Menyoal Pandemi Covid-19: Indonesia Bisa Baca, Tapi Tidak Mengerti Apa Yang Dibaca!

Rasanya memang sangat bosan, lagi-lagi kita bahas soal pandemi. Bagaimana tidak bosan? setahun lebih kita terkurung dalam keadaan yang dikatakan pandemi. Berbagai media mainstream ataupun media sosial beritanya tidak lepas dari pandemi Covid-19. Segala bentuk kebijakan dan penerapan kita sudah taati, PSBB hingga PPKM acapkali sudah menjadi guyonan warga karena punya predikat level, layaknya makanan pedas.

Namun, bukan itu yang akan saya bahas. Sebab perihal kebijakan itu nampak sudah berlarut-larut. Yang mau saya soroti sekarang ini adalah keanehan dan hal tak lazim dari orang Indonesia akan menyikapi serta memahami apa yang mereka baca. Terutama di situasi pandemi sekarang ini.

Banyak yang gagal paham dalam memahami dan mencerna informasi. Memang betul, kita sebagai warga negara, sesuai dengan amanat undang-undang secara sah berkumpul, berserikat dan yang jauh lebih penting adalah diperbolehkan untuk mengeluarkan pikiran dengan lisan maupun tulisan. Namun dengan embel-embel ini, banyak orang yang menyalahgunakan dan berlindung di kata kebebasan bereksperesi.

Baca juga : Review Buku Jika Kucing Lenyap Dari Dunia: Esensi Menikmati Kehidupan Itu Penting

Akan tetapi menyangkut berita yang terus keluar dan tersebar ke berbagai media, terutama media sosial bukankah mesti kita saring—cerna kembali? Sebetulnya ada banyak sekali perihal gagal pahamnya masyarakat Indonesia untuk mengerti apa yang dibaca, bila saya runut dari awal mula kedatangan virus covid-19 di negeri ini hingga sekarang mungkin bisa jadi kaleidoskop. Kado yang bila kita buka kembali bakalan teringat akan masa-masa tersebut. Sayangnya itu adalah kejadian-kejadian yang kurang mengenakkan, atau bisa dibilang lucu. Sama hal nya, macam kebijakan pemerintah mengesahkan rancangan OMNIBUS LAW, pelemahan KPK, ataupun terkabulnya pengurangan masa tahanan koruptor. Ya, begitulah Indonesia ada saja tingkah oknum yang melatarbelakanginya~

Seperti isu yang berkembang satu ini, kalian pernah mendengar isu seputar susu kaleng berlogo beruang dengan kandungan isinya adalah susu sapi, dan ditambah lagi dengan promosi iklan bergambar naga? Susu tersebut dalam beberapa waktu kemarin sempat viral di dunia maya. Bahkan mendadak terkenal karena usut punya usut ada kandungan yang bisa menyehatkan paru-paru kita agar bisa menangkal virus corona.

Dan bahkan kita dipertontonkan dengan aksi panic buying masyarakat yang memborong begitu banyak susu kaleng tersebut. Ini adalah salah satu bukti nyata bila kita amati tentang kebodohan warga Indonesia. Soal paru-paru, dan obat untuk menangkal saya tidak ingin membahasnya lebih lanjut, sudah cukup dengan menggarisbawahi bahwa tidak ada saluran pencernaan lewat bersamaan dengan saluran pernapasan.

Belum sempat mereda di sana, lalu muncul kembali kegelisahan masyarakat Indonesia yang berpikir penting atau tidaknya divaksin. Kalau itu saya kembalikan lagi kepada kalian, sebagai warga negara Indonesia yang punya hak. Kita hidup di negeri yang demokrasi, dengan segala keputusan ada di tangan kita sendiri.

Yang mau kita ambil tajuknya di sini adalah masih banyak saja yang termakan hoax. Lagi-lagi masyarakat kita banyak yang salah kaprah, dengan begitu cepat menangkap berita palsu. Seperti salah satu kasus yang bila mana kita vaksin, nanti akan dimasukan microchip karena vaksin mengandung magnet, jadi koin bisa menempel pada lengan bekas suntikan.

Memang lucu beritanya, namun sial, berkat info hoax tersebut banyak yang merasa takut, mereka merasa paranoid yang bahkan merasa khawatir efek setelah disuntik. Istilah kecemasan ini mungkin bisa saja melampui apapun. Yang bahkan, tentang asal usul alien kelak menjajah bumi pun kalah pamor. Mereka berpikiran langsung bahwa segalanya akan dikontrol oleh satu sistem (new world order). Memang orang Indonesia cukup mengertikan berpikirnya langsung ke arah sana.

Mungkin kalau saya lempar jauh saat mulanya pandemi ini muncul bisa jadi bentuk akibat dari kebocoran laboratorium biologi yang ada di China. Atau jangan-jangan kita sedang dilanda perang dunia ketiga, dengan senjatanya sudah bukan menggunakan peluru, melainkan demi bisa menumbangkan jutaan nyawa cukup dengan menggunakan wabah virus pandemi seperti ini?

Saya rasa masyarakat Indonesia itu bukannya buta huruf atau ketertinggalan informasi, hanya saja mereka masih berkutat dengan kabar burung yang berhembus. Masih sering termakan berita yang tidak tau asal-usulnya dari mana seperti dua hal tadi, tiba-tiba muncul dari grup keluarga dan kirim sebagai pesan berantai.

Itu yang masih sering terjadi di sekeliling kita, dan mau sampai kapan warga negara Indonesia tersesat akan hal seperti ini, sampai pada akhirnya mungkin memilih enggan untuk vaksin. Saya di sini menekankan bukan keberpihakan sebagai orang yang menyokong gerakan vaksin dan lain sebagainya, akan tetapi pahami konteks tentang vaksin terlebih dahulu, itu lebih baik. Karena pada dasarnya penyuntikan itu adalah agar supaya mendorong imun kita.

Dan bahkan lebih baik untuk terhindar covid imbangi dengan olahraga, makan teratur, ya pada intinya terapkan pola hidup sehat deh. Dan jika masih bersikukuh untuk tetap terus terbawa arus berita yang masih simpang siur beredar mengenai pandemi covid-19 ini, saya cuma mau bilang agar lebih pantas, jika sehabis membaca diskusikan bersama. Bila itu salah, jadikan sebuah tulisan sebagai perlawanan.

Konsep itu saya rasa cukup membantu dan terkesan elegan, di jaman sekarang. Ketimbang salin dan sebarluaskan tanpa tau dasar dan maksud yang jelas. Saya pikir negeri ini pun sudah capek meladeni dan bertemu dengan orang-orang yang tidak jelas, macam hanya baca tapi tidak tau maknanya.

Fenomena seperti ini mungkin kalian sering temukan, ada banyak orang yang menyebarkan berita yang belum valid kebenaranya eh main disebarkan saja. Saat ditanya benar atau tidak, mereka jawab “Saya juga tidak tau sih, asal nyebarin aja” Ya tuhan,ternyata ada orang yang seperti ini. Sudah tidak heran ketika misleading information mudah sekali tersebar di Indonesia, ya orang-orangnya begini.

Belum lagi, ada orang yang sok paling tahu ketika menanggapi sebuah peristiwa. Saya pernah ada di dalam diskusi lucu, di dalamnya teman saya melontarkan argumen seperti ini kurang lebih “Udah lah, biarin aja kita Hard Imunity, gausah ada prokes lagi apa lagi vaksin-vaksin ga jelas itu. Kita kaya hidup normal aja tuh kaya Singapura”. Bujet, seketika kuping saya panas mendengarnya. Hard Imunity yang dimaksud tuh bukan seperti itu Pak Asep. Justru adanya vaksinisasi kan sebagai jalan menuju hard imunity. Bukan berarti kita dibebaskan melakukan kegiatan normal di masa pandemi ini.

Dari situ saya semakin yakin, ternyata memang kualitas penalaran seseorang sangat diuji sekali si masa pandemi seperti ini. Simpang siurnya arus informasi nyatanya membuat sebagian dari mereka tidak semakin kritis. Ada banyak faktor sebenarnya kenapa masyarakat tidak mampu menalar dengan baik informasi yang ada. Satu diantaranya kita ada di era post truth

BACA JUGA : Masih Ragu Vaksinisasi Karena Konspirasi

Di negara lain warganya sudah beranjak memikirkan cara menangkal varian covid terbaru. Jadi di Indonesia, saja yang masih sering termakan info hoax soal pandemi ini. Jadi, pada akhirnya Indonesia ya masih begini-begini saja. Masih banyak yang sibuk teriak prokes, tanpa tau lebih banyak pula yang teriak kelaparan. Menyikapi itu, kemana visi tanggung jawab pemerintah? Ada, atau hanya sebatas.

Komentar
Dhani Arief Wicaksono

Benci feodal namun juga bukan patriotik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *