Menjadikan Anak Senang Membaca Buku

Orangtua adalah pendidik pertama kali ketika si anak terlahir di muka bumi. Kenapa dikatakan begitu? Ya, memang peran orangtua sangatlah sentral, akan terukur bagaimana karakter sang anak saat menginjak usia keemasannya. Dan Sudah sejauh mana orangtua melatih tumbuh kembang secara baik.

Namun, sebagian orangtua memilki caranya masing-masing dalam urusan mendidik. Saya pribadi kalau ditanya rumus pastinya, saya tidak tahu. Tapi sepengalaman saya, intinya adalah keterlibatan kita sebagai orang tua.

Membacakan buku bagi saya bukanlah proses anak tekun mendengarkan cerita yang dibacakan, tapi lebih kepada proses transfer informasi dari kita ke anak, dengan buku sebagai perantaranya.

Dalam urusan membaca buku, setidaknya peran dari orangtua, entah suami atau istri harusnya sedikit menerapkan kepada sang buah hati. Seperti saya pada Ghams, anak hasil karunia Tuhan untuk saya dan suami. Saat ini, Ghams sudah sampai tahap bisa dibacakan buku dengan anteng, tapi hal ini juga diawali dengan cuma buka-buka buku untuk lihat gambarnya.

Wajar kok anak lari saat dibacakan buku, karena memang rentang konsentrasinya masih pendek. Karena itu, dulu saya berusaha bagaimana agar membuat dia tertarik dengan buku, dan menyesuaikan dengan kemampuannya.

Awalnya, saya cuma bukakan buku buat dia, lalu menunjukkan ini gambar mobil, ini pesawat, ini apel. Lalu, perlahan saya tambahi informasinya. Ini baju warna hijau, ini roda bentuknya lingkaran, ini makanan rasanya enak (Ghams taunya makanan rasanya enak dan enak banget, haha).

Lalu, saya mulai main cari gambar sama dia. Sampai sekarang, Ghams suka banget permainan ini. “Ayo cari ayam!”, “mana hayoooo”, “Kucing mana?”, dan sekarang dia sering menirukan “mana hayoooo” saat jeda dalam prosesnya mencari gambar.

Saat dia mulai bisa bicara, saya ajak dia menirukan nama benda-benda yang dilihatnya. Lalu, ketika konsentrasinya sudah agak panjang dan kemampuannya mengolah informasi sudah lebih baik, saya mulai membacakan cerita yang ada di buku. Awalnya, saya tidak membaca saklek teks di buku, kalau kalimatnya masih terlalu kompleks untuk kemampuannya. Jadi ya ngarang sendiri aja, kadang malah pakai bahasa Jawa, karena di rumah kami memang bilingual Jawa-Indonesia.

Saat ini, Ghams sudah bisa dibacakan buku dengan anteng, tapi kadang dia sela juga saat dia menemukan sesuatu yang buat dia sangat menarik. Atau dia kadang tanya “Ini apa Bu?”, dan narasi bukunya harus disela dengan penjelasan.

Saya bacain buku apa aja sih ke Ghams, kadang fiksi, kadang ensiklopedi. Yang bingung saat baca ensiklopedia Tubuh Kita, Ghams nunjuk gambar jantung, lalu nanya “Apa ini Buk?’. Dyaaaaar, piye leh arep njelaske jal ke bocah 2,5 tahun.

Apakah Ghams rutin dibacakan buku? Tidak. Tapi karena ruang utama rumah kami yang kecil ini didominasi oleh rak buku, maka ya nggak bisa dipungkiri dia (mau tidak mau) akan berinteraksi dengan buku secara lebih intens. Jadi jangan heran, kalau Anda main ke rumah kami, Anda akan diminta membacakan buku oleh Ghams. Karena itu adalah salah satu cara dia untuk pedekate (pendekatan) dengan orang baru.

Kadang saya mikir, buku sebanyak ini, semua buat Ghams, akankah kelak ia membacanya? Atau justru dia akan jadi bosan dengan buku karena jadi hal yang terlalu biasa?

Entah, itu keputusan dia. Sebagai orang tua, saya tentu mengusahakan hal-hal yang saya anggap baik. Toh kalau nanti pada akhirnya buku-buku ini tidak dibaca Ghams, saya yakin  masih akan dibaca anak-anak lain dan membawa kebahagiaan.

Komentar
Diana Nurwidiastuti

Jangan sebut aku perempuan sejati jika aku hidup berkalang lelaki. Tetapi bukan berarti aku tidak butuh lelaki untuk kucintai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *