Nirwan Arsuka dan Perpustakaan yang Bergerak ke Pelosok Nusantara

Salah satu hal yang cukup saya suka dari rezim kali ini adalah karena pemerintah membuat satu kebijakan menggratiskan pengiriman buku. Tentu saja bukan pengiriman sembarangan yang digratiskan. Bukan pengiriman buku dalam transaksi jual beli, atau pengiriman buku dari seorang yang mencinta pada seorang yang dicinta. Bukan begitu.

Pengiriman buku gratis ini tersedia bagi semua pegiat literasi yang ingin mengirimkan buku pada taman baca masyarakat. Ada syarat, memang. Cuma perlu terintegrasi dalam sebuah gerakan literasi tingkat nasional bernama Pustaka Bergerak garapan Nirwan Ahmad Arsuka. Jika sudah TBM yang ingin Anda kirimkan buku tela terintegrasi, maka paket buku kiriman Anda akan diantarkan tanpa biaya dengan layanan PT Pos Indonesia.

Pustaka bergerak adalah sebuah gerakan yang diinisiasi dengan satu tujuan: menyuplai pelosok daerah dengan buku berkualitas. Selama ini, masalah akses adalah satu persoalan berat bagi pegiat literasi di daerah untuk mengembangkan budaya membaca di tempatnya. Apalagi, jika mereka berada di daerah yang tempatnya jarang dijangkau oleh bantuan negara.

Meski begitu, tidak banyak yang tahu jika ide membangun Pustaka Bergerak lahir dari aktivitas liburannya. Tentu bukan liburan yang biasa, karena kala itu Ia memilih pergi ke Bandung dengan menunggangi kuda. Di perjalanan itulah, sepanjang Pamulang hingga tempat tujuan Ia menemukan banyak hal yang menginspirasinya membangun Pustaka Bergerak.

Salah satu hal utama yang menggerakkan hatinya adalah keberadaan anak-anak yang Ia temui di sepanjang perjalanan. “Waktu saya ngobrol dengan adik-adik itu, memang menyenangkan. Tapi, saat saya mulai tanya sesuatu seperti bagaimana asal usul nama kampung yang mereka tinggali, mereka tidak bisa jawab. Rupanya, adik-adik itu kurang senang membaca,” ujarnya seperti dikutip dari Jawapos.com.

Setelah ditelisik, ternyata keadaannya bukan karena anak-anak tersebut malas dalam urusan membaca. Hanya memang, ketidaktersediaan buku di desa mereka membuat mereka jarang bersentuhan dengan bacaan. Dari perjalanan inilah kemudian muncul keinginan Nirwan untuk membuat sebuah perpustakaan yang bergerak.

Perlahan memang, tapi Nirwan telah berhasil mewujudkan keinginannya. Bermula dari sebuah Fanpage Facebook bernama Pustaka Bergerak, Ia mengajak warganet untuk mendonasikan buku-buku mereka kepada anak-anak di nusantara. Selain itu, dengan menggunakan fanpage ini, Ia bisa mengajak para donatur buku memantau perkembangan dari Pustaka Bergerak.

Dalam perjalanan Pustaka Bergerak, Nirwan dipertemukan dengan banyak pegiat literasi seperti Ridwan Amaludin dari Perahu Pustaka di Sulawesi Barat atau Ridwan Sururi dari Kuda Pustaka di Purbalingga. Dari pertemuan dengan para pegiat literasi inilah kemudian Pustaka Bergerak terus bergerak dan berkembang. Dan tahun lalu, mereka telah berhasil membuat satu gebrakan dengan menggandeng PT Pos Indonesia untuk menggratiskan pengiriman buku kepada seluruh simpul Pustaka Bergerak di seluruh nusantara.

Meski telah mencapai satu tahapan baik buat Pustaka Bergerak, Nirwan tidak puas begitu saja. Baginya, ada bantuan dari ekspedisi macam PT Pos ataupun Cargonesia, bukan itu yang menjadi patokan berhasil atau tidaknya gerakan literasi ini. Dan yang paling saya ingat dari sebuah pertemuan dengan Nirwan, adalah kata-katanya soal hal paling penting dari gerakan ini.

“Selama ada orang-orang yang mau bergiat dan mencintai buku, selama itu juga Pustaka Bergerak dapat berjalan. Gerakan ini ada bukan karena adanya perahu, motor, kuda, atau hal lainnya. Ia hadir karena masih ada orang yang mencintai buku dan mau bergiat demi kebutuhan masyarakat akan pustaka.”

Bukan siapa-siapa, bukan apa-apa