Nostalgia Bersama Es Goyang; Jajanan Legendaris Yang Masih Eksis Di Tangerang

Seusai saya menjalani kegiatan organisasi di kampus, tibalah rasa lapar menyerang. Karena tak kunjung reda untuk ditahan, pada akhirnya saya mengambil keputusan untuk segera membeli camilan di Pasar Lama.

Sebagai tempat yang menjadi salah satu destinasi kuliner terfavorit di Tangerang, terdapat banyak sekali jenis camilan yang sangat lezat. Dalam perjalanan, saya menoleh pada satu jajanan yang sudah cukup asing, dan ingat betul kalau dulu tak kenal sakit walau pilek meradang, yang penting bisa mencicipinya terus setiap hari.

Sembari iseng, saya hampiri gerobak kecil yang berada di tengah banyaknya pilihan jajanan, dan itu adalah jajanan legendaris bernama Es Goyang. Memang, seiring berjalannya waktu jajanan legendaris tersebut makin sulit ditemui. Karena satu dan lain hal, bisa jadi karena faktor makin kesini sudah banyak jajanan yang semakin berinovasi dalam bentuk beragam.

Saya berkenalan dengan pedagangnya bernama pak Barini atau biasa dipanggil pak Beje. Ia mengaku telah berjualan sejak tahun 1973, dan tak pernah ada niatan sedikitpun untuk mengganti dagangan yang dijual. Bagi saya, sosok seperti beliau patut diacungi jempol dan mungkin sangat jarang ditemui, rasa tekun dan kegigihannya itu bisa jadi motivasi untuk kita semua yang mungkin dapat meniru keseriusan beliau dalam bekerja.

Sembari dibuatkan es goyang, ia juga sedikit bercerita mengenai pengalamannya selama berjualan. Sebelum sekarang ada di Pasar Lama ia sempat berjualan di daerah Pasar Senen, hingga Cempaka Putih. Dan beliau kerap berjualan di depan sekolah atau sesekali berkeliling di sekitaran Jakarta.

Lantaran dilanda pandemi, sekolah diliburkan sampai pada akhirnya ia menetap di Pasar Lama. Mungkin pilihannya itu adalah cara demi melihat peluang penghasilan atau memang ingin mengobati siapapun yang dulu semasa kecilnya gemar menikmati es goyang.

Baca Juga :  Literasi Pohon Pustaka: Sebuah Konsep Perpaduan Literasi Dan Lingkungan Hidup

Es yang masih dibuat dengan cara tradisional tersebut ternyata sangat menarik untuk kita ketahui. Dengan komposisi seperti, tepung kue, santan, gula putih dan varian rasa (tergantung rasa yang diinginkan) dicampurkan, lalu bahan-bahan yang telah dicampurkan dituangkan pada cetakan yang sudah disediakan di atas gerobak.

Nantinya bahan-bahan yang telah dituangkan pada cetakan tersebut akan membeku. Bukan karena mesin modern atau ada orang di dalam gerobak es goyang, tetapi karena di dalam gerobak terdapat bongkahan es balok besar yang membuat bahan-bahan tersebut bisa membeku. Setelah membeku dan terbentuk es, nantinya akan dilumuri coklat cair.

Nah, satu hal yang menarik mengenai jajanan tersebut bahkan jadi satu hal misterius bagi sebagian orang yang membelinya, kita akan disuguhkan pemandangan yang tak lazim. Si pedagang menggoyangkan gerobak es.

“Loh, kenapa gerobaknya harus digoyangkan begitu Pak?” Tanya saya kepada Pak Beje.

“Memangnya kamu dari kecil sampai sekarang belum tau kegunaannnya kalau gerobak ini digoyang?” Tanya kembali beliau seraya tersenyum.

“Itu dia Pak Beje, persoalannya saya sejak kecil hanya terkagum melihat aksi goyangan gerobaknya saja. Yaah, maklum sih, masa kecil saya yang terpikirkan hanya menikmati cita rasa es nya saja.” Jawab saya dengan polos nya.

Ia coba menjelaskan bahwa gerobak es tersebut digoyangkan, karena dari salah satu bahan yang ada di dalam Es Goyang terdapat santan. Jika gerobak didiamkan dengan waktu yang cukup lama tanpa digerakan, hasilnya es goyang jadi sangat beku dan kasar, kurang nyaman untuk dinikmati. Lain hal kalau sang pedagang menggoyangkan gerobak terus-menerus sampai dirasa sudah cukup pas untuk disajikan. Akhirnya es akan terasa lebih lembut.

Baca Juga :  Pinjam Buku Via Aplikasi Bobookit, Inovasi Digital Di Dunia Literasi

Jika ingin bernostalgia dengan jajanan legendaris tersebut, soal harga tak perlu khawatir. Cukup dengan mengeluarkan kocek sebesar 2000 ribu rupiah saja, kita sudah bisa mendapatkan satu batang es goyang dengan pilihan varian rasa; coklat dan kacang ijo. Ya, kalau dulu sih masih dibanderol gope atau bahkan 200 perak, sudah dapat satu. Dan yang jual juga tentunya masih banyak.

Kalau sekarang sih, ya paling tidak saya bisa rekomendasikan untuk yang suka nostalgia jajanan masa kecil macam es goyang, bisa kunjungi kawasan Pasar Lama, Kota Tangerang. Lumayan deh, bisa jadi pengobat rindu. Melihat bagaimana proses pembuatannya kembali, atau berbagi cerita dengan kawan atau gebetan di masa kecil. Bagi saya, tidak ada nostalgia paling indah selain menikmati kembali jajanan lawas yang dulu telah mewarnai hidup kita.

Komentar

Lagi pengen bercocok tanam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *