Mengunjungi Sarang Big Bad Wolf di ICE BSD City

“BERSIAPLAH UNTUK MENYAMBUT BAZAAR BUKU TERBESAR! 29 MARET – 9 APRIL 2018 DI ICE BSD CITY.”

Demikian yang tertulis pada status facebook milik Big Bad Wolf Books. Aku tidak pernah absen untuk ikut berjejalan dan memilih buku-buku dalam acara ini. Aku mengincar buku-buku novel dan kesehatan populer berbahasa Inggris yang dijual sepersekian kali dari harga aslinya.

“Mau belanja buku ya, Mas?” tanya supir taksi pada suamiku.

Suamiku mengangguk. Lalu Supir Taksi tersebut menceritakan bahwa sejak hari Kamis dia sudah mondar-mandir mengantarkan banyak orang untuk pergi ke Big Bad Wolf Books, mereka  yang datang tidak hanya  dari Tangerang saja, banyak juga dari luar Jabodetabek, kebanyakan dari mereka membawa koper-koper besar untuk mengangkut buku hasil belanjaannya.

Ketika sampai di pintu keluar Hall 10 gedung ICE BSD City, parkiran sudah penuh dengan kendaraan pegunjung, lalu kami masuk melalui pintu hall 8. Di depan pintu hall 8, dibangun gapura yang sangat besar bertuliskan “BBW JAKARTA” untuk menyambut pemburu buku yang datang. Agak lucu sebenarnya. ICE BSD City ini, terletak di Tangerang Selatan. Sudah kota tetangga. Berjarak 41 km dari Jakarta Pusat. Mungkin karena Jakarta lebih ‘menjual’ dari Tangerang Selatan. Mungkin.

Saat memasuki ruangan,  perhatian kami tertuju pada jutaan buku yang tertata memenuhi seluruh ruangan. Di pojok sebelah kanan, disiapkan foodcourt. Kalau-kalau ada yang kehausan dan kelaparan karena lelah berkeliling.

Tujuan kami yang pertama adalah tumpukan novel berbahasa Indonesia. Aku dan suamiku khusyuk memilih buku yang akan kami masukkan dalam keranjang belanja. Mata suamiku berbinar-binar ketika menemukan buku komik Koel, yang sudah lama dicarinya. Sedangkan aku sibuk memilih-milih buku fiksi sejarah.

Puas memilih buku novel, aku beranjak mencari buku-buku kesehatan populer berbahasa Inggris. Dibandingkan dengan buku-buku arsitektur yang disediakan dalam lebih dari 5 blok, buku-buku kesehatan hanya disediakan 2 blok. Setelah memilih-milih, pilihan jatuh pada buku-buku karya Patrick Holford yang berjudul Boost Your Immune System dan Food is Better Medicine than Drugs yang dijual dengan harga 65 ribu dan 75 ribu (ini informasi penting banget karena harga di Amazon 15.99 Poundsterling yang kalau dalam rupiah bisa ratusan ribu).

Buku-buku anak, baik dalam bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris buanyak sekali tersedia di bazar buku ini. Buku aktivitas dan buku cerita anak berderet dari ujung ke ujung. Bahkan ada juga yang berbahasa Mandarin! Aku jadi berfikir, mungkin memang target dari acara ini adalah orang tua yang mau mendekatkan anaknya dengan buku.

Yang menarik, tatanan buku-buku di Big Bad Wolf ini sangat teratur jika dibandingkan dengan bazar-bazar buku di tempat lain. Panitia acara juga memberikan buku yang diberi stiker SAMPLE untuk dibuka-buka dan dilihat isinya. Harapannya, orang-orang tidak membuka segel bukunya kalau tidak berniat membelinya. Tapi adakah yang pengunjung yang membuka segel buku? Tetep ada sih.

Kemudian melalui spanduk-spanduk, pengunjung diminta untuk tidak meletakkan sembarangan buku yang tidak jadi dibeli. Mereka meminta untuk mengembalikannya ke tempat semula. Tapi adakah yang menumpuk begitu saja buku yang tidak jadi dibeli dan tidak mengembalikan buku ke tempat semula? Tetap ada. Di beberapa titik yang mejanya sudah kosong dan belum diisi dengan buku yang baru, teronggok buku-buku dari berbagai kategori yang diletakkan sembarangan.

Setelah lebih dari 2 jam berkeliling, aku dan suamiku kembali memilah buku yang bisa dikembalikan. Sebenarnya sih, kalau bisa kami ingin memborong banyak sekali buku. Namun karena keterbatasan isi dompet, kami terpaksa benar-benar berhitung. Panitia menyediakan lebih dari 40 kasir pembayaran untuk acara itu. Syukurlah pagi itu walaupun sudah banyak pengunjung, kami tidak mengantri lama untuk membayar.

Dalam perjalanan keluar ruangan, kami melewati buku-buku yang dibeli untuk donasi. Jika ada yang membeli 2 buku untuk donasi, akan mendapatkan minuman kemasan. Kabarnya, buku-buku itu akan disumbangkan ke daerah terpencil. Namun, aku melihat buku-buku tersebut kebanyakan berbahasa Inggris. Semoga di lokasi tujuan sumbangan ada orang-orang yang akan membacakan buku-buku itu untuk anak-anak. Aku banyak melihat buku-buku berbahasa Inggris di beberapa perpustakaan komunitas hanya teronggok di pojokan ruangan karena anak-anak belum mengerti Bahasa Inggris dan perugas perpustakaan tersebut juga tidak bisa berbahasa Inggris. Sayang.

 

Komentar
Meita Eryanti

Anggota hore-hore di forum perpustakaan Jabaraca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *