Menjadi Simpul, Menggerakan Asa: Membaca Simpul Hidup Aditia Purnomo

Menjadi Simpul Menggerakan Asa adalah sebuah buku seorang teman yang saya kenal beberapa tahun lalu: Aditia Purnomo. Ya, bagi orang yang mengenalnya, kehadiran buku ini tentu saja jadi sebuah kabar yang menggembirakan. Buku ini berisi kumpulan-kumpulan tulisannya yang sudah dimuat di berbagai media, tapi dengan kehadirannya yang disusun secara utuh, kita sebagai pembaca jadi dibuat serasa mudah karena cukup tertata.

“Buku aing bakal keluar, naskahnya lagi dikumpulkan” Kata Bang Adit, seingat saya, mungkin 2 bulan sebelum buku ini terbit. Saat buku ini keluar, saya amat antusias untuk membaca kumpulan cerita yang terangkum dalam buku ini. Khususnya berhasil mendapat tanda tangan sekaligus sebuah pesan “Kehilangan membuat kita sadar jika orang-orang yang masih ada itu sangat berharga.”

Sebuah pesan khusus itu nampak makin membuat saya semangat menamatkan buku yang cukup ringkas ini. BangDit—biasa saya memanggilnya, beliau kerap membicarakan semua yang dekat dengannya, seperti gerakan kiri, HAM, buruh, musik, sepakbola, serta tentang literasi. Semua memang sangat subjektif karena berasal dari sudut pandang beliau. Tapi percayalah, semua itu dikemas dengan sangat menarik dan jenaka, termuat dalam buku menjadi simpul menggerakan asa.

Pada Bab awal yang diberi Judul Simpul Mati, kita seperti mengetahui banyak sekali hal-hal yang nyatanya membuat kita parah, tentu saja jika kita sadar. Membaca buku ini di awal, seperti mendengar orang yang sangat terlihat marah dan geram terhadap banyak hal, semua dikemas dengan sangat menyindir. Mulai dari Lima Puluh Tahun, Jangan Ganggu Jagal, hingga Serikat Buruh Pertama di indonesia.

Cerita favorit saya di Bab ini adalah Belajar Menyelesaikan Tragedi Masa Lalu dari pendukung Liverpool. Tragedi Hillsborough kala Liverpool bertemu Nottingham Forest membuat pendukung Liverpool menjadi korban sekaligus kambing hitam. Tragedi itu sendiri memakan korban 96 orang yang semuanya suporter Liverpool.

Baca juga:  Menapaki Sejarah Buku Fisik Dan Kehadiran Buku Digital

The Sun merilis laporan yang menjadikan supporter Liverpool sebagai biang keladi karena memaksa masuk ke dalam stadion. Hal ini ditambah dengan laporan kepolisian yang menyebut jika banyak supporter yang mabuk dan membuat onar semakin mempertegas klaim bohongan tersebut. Setelah berita itu muncul, Kopites menentang The Sun dengan cara memboikot surat kabar dan terus berjuang mendapat keadilan sejak 1989.

Perjuangan itu tidak sia-sia, pada 2012, pemerintah Inggris yang kala itu diwakili oleh Perdana Menteri David Cameron menyatakan bahwa pendukung Liverpool tidak bersalah dan negara meminta maaf kepada seluruh korban dan keluarga. Bayangkan saja, dari bab awal kita sudah dijejali semangat perjuangan macam begini. Semua yang ada dalam diri penulis memang tentang perjuangan dan perlawanan.

Dalam Simpul Hidup lebih gila lagi cerita soal perjuangannya. Selain tentu saja menceritakan pergerakan penulis, bab ini juga berisi tentang pendapat yang sangat related saat ini. Seperti pada judul Negara Memaksa Kita Beribadah, Tapi Tak Membolehkan Kita Beribadah hingga Media Massa: Biang Politisasi Agama dan Politik Identitas adalah dua tulisan yang tersaji pada simpul hidup sangat dekat dengan kenyataan. Saya sangat menyarankan kalian membaca sampai 3 kali tulisan yang berjudul KKN sebagai Advokasi Sosial, karena tulisan itu sangat menyentil sekali. Catatannya ya satu, jangan baper aja ketika selesai membaca.

Dua Bab sisa adalah Simpul Jangkar dan Simpul Pangkal. Simpul Jangkar sendiri secara umum bercerita tentang buku dan literasi. Maklum, penulis juga adalah aktivis literasi selain daripada itu juga aktif sebagai Front Pecinta Indomie. Dan Simpul Pangkal bercerita tentang pengalaman pribadinya, jadi sangat random, karena pada Bab akhir penulis bercerita tentang teman, Puthut EA, musik serta film-film yang ia tonton.

Untuk kalian yang tertarik pada gerakan khususnya soal literasi, saya kira buku ini sangat cocok kalian baca sebagai referensi tambahan, karena menggerakan literasi, sebagaimana dijelaskan dalam buku ini, bukan cuma dan cukup menggelar lapak buku saja. Ya, selengkapnya kalian bisa baca sendiri saja, lalu simpulkan. Terakhir, satu pesan dari penulis yang bisa saya bagikan ke kalian: dengan berjuang, kita tidak sepenuhnya kalah.

Baca juga: Gerak-Gerik 3 Kepala Daerah Tangerang Kala Banjir Datang Di Wilayahnya

 

Penulis                 : Aditia Purnomo

Penerbit               : EA Books

Tahun Terbit         : 2019

Jumlah Halaman  : 216

Dimensi                : 13 x 19 cm

ISBN                      : 978-602-51695-7-1

Jenis Sampul         : Soft Cover

Brand                    : EA Books

 

Komentar

Nggak bisa tidur kalau belum diucapin selamat malam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *