Mengulas Sosok Andrea Hirata

Masih ingat film Laskar Pelangi? Iya, film yang masuk daftar film terlaris di Indonesia itu diperbincangkan banyak orang ketika awal kemunculannya. Adaptasi dari Novel dengan judul yang sama, seakan mengajarkan kita tentang arti mimpi. Bukan hanya filmnya, Novelnya pun laku keras. Bahkan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Tapi apakah kita tahu tentang sosok penulis Novel dan film yang sempat menggemparkan itu?

Aqil Barraq Badruddin Seman Said Harun atau lebih akrab di telinga kita dengan nama Andrea Hirata adalah penulis Laskar Pelangi dan karya yang lain. Hirata lahir di Gantung, Belitung Timur, Bangka Belitung, 24 Oktober 1976. Hirata memulai pendidikan tinggi dengan gelar di bidang ekonomi dari Universitas Indonesia. Andrea lebih mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademisi dan backpacker. Di 11 Patriot (novelnya) ia menceritakan perjalanannya menjadi seorang Backpacker yang menjelajahi Eropa sampai Afrika. Ku beritahu, teman, satu mimpinya yang lebih gila adalah Andrea ingin tinggal di Kye Gompa, satu desa di Himalaya.

Laskar Pelangi lahir pada tahun 2005, sebuah novel yang membawanya dikenal lewat mahakarya nya itu. Novel yang bercerita tentang ironi kekurangan akses pendidikan saat ia kecil ini menggambarkan perjalanan masa kecilnya. Hingga lahir trilogi lainnya Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov. Diikuti karya lainnya : Padang Bulan dan Cinta dalam Gelas ( 2010) , 11 Patriot (2011) , Laskar Pelangi Song Books ( 2012) , Ayah ( 2015), Sirkus Pohon ( 2017) hingga kejutan lain yang katanya akan lahir di tahun ini.

Andrea Hirata sendiri menulis dimulai ketika dirinya masih bersekolah di SD Muhammadiyah di kampungnya. Inspirasi menulis timbul ketika dirinya baru menginjak kelas 3 SD. Saat itu dia melihat perjuangan seorang gurunya yang begitu mulia dalam mendidik dirinya dan teman-temannya. Penulis berambut ikal ini kemudian berikrar dalam dirinya bahwa suatu saat dia akan menulis kisah perjuangan Bu Muslimah. Sejak itulah ia mulai menulis ide-idenya diatas kertas.

Apa yang telah dicapai Andrea Hirata setelah memutuskan menjadi penulis tentu bukan sebuah hal mudah. Dan tentu, penulis tak bisa dipandang sebelah mata. Jika teman-teman sudah membaca karya-karya nya, ada hal yang selalu melekat dalam dirinya. Ya, modal kecerdasan yang ia miliki mampu membuat narasi-narasi yang bisa kita cerna dengan mudah. Ia sempat menolak disebut sastrawan meski berbagai penghargaan sastra telah ia terima.

Hal lain yang selalu saya ingat jika mendengar nama Andrea Hirata adalah motivasi. Ia begitu amat termotivasi menulis kisah gurunya, teman-temannya dan tentu kisah perjuangan Ayahnya (saya merokemendasikan teman-teman membaca 11 Patriot untuk cerita soal ayahnya) . Ia, bahwa bermimpi itu harus punya motivasi. Sekarang, lihat, berapa banyak orang yang terinspirasi olehnya atau menulis tentang kisahnya (seperti saya sekarang ini) . Ada banyak!

Kecintaannya pada sastra membuatnya mendirikan Museum Kata yang terletak di Jalan Laskar Pelangi, Gantong, pulau Belitung yang diresmikan pada November 2012. Museum ini buka pukul 10:00 hingga 17:00 , jika sedang berkunjung ke sana, rasanya kurang jika tak berkunjung ke museum kata. Di dalam museum tersebut, pengunjung bisa menjumpai  ruanganan yang diberi nama sesuai tokoh karya tersebut.  Ada Ruang Ikal, Ruang Lintang, Ruang Mahar yang diisi sesuai karakter tokoh.

Diakhir saya ingin mengutip salah satu kalimat dalam novelnya “Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu” . Pesan ini untuk kita semua, untuk semua sang pemimpi yang terinspirasi oleh Andrea Hirata.

Komentar

Nggak bisa tidur kalau belum diucapin selamat malam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *