Nelayan yang seharusnya pergi berlayar mencari hewan laut untuk menafkahi keluarganya, kini kesulitan karena kualitas air yang telah tercemar hingga mengakibatkan ikan-ikan sulit didapati karena mati terserang penyakit.

Persoalan lingkungan ini telah dirasakan oleh masyarakat sejak tahun 90-an. Mereka harus berjibaku satu sama lain untuk menghadapi kenyataan yang menimpa tempat tinggalnya.

Bahkan untuk pengunaan air dalam kehidupan sehari-hari, mereka hanya bisa mengandalkan air PDAM atau air jerigen yang biasanya berjualan keliling desa. Mereka tidak bisa lagi memanfaatkan air sungai yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk kehidupan mereka.

Dari masalah lingkungan ini, sangat rentan berdampak dengan perekonomian dan kesehatan masyarakat. Tak mungkin juga tumpukan sampah di sana bisa memberikan kenyamanan dan kelayakan hidup bagi masyarakat bukan?

“Makanya, kalo gitu sih masalahnya gampang. Edukasi masyarakat di sana dong, agar peduli terhadap lingkungannya sendiri!” ujar netizen.

Eitss, jangan langsung ambil kesimpulan gitu dong. Saya jelaskan yaa, tumpukan sampah yang telah menghantui mereka bertahun-tahun, hingga saat ini bukan sepenuhnya ulah masyarakat sekitar.

Sampah-sampah ini berasal dari kiriman aliran sungai Kali Cisadane. Sialnya, wilayah Desa Tanjung Burung berdampingan dengan aliran sungai, hingga mulut muara. Mengakibatkan kiriman sampah yang bukan berasal dari wilayah tersebut menumpuk.

“Persoalan lingkungan ini adalah salah satu kegagalan pendidikan yang berimbas terdahap kurangnya kesadaran masyarakat untuk mengelola dan bijak dalam penggunaan plastik (sampah).” ujar Pak Guntur.

Bagi Pak Guntur, pendidikan di jenjang manapun sangat berperan penting dalam menjaga lingkungan. Karena persoalan sampah bukan hanya sebatas “Buanglah sampah pada tempatnya.” Tapi bagaimana seharusnya masyarakat bisa disadarkan untuk mengelola sampah yang telah mereka pakai.

Contohnya, seperti kian semrawutnya tumpukan sampah yang berada di TPST Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. Masuk dalam kategori salah satu tempat pembuangan sampah terbesar di dunia, kini TPST Bantar Gebang kewalahan untuk menangani sampah yang kian meningkat volumenya dari tahun ke tahun.

Baca Juga: Reputasi Topi Boni Sebagai Identitas Perlawanan Di Tangerang

Kini masyarakat Desa Tanjung Burung hanya bisa berharap kepada pemerintah untuk fokus terhadap masalah yang telah mereka hadapi hingga saat ini. Karena mereka sudah kehabisan akal dalam menangani masalah yang telah hinggap tanpa ada solusi yang tak kunjung datang.

Komentar

Lagi pengen bercocok tanam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *