Nasib Buruh Yang Dipaksa Kerja Melulu dan Tak Punya Waktu Baca Buku

Kehabisan waktu untuk membaca adalah salah satu alasan saya untuk lebih memilih terlibat dalam Komunitas Baca Tangerang. Selama ini memang waktu kerja saya boleh dibilang terlalu lentur. Tentu saja lentur dalam arti: kerjaan harus selesai, waktu pulangnya kalau perlu mesti mundur.

Saat ini saya bekerja di salah satu perusahaan swasta di Tangerang. Dengan mengikuti aturan waktu kerja selama 8 jam, dimulai dari jam 9 pagi sampai dengan jam 5 sore. Untuk urusan masuk kerja, terkadang saya lebih memilih untuk sering datang diatas jam 9 pagi.

Tetapi tunggu dulu, saya punya alasan kenapa melakukan hal itu. Coba bayangkan, hampir setiap hari saya harus pulang lewat dari jam seharusnya. Misal, harusnya saya pulang jam 5 sore. Tapi sampai jam 6, atau 7, malah kadang jam 10, saya masih harus menyelesaikan pekerjaan di kantor. Jadi ya, anggap saja, waktu ‘telat’ masuk saya sudah terganti dengan jatah waktu saya pulang.

Dan perlu kalian ketahui, dari semua keterlambatan saya sampai di rumah, tidak pernah ada hitung-hitungan lembur buat saya. Ya, semua jam kerja berlebih itu saya terima sebagai bagian dari loyalitas-tanpa-batas kepada perusahaan. Kalaupun ada tambahan penerimaan, palingan bonus-bonusan yang kami terima, itupun hanya setahun sekali.

Sebagai seorang pekerja, saya tahu bahwa ada yang salah dari pola kerja di tempat saya bekerja. Namun, sebagai orang yang membutuhkan penghasilan, saya tidak bisa banyak berbuat. Jangankan mendorong agar waktu lembur dibayarkan, minta jatah cuti saja sudah susah.

Beginilah kondisi paling nyata, yang saya alami sendiri, dari hubungan kerja tidak sehat di banyak perusahaan. Jam kerja yang melar, ketidakseriusan perusahaan untuk memberi kami waktu istirahat dan benar-benar mengorbankan waktu yang saya butuhkan untuk diri sendiri. Entah itu untuk pacaran, menikmati hidup, atau bahkan untuk sekadar baca buku.

Inilah salah satu masalah yang saya hadapi dalam hidup. Kehabisan waktu untuk membaca karena dipaksa kerja melulu. Setiap hari, rata-rata, saya sampai di rumah jam 8 malam. Ya paling cepat jam setengah 7 malam. Biasanya, sepulang kerja, saya memasrahkan diri ini untuk geletakan di kasur sambil memainkan gawai. Ya, walau sejenak, saya juga butuh untuk menghibur diri.

Kelar memainkan gawai, lalu makan dan membersihkan diri. Selesai membersihkan diri, kadang masih harus membuka laptop untuk mengurus beberapa pekerjaan. Begitu kelar, buka-buka gawai sebentar lalu tidur. Ya kadang buku sih, tapi biasanya jarang. Badan lelah dan kepala yang terbebani kerjaan membuat saya tidak fokus untuk membaca buku.

Paling memungkinkan, waktu saya membaca hanya ada di hari Sabtu ataupun Minggu. Itu juga dengan catatan, saya tidak memiliki agenda seperti kondangan atau jalan sama pacar. Belum lagi kalau harus ketiban sial, dipaksa masuk di hari Sabtu karena banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor.

Kesialan-kesialan ini lah yang paling memuakkan. Sudah dihisap keringat saya dari Senin sampai Jumat, kadang perusahaan tetap saja menghabisi energi saya tatkala di akhir pekan. Jika hal itu kejadian, maka weekend tidaklah menjadi weekend lagi. Pacar marah-marah karena saya tidak ada waktu, teman nyinyirin saya kerja mulu, tapi kaya mah kagak, yang ada badan kelelahan tidak punya waktu istirahat.

Karena hal-hal tidak menyenangkan seperti itu, maka pada May Day kali ini saya memutuskan untuk kembali turun ke jalan bersama teman-teman buruh. Untuk menyuarakan aspirasi saya yang dipaksa kerja melulu, dipaksa menjalani kerja yang loyalitasnya tanpa batas.

Buat rekan-rekan buruh yang senasib dengan saya, yang sekiranya bernasib lebih baik juga deh, saya ucapkan Selamat Hari Buruh Sedunia. Mari rebut kedaulatan agar kesejahteraan benar-benar datang pada kita. Atau paling tidak, mari kita ikut terlibat dalam perjuangan agar nasib bisa menjadi sedikit lebih baik.

Komentar
Mochamad Anthony

Bakar Kalori dan Berbahagia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *