Menjadikan Taman Sebagai Pusat Peradaban Umat

Dua hari lalu, saya melihat pamflet pengajian umum di sebuah masjid di Kota Tangerang. Pengajian tersebut menggunakan tema  Menjadikan Masjid Sebagai Pusat Peradaban Umat. Tema yang membuat saya penasaran apa yang akan dibahas di dalam pengajian tersebut. Tapi bukan berarti saya bakal mengikuti pengajiannya. Saya tidak suka mengikuti pengajian di masjid. Bukan berarti saya anti pengajian. Lebih tepatnya, saya sudah bosan dengan metode pengajian zaman sekarang.

Untuk menjawab rasa penasaran saya terhadap tema tersebut, saya mencari artikel-artikel terkait hal tersebut di internet. Dan inti dari tema tersebut adalah masjid sebagai pusat peradaban umat memiliki dwifungsi. Selain sebagai tempat beribadah, masjid juga berfungsi sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan.

Misal seperti Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi, yang memiliki perpustakaan di dalamnya. Banyak buku keagamaan ada di sana. Dengan adanya perpustakaan itu diharapkan umat mengetahui pemikiran-pemikiran tokoh islam. Selain Masjid Nabawi, masih bayak lagi masjid yang meniru konsep Seperti itu.

Pada masa pemerintahan khalifah Harun Ar-rasyid, Islam pernah mengalami masa-masa kejayaan dengan mempunyai perpustakaan terbesar pada masanya. Jadi, saya berkesimpulan bahwa, perpustakaanlah yang menentukan umat menjadi maju atau tidak

Menjadikan masjid sebagai pusat peradaban umat adalah sebuah keinginan yang baik. Dan sudah seharusnya seperti itu. Tapi melihat kondisi sekarang, terutama di Tangerang, langkah tersebut menjadi sangat sulit. Dan mungkin tidak akan terjadi. Saya bukan pesimis. Tapi saya lebih melihat bahwa taman lebih efektif sebagai peradaban umat.

Kita tahu kota Tangerang adalah surganya taman. Berdasarkan data dari dinas pariwisata dan pertamanan, Tangerang memiliki 155 taman. Jumlah itu akan bertambah banyak lagi untuk beberapa tahun ke depan. Kebetulan Walikota sekarang gila taman. Ini bukan pendapat saya loh. Sebagian masyarakat kota Tangerang memang akhir-akhir ini menyebutnya sebagai Wagman (walikota Gila Taman). Hal itu karena kegemarannya membangun banyak taman.

Menjadikan taman sebagai pusat peradaban umat akan lebih efektif menurut hemat saya. Melihat fungsi taman sebagai tempat untuk berekreasi, bermain, belajar, juga bersosialisasi.

Alasan saya bukan tanpa dasar. Satu bulan terakhir, saya mengunjungi berbagai macam taman yang ada di Tangerang. Dari kunjungan saya tersebut saya menemukan banyak kegiatan masyarakat Tangerang yang memanfaatkan taman.

Di taman prestasi, ada berbagai macam komunitas yang memanfaatkan taman untuk mengembangkan diri. Ada yang berlatih teater, berlatih skate, tek kwon do, dan sebagainya. Di Taman Gajah Tunggal berbeda lagi. Ada sekumpulan pegiat literasi yang menyediakan buku gratis untuk dibaca setiap malam minggu. Dan masih banyak lagi taman-taman yang dimanfaatkan untuk mengembangkan diri. Ke depannya saya harap, sih, banyak masyarakat yang memanfaatkan untuk pengembangan diri.

Melihat pemanfaatan taman di kota Tangerang, sudah selayaknya taman sebagai pusat peradaban umat menjadi hal tidak mustahil. Bukan saya sinis pada tema pengajian yang tadi kita bahas. Atau saya tidak percaya peran masjid yang seperti itu. Saya lebih melihat sisi masjid sebagai tempat untuk beribadah saja. Titik. Untuk pusat peradaban umat,  serahkan dan percayakan saja kepada Taman.

Komentar

Bergembira sebelum negara api menyerang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *