Ketika pajak buku dihapus

Seandainya Pajak Buku Dihilangkan, Apakah Bermanfaat?

Memang pajak buku lumayan besar, yang membuat harga buku itu sangat mahal—hal itu menjadi faktor masyarakat enggan untuk membelinya

Buku adalah jendela dunia, manusia bisa berkembang salah satu faktornya melalui bacaan. Buku sangat penting untuk menambah wawasan yang kita punya. Oleh karena itu gemarlah membaca—supaya kita tidak diperbudak karena kebodohan. Buku merupakan salah satu sumber informasi yang begitu akurat. Dalam masyarakat sekarang ini kecerdasan dan kemajuan suatu bangsa salah satunya dapat diukur dari banyaknya buku dan bahan bacaan yang dihasilkan serta dibaca oleh suatu masyarakat.

Di era sekarang—teknologi elektronik berkembang sangat pesat yang berdampak pada munculnya media bacaan yang bersifat elektronik. Namun demikian diakui bahwa buku tetap bertahan sebagai salah satu media yang efektif dalam rangka proses pembelajaran dan transfer ilmu pengetahuan kepada masyarakat.

Masih banyak penerbit buku  yang bertahan di era digital ini dengan meyajikan bacaan yang menarik dan digemari masyarakat—hal itu tak melunturkan para penulis untuk hanyut dalam arus teknologi—buku-buku tetap dicetak. Hasilnya banyak masyarakat yang mencari buku, padahal sajian secara elektroniknya sudah ada di internet. Saya pun dalam membeli buku merasa ada kepuasan tersendiri misalnya: mendapatkan tanda tangan penulis—walaupun sulit.

Memang pajak buku lumayan besar, yang membuat harga buku itu sangat mahal—hal itu menjadi faktor masyarakat enggan untuk membelinya. Oleh karena itu banyak masyarakat yang membeli buku bajakan. Sehingga banyak oknum yang melakukan pembajakan buku karena melihat kondisinya. Ya, secara ekonomi, buku bajakan memang lebih murah—toh isinya tetap sama dengan yang asli. Tapi pemikiran tersebut harus diberantas—sebab hal tersebut ‘menyakiti’ penulis. Siapa di dunia ini yang rela karyanya diperlakukan seperti itu? Kupikir tak ada—begitu pula anda.

Baca Juga: Perihal Etik dan Bisnis Pada Penerbitan Indie

Banyak kendala yang saat ini dihadapi untuk menjamin ketersediaan buku. Selain harga buku dirasakan masih tinggi oleh masyarakat—dan tingkat pendapatan masyarakat yang rendah—kurang meratanya distribusi buku ke seluruh pelosok tanah air membuat indonesai mempunyai peringkat 60 dalam urusan membaca.

Untuk menekan permasalahan tersebut serta mengurangi kesenjangan ketersediaan buku, pada tanggal 27 Agustus 2013 pemerintah telah mengeluarkan kebijakan di bidang perpajakan yaitu Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 122/PMK.011/2013 tentang Buku-Buku Pelajaran Umum, Kitab Suci, dan Buku-Buku Pelajaran Agama yang atas Impor dan/atau Penyerahannya Dibebaskan dari Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai.

Namun buku yang dibutuhkan masyarakat bukan soal buku tentang pengetahuan seperti itu melaikan buku buku yang bersifat hiburan yang bisa meningkatkan kegemaran membaca bukan menjejalin anak untuk membaca buku buku pengetahuan seperti buku sekolah. ketika sudah gemar membaca tentu pengetahuan kita akan bertambah dan bisa gampang untuk memulai untuk membaca bacaan-bacaan soal pengetahuan dan kita sudah dimudahkan karena sudah gemar membaca.

Dalam tahun politik ini ada salah satu paslon yang berjanji akan memberikan intensif bagi industri buku dengan menghapus PPN untuk semua jenis buku dan menjadikan pajak royalti buku bersifat final. Ini merupakan kabar yang sangat gembira untuk meningkatkan kegemaran masayarakat dalam membaca dan menghilangkan pembajakan buku.

Tentu siapapun yang akan terpilih nanti program ini harus dijalankan supaya buku yang dijual tidak mahal lagi. Murah, bermutu dan merata itu akan menjadi faktor agar masyarakat bisa hobi dalam membaca. Indonesia akan menjadi negara yang kuat karena masyarakatnya mempunyai wawasan yang luas.

Namanya juga tahun politik banyak janji yang digunakan untuk memperoleh suara saja, setelah terpilih seakan lupa dengan janji yang di tawarkannya. Sebagai pegiat literasi kita harus mengawal program ini—siapapun yang terpilih menjadi presiden nanti.

Terakhir kalo pajak buku tidak bisa dihapuskan sehingga harga buku tetap mahal—saya sarani untuk patungan sama teman untuk membelinya. Yang terpenting jangan membeli yang bajakan. Kalau tak punya uang sama sekali tapi ingin tetap membaca kalian bisa datang ke Rumah Baca Tangerang—semoga buku yang anda ingin baca ada di tempat kami.

“Jangan menyerah kepada keadaan, terus berjuang kalau itu baik untuk masyarakat sekitar dan diri sendiri”

Komentar

Banyak buku, sedikit nyender, tapi tidak oleng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *