Narasi Baru, Sebuah Persembahan dari Festival Literasi Tangsel

Festival Literasi Tangsel mencoba membangun sebuah budaya. Di setiap perhelatannya, mereka turut menerbitkan sebuah buku antologi yang berisikan beragam tulisan dari berbagai penulis. Setelah tahun lalu mengeluarkan buku Antologi Situ, Kota, dan Paradoks, mereka meluncurkan Narasi Baru sebagai buku edisi perhelatan keduanya.

Buku ini adalah kumpulan tulisan yang dari 80 penulis yang telah melalui proses kurasi. Narasi Baru, sama seperti buku tahun lalu, merupakan buku kumpulan 67 puisi, 18 cerpen, dan 1 esai. Hadirnya buku ini, setidaknya membuktikan kepada kita bahwa perhelatan Festival Literasi Tangsel memang diupayakan untuk menjadi wadah berkarya bagi para pegiat literasi, terutama mereka yang berada di wilayah Tangerang.

Seperti kata pengantar yang diberikan oleh bapak Mochamad Taher Rochmadi, “Buku ini menjadi aktual bukan hanya karena konten dan tema yang ditawarkan, melainkan menjadi data dan arsip penting bagaimana sebuah kota, di sebuah generasi mampu memberikan perhatian pada literasi”.

Buku ini sekaligus menjadi hadiah ulang tahun Kota Tangerang Selatan yang ke-10, sebuah sebuah hadiah bagi kota yang belum terlalu lama berdiri ini. Buku antologi ini sangat menarik untuk dibaca, apalagi di dalamnya terdapat 67 puisi yang bisa jadi akan dimusikalisasi seperti pada edisi pertamanya. Oh iya, musikalisasi buku edisi pertama tadi telah sukses membuat saya tautan untuk mengunduh mp3-nya.

Dari puluhan karya  yang ada, semua kata, sajak, cerita dibuat sangat menarik selalu ada makna yang bisa kita  dapat. Misal pada puisi karya Iman Budiman yang berjudul Pertemuan Kecil Angka Dan Kata. Sebuah puisi romantis yang membuat wanita mana pun akan tersipu & terharu mendengarnya. Malah, ketika membaca puisi ini saya langsung berangan-angan andai saja ada laki-laki yang mau membacakan puisi ini untuk saya sekaligus melamar saya. Sungguh aduhai.

Kemudian pada puisi karya Muhammad Bilal Al Farizy yang berjudul Tentang Seorang Guru Yang Menunjuk Lutut Kirinya. Ini adalah puisi tersingkat yang pernahsaya baca. Meski begitu, puisi ini memiliki arti yang sangat dalam! Nggak percaya? Baca aja.

Lalu ada puisi yang berjudul Batas Kecantikan karya Tri Wibowo. Setelah membaca puisi ini saya tersadar bahwa wanita di zaman sekarang meskipun sudah mempunyai body goals, pipi yang tirus, kamera ponsel yang bermega-mega pixel, tapi tidak pernah merasa cukup mereka masih harus membutuhkan memori eksternal.

Dan yang paling mengesankan, tentu saja esai Yang Sakral dan Yang Profan Persilangan Antara Tradisi dan Modernisasi dalam Tiba Sebelum berangkat karya Faisal Oddang. Satu-satunya esai yang masuk ke dalam buku ini, dan menjadi sebuah penutup yang epik dari buku dan gelaran yang juga epik

Membaca semua karya di buku ini, terutama puisi-puisinya, membuat saya tidak sabar menunggu puisi-puisi tersebut dimusikalisasi oleh para musisi Festival Literasi Tangsel. Semoga di tahun yang akan datang Festival Literasi Tangsel ini bisa melanjutkan tradisi: 1 festival terlaksana, 1 buku antologi terbit.

Judul buku     : Narasi Baru

Penerbit          : Festival Literasi Tangsel

Cetakan          : 2018

Halaman         : 216  hlm. ; 14,5 x 21 cm

ISBN               : 978-602-74995-5-3

Tahun terbit : 2018

 

Komentar
Nuryeti

Never stop learning, because life never stop teaching

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *