Menengok Kemesraan Buaya di Taman Buaya Tanjung Pasir Tangerang

Kota tangerang adalah kota dengan banyak taman. Setiap taman memiliki nama yang unik, nama yang disematkan biasanya diambil dari nama hewan sekaligus menjadi icon dari setiap taman.  Seperti taman gajah, taman kelinci, dan taman burung. Tapi kali ini saya tidak membahas ketiganya, yang akan saya bahas adalah taman buaya.

Taman ini berlokasi di Jl. Tanjung Pasir KM 29. Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Luas wilayah taman ini mencapai 5 hektar, sehingga pengunjung yang datang dapat dengan mudah memakirkan kendaraan pribadinya.

Taman Buaya ini memiliki beberapa kandang dengan diisi buaya-buaya yang dibedakan berdasaran umur, dari yang baru menetas, berumur bulanan hingga tahunan. Jumlah buaya muara ini lebih dari 50 ekor dan ada yang memiliki umur hingga mencapai 40 tahun. Di habitat aslinya,buaya muara bisa mencapai umur hingga 70-100 tahun.

Ada empat jenis buaya yang dikembangbiakkan di Taman Buaya Tanjung Pasir. Pengunjung dapat mengamati buaya Irian, buaya Sumatra, buaya air tawar, serta buaya air payau. Dari semua jenis yang ada, buaya asal Sumatra memiliki jumlah yang paling besar

Di penangkaran ini, terdapat kolam untuk buaya berendam mendinginkan suhu tubuh di setiap kandangnya, karena memang buaya suka berjemur akan kembali masuk ke kolam untuk menetralkan suhu tubuh. Tak ada atraksi seperti penangkaran-penangkaran buaya seperti biasanya, yang paling bisa dikatakan atraksi adalah saat pemberian makan karena akan membuat buaya yang tenang berubah menjadi buas. Dan pengambilan telur buaya yang baru menentas oleh penjaga dengan menggunakan tongkat untuk mengusir buaya, dan inipun dilakukan hanya pada saat musim bertelur.

Karena tempatnya yang rimbun akan pepohonan, para pengunjung tak akan terkena teriknya sorot matahari langsung, sehingga para pengungjung dapat berlama-lama menikmati keromantisan buaya-buaya yang sedari kecil memng sudah bergerombol. Keromantisan itu dapat dilihat saat buaya-buaya muara ini berjemur dengan mulut yang membuka lebar hinga berjam-jam.

Para buaya ini biasa diberi makan sekali sehari atau paling tidak lima kali dalam seminggu, biasanya para buaya diberi makan ayam, namun ada kalanya buaya-buaya yang mati akan kembali menjadi pakan karena memang sifat buaya yang kanibal.

Karena kegunaan kulitnya sebagai bahan dasar pembuatan tas, sabuk pinggang, dompet, dan sepatu. Membuatnya sangat dibutuhkan di pasaran, menjadikan tempat ini salah satu penangkaran terbesar. Penangkaran-penangkaran buaya terbesar pun tersebar diberbagai daerah. Seperti di Balikpapan, Medan, Cikarang, Subang, Pekanbaru dan paling terdekat ada di Serang.

Karena keberadaannya yang dekat dengan masyarakat, banyak warung-warung makan menjajakan menu makanan dengan mengunakan bahan dasar daging buaya. Salah satunya adalah Rendaman Tangkur (penis) buaya, makanan ini dipercaya oleh beberapa kalangan masyarakat dapat menambah vitalitas untuk para lelaki dalam kegiatan ranjang, sangat menggiurkan bukan.

Taman Buaya ini menjadi wisata lain untuk kita menghabiskan waktu bersama keluarga, dengan harga masuk yang murah, taman Buaya ini menjadi wahana lain yang dapat memacu adrenalin kita untuk berhadapan langsung dengan buaya-buaya muara

Tempat penangkaran sekaligus taman rekreasi tersebut buka setiap hari pukul 08.00 sampai 18.00. Harga tiket masuknya adalah Rp 8.000 untuk pengunjung dewasa dan Rp 4.000 untuk anak-anak dan harga bisa berubah sewaktu-waktu.

 

Komentar

Penyuka karya Dewi Lestari dan berhasrat ingin bertemu sang Supernova

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *