Mimpi Perempuan yang Patah Hati

Adakah satu kata untuk menggambarkan sebuah luka yang sangat dalam? Apa yang dapat menyembuhkan luka itu? Harapan dan mimpi. Ya. Mungkin Maya tidak bisa menemukan kata untuk menggambarkan lukanya. Tapi setidaknya ia bisa menjawab pertanyaan kedua.

Jiwa Maya hancur saat ia ditinggal lari oleh calon suaminya di hari seharusnya mereka menikah. Sepucuk surat mengabarkan kalau sahabatnya sendiri yang menggaet pria itu. Meski begitu, tamu undangan sudah terlanjur datang, makanan sudah dipersiapkan, dan orang-orang datang sambil menduga-duga riasan pengantin yang cantik. Namun seperti tatapan matanya, semuanya kosong bagi Maya.

Pernikahan batal. Maya berubah menjadi seorang pendiam di antara ocehan tetangga. Untungnya ia dilindungi oleh keluarga yang tangguh. Namun, jiwa yang terluka akan selalu terasa. Maya mendapati dirinya di rumah sakit karena percobaan bunuh diri. Tak jarang, ia mengurung diri di kamarnya dan baru tenang setelah menangis berjam-jam kemudian.

Penderitaan jiwa Maya berangsur pudar, setelah sebuah mimpi datang suatu malam. Dalam mimpinya, ia bertemu dengan seorang pria bertelanjang dada di pinggir pantai. Sosok pria itu seakan memiliki tali emosi yang kuat dengan dirinya.

Mimpi itu datang berkali-kali dalam tidur Maya seakan membuat suatu fragmen yang jelas bahwa pria itu nyata. Meski terkadang ia menyadari semua aspek dari mimpinya itu fiksi, namun satu nama daerah tempat tinggal pria itu, Pangandaran, terasa nyata. Karena penasaran, ia akhirnya kabur dari rumah menuju Pangandaran sendirian.

Tidak ada yang lebih gila dari mempercayai ilusi dalam hidup sendiri. Apalagi khayalan yang kita ciptakan sendiri. Maya menjadi salah satu orang yang termasuk gila tadi. Beberapa hari di Pangandaran tak ia temukan pria berwajah manis itu. Menginjak hari ketiga, ia merasa dipermainkan oleh mimpinya. Ia pergi ke ujung tebing dan menenggelamkan diri ke laut. Meskipun tidak mati karena ditolong oleh para nelayan, ia jadi tontonan masyarakat. Lalu salah satunya dari mereka menolongnya, Sayuri.

Sayuri mungkin jadi sebuah kunci akan semua mimpinya itu. Setelah bercerita panjang, akhirnya Sayuri sadar jika hidup akan sebegitu bodohnya. Pandangan perempuan tua itu menatap langit, terbayang anak laki-lakinya, Rana, kini sedang merantau ke Jakarta, mencari perempuan yang ada di mimpinya setiap malam.

Cerita patah hati Maya menjadi satu dari lima belas cerita pendek yang disusun sedemikian rupa oleh Eka Kurniawan. Pria asal Tasikmalaya ini menciptakan sudut pandang-sudut pandang baru atas kepercayaan pada sebuah mimpi. Ia mengajak semua tokoh agar berani bermimpi di atas ketidakberdayaannya, di atas sifat alamiahnya benda itu. Manusia, hewan, benda mati, diajak untuk berani bermimpi.  Namun ia lupa, setiap mimpi punya konsekuensi masing-masing yang terkadang bisa menyakiti diri sendiri.

Kapten Bebek Hijau mungkin dapat mewakili semua orang yang sedang tidak percaya diri, tepatnya tidak mengenal jati dirinya. Eka berhasil menguraikan gagasannya lewat tokoh fabel, sang bebek. Bebek yang tidak puas dengan bulunya yang berwarna hijau, berusaha untuk mengubah dirinya menjadi berbulu kuning emas. Sang bebek tidak menyadari jika warna tubuhnya yang hijau telah menyelamatkan hidupnya dari para pemangsa.

Sang bebek yang masih belia, banyak ingin tahunya, akhirnya harus mati tak lama setelah ia berhasil mengubah dirinya menjadi kuning emas.

Satu lagi keinginan gila yang diwakilkan oleh tokoh fabel lain yaitu pada Membuat Senang Seekor Gajah. Seekor gajah yang ingin sekali merasakan dinginnya lemari es, putus asa karena badannya tidak bisa masuk. Anak perempuan dan laki-laki yang mengetahui itu sudah kebingungan mencari akal.

Suatu hari mereka memutuskan untuk memoong-motong badan gajah agar dapat masuk lemari es. Percuma ia hidup jika tidak senang, ujar anak laki-laki ketika mereka menyadari jika sang gajah telah mereka bunuh.

Cerita pendek Eka Kurniawan memang tidak banyak menampilkan latar yang detail dan gambaran psikologis yang rumit, namun ia menawarkan satu per satu buah pemikirannya dengan ringan dan penuh renungan. Nampaknya Eka sangat paham bahwa pembacanya memerlukan jeda sebelum menikmati karya panjangnya yang lain. Tokoh yang dibuat begitu sederhana dan tidak berlebihan, sehingga dapat dengan mudah dipahami pembaca.

Sampai pada halaman akhir, Eka Kurniawan menyuguhkan kita pada suatu kenyataan bahwa keresahan hidup yang banyak dirasakan masyarakat zaman sekarang berawal dari harapan yang terlalu tinggi pada mimpi mereka sendiri.

Komentar

Suka membaca dan menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *