Minat Baca dan Rasa Penasaran

Kita terbiasa dihadapkan pada saran-saran klise untuk mendorong masyarakat membaca. “Biasakan sejak kecil. Sediakan waktu untuk membaca. Sosialisasikan minat baca kepada masyarakat secara konsisten,” begitu kira-kira ujaran klisenya. Tapi ujaran klise semacam itu tampaknya itu tidak lagi relevan dengan kondisi masyarakat hari ini.

Maka, izinkan saya memberikan cara baru dan menyegarkan, tentu saja dalam versi saya, untuk meningkatkan minat baca kita sendiri. Nah perkara minat, dan niat tentu saja, memang menjadi hal penting untuk menumbuhkan kesenangan membaca.

Menurut Pandji Pragiwaksono dalam salah satu videonya dalam segmen “MIKIR” , seseorang akan membaca karena ia terlebih dahulu menemukan minatnya. Seseorang yang memiliki minat terhadap sesuatu, akan menggali informasi sedalam apapun tentang minatnya.

Saya memiliki seorang kawan, Ia pecinta sejarah. Ia sangat berminat pada sejarah, terutama yang berkaitan dengan Perang Dunia II, Nazi, dan sejarah Eropa. Saking berminatnya terhadap hal-hal tersebut, kawan saya ini terus menerus membaca buku-buku yang berkaitan dengan Perang Dunia dan sejarah Eropa. Seolah-olah, oase rasa penasarannya tidak pernah kering.

Sementara saya sendiri memiliki minat untuk membangun bisnis. Selain itu saya juga berminat dalam ilmu sosial, pendidikan, dan puisi. Karenanya, saya selalu mencari-cari buku yang berkaitan dengan tema tersebut, menikmati setiap aliran kesegaran dari tiap kisah dan ilmu yang saya baca.

Jadi, apa kunci untuk membuat seseorang membaca? Tentu saja bukan sosialisasi tentang pentingnya membaca. Bukan pembiasaan sejak masa kecil. Bukan paksaaan dan dorongan dari guru-guru di sekolah. Dari minatnya itulah, kami menjadi gemar dan akrab dengan buku. Seakan membaca adalah sebuah kebutuhan yang tak bisa dilepaskan.

Setelah memiliki minat terhadap suatu tema tertentu, kemudian rasa penasaran bakal muncul dan membuatnya menjadi bergelora. Dan dari rasa penasaran itulah, orang bakal semakin menaruh minat tinggi terhadap sesuatu.

Sederhananya begini. Jika ada kecelakaan di jalan raya, orang-orang akan rela berhenti, meminggirkan keadaan sejenak, atau bahkan memperlambat kecepatan kendaraan mereka, hanya untuk melihat kecelakaan apa yang terjadi dan siapa yang jadi korban. Mereka tidak peduli kalau tindakan mereka menyebabkan kemacetan.

Itulah hebatnya rasa penasaran. Orang akan melakukan apa pun demi memenuhi rasa penasaran mereka, meski menghambat dan merugikan orang lain. Oh iya, ini dalam konteks adalah buku loh.

Ketika orang penasaran dengan sesuatu, mereka akan mencari-cari terus informasi soal minat dan rasa penasaran mereka. Melalui buku, artikel, berita di Internet, atau pun dari teman-teman dan keluarga, segala sumber akan mereka cari. Mereka bahkan bisa menjadi seorang pembaca, pendengar, atau bahkan penulis karena seringkali membaca dan mendengarkan informasi dari orang lain.

Komentar

Duta Baca Tangerang 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *