Menghidupkan Komunitas Seperti KataKerja

Taman baca masyarakat atau komunitas literasi memang identik sebagai penyedia bahan bacaan dan alternatif perpustakaan. Tapi jika komunitas literasi hanya menyediakan bahan bacaan, apakah literasi akan berkembang?

Pertanyaan tersebut sekilas terpikir oleh saya yang saat ini juga tengah menjalankan komunitas literasi. Bagaimana komunitas literasi tetap hidup dan menjawab kebutuhan masyarakat di sekitar, itu menjadi pekerjaan rumah yang harus dikerjakan. Saya sepakat jika komunitas literasi tidak hanya menyediakan bahan bacaan atau tempat peminjaman buku. Lebih dari itu, komunitas literasi bisa berbuat lebih dan bisa lebih hidup dengan mengadakan kegiatan-kegiatan yang sekiranya relevan.

Berbicara tentang kegiatan apa saja yang bisa dilakukan komunitas literasi, acuan saya jatuh kepada salah satu komunitas literasi di Makassar bernama Katakerja. Di bawah bimbingan Aan Mansyur dan kawan-kawannya, komunitas literasi ini telah berdiri sejak 4 tahun silam dan hingga sekarang telah sukses banyak melangsungkan berbagai macam agenda. Jauh sebelum Katakerja berdiri, sebetulnya Aan Mansyur telah mendirikan Ruang Baca Biblioholic. Namun, karena konsep perpustakaannya kurang tepat, maka komunitas tersebut terpaksa diberhentikan dan kemudian berdirilah Katakerja.

Baca Juga: Nirwan Arsuka dan Perpustakaan yang Bergerak ke Pelosok Nusantara

KataKerja mampu bertahan karena  seringnya mengadakan kegiatan mingguan dan bulanan, dari mulai kegiatan diskusi hingga kegiatan seni. Komunitas ini pantas di cap sebagai ruang kreatif yang bisa digunakan banyak orang untuk belajar banyak hal.

Komunitas KataKerja adalah salah satu organisasi di bawah naungan Komunitas Ininnawa yang membawa isu-isu transformasi sosial. Dan Katakerja difungsikan sebagai satu lini yang membawa isu-isu literasi.

Perpustakaan Katakerja terbilang unik. Dengan dekorasi yang artistik, para pembaca di sana akan dimanjakan dengan hiasan-hiasan dinding yang menarik dan tata letak ruang yang nyaman untuk membaca ataupun diskusi.

Berlokasi di TN Wesabbe C/64 Makassar, Katakeja cukup dekat dengan Universitas Hasanuddin, Makasar. Karena lokasinya yang cukup dekat dengan kampus, maka komunitas literasi ini sering sekali dikunjungi mahasiswa dan menjadi tempat belajar menyusun penelitian. Di samping itu juga, karena kegiatannya yang cukup bervariasi.

“Bukan bukunya yang utama, tapi kegiatannya.” Aan mansyur

Koleksi buku di Perpustakaan Katakerja terbilang lengkap mulai dari buku anak-anak, sastra, filsafat serta masih banyak lagi. Namun, Katakerja hidup bukan karena perpustakaannya yang mengoleksi banyak buku, melainkan karena kegiatan-kegiatannya.

Baca Juga: Ketika Para Babi Memimpin Revolusi

Kegiatan di Katakerja cukup banyak. Mulai dari baca puisi, panggung musik hingga kelas kreatif. Nah, untuk kelas kreatif ada kelas menulis, kelas penelitian hingga kelas kerajinan tangan. Apa saja bisa dipelajari di sini. Setidaknya, mereka berusaha menyediakan apa yang dibutuhkan orang-orang di sana. Ketika ada orang yang ingin belajar sesuatu,  maka akan dicarikan media dan pengajarnya.

Ada salah satu kegiatan yang menarik perhatian saya, bertukar buku. Kegiatan tersebut dilakukan dengan membawa buku layak baca untuk orang lain dan membungkusnya dengan koran bekas. Ketika orang yang hadir saling membawa buku, mereka akan saling tukar menukar dengan cara menutup mata.

Dengan kegiatan yang lumayan banyak, Katakerja terlihat sangat hidup. Untuk komunitas-komunitas literasi, sekelas Katakerja bisa menjadi contoh bagaimana komunitas literasi bisa terus hidup. Ya, minimal mengadakan kegiatan seperti diskusi, bimbingan belajar atau lokakarya.

Tapi perlu diingat kembali, ketika menjalankan sebuah komunitas literasi, yang terpenting itu bukan buku dan perpustakaannya, melainkan kegiatan dan orang-orang yang ada di dalamnya.

Komentar

Bergembira sebelum negara api menyerang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *