Mengenal Lebih Dekat Pada ‘Si Jalang’ di Hari Puisi Nasional

Si Jalang, meski hidupnya yang begitu singkat, segudang karyanya bakal selalu dikenang. Ia adalah simbol dari sebuah kata yang bisa bergerak, menggerakkan, kadang juga begitu liar. Puisinya yang berjudul ‘Aku’ sangat menggambarkan tentang betapa dirinya dan kebebasan saling pacu dalam tarikan nafas panjang.

Tokoh fenomenal asli bernama Chairil Anwar ini adalah satu diantara sekian penyair yang cukup mentereng di angkatan 45. Ia dan karya-karyanya dianggap cukup berpengaruh pada masa itu. Wajar saja, sosok muda pemberontak, berambisi kebebasan, ketidaksukaan atas keteraturan membuatnya begitu berbeda.

Bagi beberapa sahabatnya, ia sosok yang menjengkelkan—namun, tak ada alasan untuk tidak memaafkannya. Kepalan Tangan H.B. Jassin adalah salah satu bukti yang pernah mendarat di wajah Chairil. Saat itu, ia tak bisa menerima kritik dari H.B. Jassin tentang karyanya yang dianggap menyandur. Chairil saat itu meracau di saat sosok H.B. Jassin sedang bersiap menuju pementasan.

Lalu, selanjutnya ada Subagjo Sastrowardoyo. Sosok yang sering menjadi korban tingkah menjengkelkan Chairil juga. Entah kenapa ketika menyebut nama Chairil baginya sekilas teringat kembali kenangan menjengkelkan. Bebarapa koleksi bukunya, kerap jadi santapan pinjaman yang tak jarang berujung di tempat loak.

Baca Juga : PSBB? Kebijakan Setengah-Setengah Yang Diusung Pemerintah

Bagi para sahabatnya, perilaku seperti itu sudah menjadi maklum berkelanjutan. Kelenturan sosok Chairil dalam bergaul adalah bekalnya untuk melanjut hidup. Se-entengnya ia sebut bahwa rumah sahabatnya juga rumahnya. Ya, sebuah siasat atau senjata agar setidaknya peria berjuluk Si Jalang bisa terus menjalani hidup.

Sejak umur belasan tahun pun, cita-citanya untuk menjadi seniman sudah tertanam. Beruntung bahwa Chairil kecil adalah sosok yang punya akses lebih terhadap buku. Ayahnya juga salah satu pembaca dan pengoleksi buku. Ia pun punya akses lebih dalam menempuh pendidikan sekolah.

Chairil kecil saat itu sudah merasa puas. Baginya, buku-buku yang disantap  sudah lebih dari cukup untuk bekal menjadi seniman. Ia memutuskan untuk tak melanjutkan sekolah. Jalan untuk seniman begitu kuat menariknya.

Dalam urusan percintaan, ia cukup layak disebut sebagi pujangga. Walau, tak semua jalan cintanya berakhir mulus. Bahkan ia sempat mengalami perceraian dalam pernikahannya. Perjalanan cintanya yang berliku justru membuat kharismanya begitu menonjol.

Namun, jiwa-jiwa bergeloranya harus terhenti saat umur sedang matang-matangnya. Tepatnya pada tanggal 28 April 1949, di usia 27 tahun, saat itu jiwa mudanya terpaksa padam. Ia pergi, menuju kebebasan abadi. Sepanjang hidupnya, sudah lahir tulisan 70 sajak asli, 4 saduran, 10 sajak terjemahan, 6 prosa asli, serta 4 prosa terjemahan.

Terlepas dari hidupnya yang terlampau begitu singkat. Ia pergi, meninggalkan semangat yang masih berkobar. Chairil yang akan selalu kita kenang adalah Chairil muda, bersemangat, dan berani. Dari situ sejak kepergiannya ia begitu dihormati dan negara menobatkan bahwa tanggal tersebut dijadikan Hari Puisi Nasional hingga kini. Dikumandangkan karya-karya puisi miliknya, dirayakan dengan khidmat oleh beberapa simpul pegiat seni dan sastra, ditutup dengan harapan dan kemajuan agar puisi bisa  dipandang oleh negara. Sebuah seni sastra yang bebas tanpa perlu kekangan dari siapapun dan darimanapun.

Bila ingin merasakan sosoknya lebih dekat lagi, mari kita ingat beberapa puisinya yang begitu fenomenal. Termasuk puisi yang mengakibatkan dirinya mendapatkan perhatian khusus dari pemerintahan Jepang saat itu.

 

Baca Juga : Kooong: Tak Ada Yang Lebih Berharga Dari Sebuah Kesederhanaan

 

Siap-Sedia

Tanganmu nanti tegang kaku,

Jantungmu nanti berdebar berhenti,

Tubuhmu nanti mengeras batu,

Tapi kami sederap mengganti,

Terus memahat ini Tugu,

Matamu nanti kaca saja,

Mulutmu nanti habis bicara,

Darahmu nanti mengalir berhenti,

Tapi kami sederap mengganti,

Terus berdaya ke Masyarakat Jaya.

Suaramu nanti diam ditekan,

Namamu nanti terbang hilang,

Langkahmu nanti enggan ke depan,

Tapi kami sederap mengganti,

Bersatu maju, ke Kemenangan.

Darah kami panas selama,

Badan kami tertempa baja,

Jiwa kami gagah perkasa,

Kami akan mewarna di angkasa,

Kami pembawa ke Bahgia nyata.

Kawan, kawan

Menepis segar angin terasa

Lalu menderu menyapu awan

Terus menembus surya cahaya

Mamancar pencar ke penjuru segala

Riang menggelombang sawah dan hutan

Segala menyala-nyala!

Segala menyala-nyala!

Kawan, kawan

Dan kita bangkit dengan kesedaran

Mencucuk menerang hingga belulang.

Kawan, kawan

Kita mengayun pedang ke Dunia Terang!

1944

Chairil Anwar

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *