Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta: Bukan Kisah Romantis atau Cinta-cintaan

Di satu waktu Mas Puthut EA pernah bilang jika Penerbit Marjin Kiri adalah salah satu penerbit buku dengan brand yang cukup bagus. Saya sepakat. Buku-bukunya yang mengambil tema kekiri-kirian begitu diminati banyak orang, saat buku-buku bertemakan ‘kiri’ sangat sulit berkembang. Bukan apa-apa, negara ini agaknya masih takut dengan hasil pemikiran orang-orang kiri.

Tak hanya pada tema, Marjin Kiri menjadi bagus karena mempertahankan kualitas bukunya. Termasuk buku-buku terjemahan yang diterbitkannya. Kalau kata Mas Puthut, “beli buku Marjin Kiri sambil merem juga pasti bagus.”

Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta adalah salah satu novel terjemahan dari Marjin Kiri yang tidak mengecewakan. Meski tersisipkan kata cinta pada judul, nyatanya kita harus menggeser ekspektasi ‘cinta’ itu sementara dan digantikan oleh hal yang amat menegangkan, dengan berlatar cerita di hutan belantara Amazon.

Memang, rasa hati sempat merasa jengkel, karena sampai pada akhir cerita, saya tidak menemukan kisah romantis sama sekali. Ya, setidaknya saya merasa bahwa dont judge a book by its cover memang benar adanya. Novel setebal 133 halaman ini, kalau boleh saya bilang, berkamuflase dibalik kata cinta-cintaan yang banyak digandrungi oleh kalangan masyarakat. Tapi bukan berarti isinya buruk. Novel ini benar-benar membawa kita ke dunia Amazon yang liar. Memang sih, pak tua itu kerap menghabisakan waktu membaca kisah-kisah cinta dari buku yang diberikan oleh seorang dokter gigi. Tapi ya hanya sebatas itu.

Cerita-cerita cinta yang dibawakannya rata-rata berisikan hal yang sendu, sedih, suram namun berakhir bahagia. Mungkin, dia memilih cerita cinta untuk mengalihkan pikirannya pada kenangan cinta yang tidak berjalan indah di masa lalunya.

Pak tua itu bernama Antonioa Jose Bolivar Proano. Nama khas latin yang cukup panjang. Sebab, entah kenapa di dalam novel tersebut memang tidak dimunculkan nama pendeknya. Dan kerap saya jumpai nama panjangnya tersebut keluar untuk menggambarkan sosok orang tua ini. Ah iya, nama pak tua tidak sepanjang nama isterinya: Dolores Encarnacion del Santisimo Sacramento Estupinan Otavalo. Nama yang susah diucapkan untuk lidah-lidah orang Indonesia.

Di dalam cerita, pak tua menjadi satu-satunya orang yang tahu seluk-beluk hutan. Ia bersama walikota mencoba melacak keberadaan macan kumbang, hewan buas yang diduga telah membunuh seorang pendatang. Terkesan cukup aneh, ketika seorang walikota turut ikut terjun memburu hewan yang padahal hanya mengancam beberapa orang saja.

Menariknya, sang walikota seperti kehilangan wibawanya, saat harus mengalah pada kondisi hutan yang lebih menyeramkan daripada mengancam penduduk ketika meminta pajak. Ia mau tak mau harus menuruti semua arahan dari pak tua dan mengesampingkan kuasanya sebagai walikota.

Macan kumbang mengamuk bukan tanpa alasan, kucing besar itu sebenarnya hanya mencoba mempertahankan rumahnya yang mulai semakin terusik.

Boleh dibilang novel ini memang novel berunsur petualangan, bagaimana pak tua dan si gendut mencoba memburu hewan buas misterius yang sudah membunuh beberapa korban. Dari pak tua yang memang benar-benar tahu medan hutan tersebut.

Ketika membaca novel ini kita bisa tenggelam dalam situasi hutan yang penuh kewaspadaan. Lengah sedikit, nyawa terancam. Selain macan kumbang yang terus mengintai, hewan-hewan buas lainnya juga tidak mau terusik. Luis Sepulveda, sebagai penulis novel nya begitu benar-benar rinci menggambarkan situasi hutan.

Satu hal yang saya dapat dari novel ini bahwa ikan piranha ternyata tidak suka dengan getah karet. Ikan piranha menjadi buas jika mencium bau darah dan hanya hidup di sungai yang tenang. Suku Shuar, suku di Amazon sering menggunakan getah karet untuk menghindari ikan ini.

Sepengalaman saya, buku-buku terjemahan seperti novel agak susah dipahami. Pemilihan kata untuk mendukung konteks dalam cerita sangat berperan penting. Saya kira penerjemah buku ini berhasil memilih kata-kata yang tepat. Atau, memang dasarnya novel ini diciptakan akan yakin bagus, diminati banyak masyarakat. Dari itu semua sudah dibuktikan dengan diterjemahkannya ke dalam 30 bahasa.

 

Judul Buku     : Pak Tua Yang Membaca Kisah Cinta

Tahun Terbit  : 2017 (Edisi Kedua)

Penerjemah    : Ronny Agustinus

Penulis            : Luis Sepulveda

Penerbit          : Marjin Kiri

ISBN                : 978-979-1260-71-8

 

Komentar

Bergembira sebelum negara api menyerang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *