new normal

New Normal Gerakan Literasi

Menghadapi pandemi Covid-19, membuat manusia menyadari bahwa mereka tak setangguh apa yang dibayangkan. Akibatnya, manusia dipaksa merakit ulang tatanan kehidupan. Begitu lah kemudian, New Normal menjadi jalan agar kehidupan tetap berjalan.

Satu hal pasti dalam pandemi, semua sektor kena imbasnya. Pun ketika membincang gerakan literasi, yang suka atau tidak harus bertransformasi demi meneruskan eksistensi. Bukan cuma soal eksistensi, tapi barangkali itu jadi jalan satu-satunya untuk tetap bergerak di kondisi yang sulit.

Sebuah normal yang baru harus dilakukan. ‘Jalan-jalan’ yang tak biasa mulai jadi pilihan. Satu jalan yang sering ditempuh akhir-akhir ini adalah berinteraksi melalui platfrom digital. Ketika sebelumnya gerakan berbasis kegiatan semacam diskusi dilakukan dengan tatap muka langsung dan disertai gerombolan massa, kini harus benar-benar dilakukan dari rumah secara daring.

Melalui platform seperti Zoom, Jitsi Meet, atau Google Meet, gerakan literasi bisa tetap berdiskusi secara tatap muka walau hanya secara daring. Atau jika menyasar massa yang lebih besar, kita bisa menggunakan Instagram Live, Youtube Live, dan platform sejenis lainnya. Diskusi bisa dipandu oleh dua hingga tiga orang, lainnya menyaksikan dan bertanya via kolom komentar.

Semua platform tadi sebenarnya bukanlah hal yang baru diciptakan. Hanya memang, keadaan memaksa setiap orang untuk bertransformasi, pun dengan gerakan literasi. Kalau tak bisa bertemu darat, kenapa tidak dilakukan secara daring saja?

Selama pandemi ini, saya kerap kali mendengarkan diskusi atau ceramah online yang dilakukan oleh banyak orang. Misalkan diskusinya Bilven Sandalista di beragam akun instagram, atau ceramah Puthut EA via Discord secara langsung dari beranda Akal Buku. Dari rumah, saya tetap bisa belajar dan mencari hal baru.

Tidak hanya itu sebenarnya, saya juga sesekali melihat kegiatan mendongeng secara online. Misal seperti yang dilakukan Putri Khalidah. Pelatihan menulis pun kini bisa dilakukan via Grup Whatsapp, satu hal yang sepertinya dulu dianggap kurang menarik.

Saya kira, New Normal bukanlah satu hal yang harus kita takuti. Tak perlu dianggap sebagai tabu, karena suka atau tidak hal itulah yang harus kita jalani. Kini tinggal bagaimana gerakan literasi, terutama yang berbasis temu muka, bisa mencari formulasi baru agar tetap bergerak.

Mungkin, ke depannya, perpustakaan komunitas atau rumah baca bisa kembali membuka berandanya dengan memenuhi protokol kesehatan yang ada. Jika dulu ada banyak orang datang bahkan dari luar wilayahnya, kini persempit kegiatan untuk masyarakat sekitar saja dahulu. Ajak anak-anak serta pemuda sekitar untuk melakukan kegiatan bersama, sementara yang jauh difasilitasi lewat diskusi daring seperti di atas.

Baca juga: Bazar Buku Online, Sebuah Usaha Penyelamat Untuk Para Penulis Dan Penerbit

Untuk urusan pinjam meminjam buku, sementara ini kita mungkin tidak bisa banyak melakukan apa-apa. Paling ya hanya kepada tetangga sekitar dulu. Toh, sudah ada aplikasi iPusnas yang menjadi platform digital peminjaman buku dari Perpustakaan Nasional. Tinggal kita mau memanfaatkannya saja atau tidak.

Pada akhirnya, hidup atau matinya gerakan tetap bergantung pada orang-orang yang beraktivitas di dalamnya. Kalau memang siap untuk beradaptasi, bertransformasi, dan mencurahkan kreativitas di tengah pandemi, tentu gerakan tetap bisa berjalan. Kalau memang tidak mau melakukan itu, saya kira, memang sudah saatnya gerakan itu dimatikan saja.

Komentar

Bukan siapa-siapa, bukan apa-apa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *