Meneladani Kisah Perjuangan Aria Wangsakara Sebagai Pahlawan Tangerang

Membahas cerita di masa lampau tentang Tangerang, jelas takkan ada habisnya. Dibalik cerita-cerita itu semua tentu tak terlepas dari peranan perjuangan para pahlawan. Salah satu pahlawan pejuang Tangerang yang biasa akrab di telinga kita tak lain ialah Pendekar Cisadane.

Namun, selain Pendekar Cisadane dan sederet pahlawan lainnya, adapula pahlawan dari Tangerang yang sebetulnya kita semua seringkali mengetahui nama tersebut pada sebuah jalan atau tempat, akan tetapi sebagian masyarakat belum begitu mengenal bahwa ia adalah salah satu pahlawan yang tercatat di tinta emas sejarah sebagai pahlawan Tangerang

Pahlawan itu ialah Aria Wangsakara—ulama sekaligus pahlawan perjuangan Tangerang. Ia merupakan keturunan dari kerajaan Sumedang. Kabar dari berbagai literatur mengatakan bahwa kedatangan Aria bersama dua saudaranya yakni Aria Santika dan Aria Yuda Negara ke Tangerang disebabkan oleh ketidaksepahaman dengan pihak kerajaan Sumedang.

Baca juga : Puisi Sebagai Simbol Perlawanan

Dalam perjalanan panjangnya, Ia memutuskan untuk singgah di pinggiran Sungai Cisadane. Dengan berbekal restu dari Kesultanan Banten, akhirnya ia memutuskan untuk menyebarkan Agama Islam serta mendirikan Pesantren Gerendeng—tepatnya di tepi barat Sungai Cisadane. Ia mendapat mandat dari Kesultanan Banten untuk menjaga wilayah tersebut dari kompeni.

Meski telah berhasil mendapatkan banyak murid, Pesantren yang didirikannya tersebut tak semata-mata dapat berjalan dengan baik. Dan dari pengaruh Aria yang kala itu begitu besar sempat menyita perhatian para kompeni VOC. Para kompeni menganggap bahwa keberadaan pesantren disana menjadi sebuah ancaman besar dan mengkhawatirkan mereka dikemudian hari.

Berbekal amunisi dan persenjataan yang lengkap akhirnya VOC melakukan penyerangan terhadap Pesantren Gerendeng—serangan dilakukan dengan brutal. Teror senapan hingga tembakan meriam terus dilancarkan bertubi-tubi. Hingga akhirnya dengan terpaksa Aria Wangsakara mengungsikan pengikutnya ke Lengkong, Pagedangan. Ia mendirikan pusat pengajaran Agama islam disana dengan mendirikan pesantren baru. Sekalipun itu adalah ancaman yang berbahaya, Aria akan tetap terus berjuang dan tak patah semangat dalam menyebarkan agama islam.

Baca Juga : Kecap Benteng : Si Hitam Manis Yang Melegenda Di Tangerang

Berbekal pengalaman ketika kompeni VOC menyerbu di Gerendeng, Aria dan para pejuang yang lain memasang strategi untuk membangun sebuah benteng pertahanan di Lengkong Kyai, tepat di tepi Sungai Cisadane sebelah barat sampai bendungan Sangego. Dan ternyata gelagat ini tercium oleh VOC yang akhirnya mendirikan benteng pertahanan tandingan tepat bersebrangan dengan wilayah kekuasaan Aria Wangsakara saat itu. Serbuan akhirnya dilakukan oleh VOC terus menerus.

Dibawah kepemimpinan Aria Wangsakara , rakyat digerakkan untuk melakukan perlawanan pada pihak VOC. Hingga pertempuran berangsur-angsur panjang selama 7 bulan. Rakyat Tangerang saat itu tak ingin takluk untuk kedua kalinya oleh VOC. Berbekal semangat perjuangan yang terus berkobar, akhirnya rakyat Tangerang berhasil memenangkan pertempuran tersebut sekaligus mempertahankan wilayah Tangerang dari serbuan VOC yang beringas—walaupun telah menumpahkan banyak darah dan nyawa yang hilang.

Pertempuran tak hanya berakhir disitu. Ternyata kompeni terus berupaya melakukan penguasaan dan melancarkan penyerangan kembali ke daerah Tangerang. Siasat kompeni ternyata lebih cerdik dengan cara mengadu domba Kesultanan Banten—terkait batas wilayah kekuasaan.

Namun, lagi-lagi perlawanan tetap dilakukan oleh Aria Wangsakara dan kedua saudaranya. Berbekal semangat perjuangan melawan penindasan yang dilakukan kompeni, mereka bertempur mati-matian—demi mempertahankan martabat rakyat Tangerang. Hingga akhirnya ketiga tumenggung itu gugur dalam pertempuran. Aria Santika yang tewas dalam pertempuran di Kebon Besar 1717, Aria Yuda Negara gugur di Cikokol pada tahun 1718 dan Aria Wangsakara gugur di Ciledug  pada tahun 1720. Mereka bertiga tewas demi mempertahankan wilayah Tangerang dari kekuasaan kompeni VOC. Walaupun mereka tewas, setidaknya mereka gugur secara terhormat karena sudah memperjuangkan tanah Tangerang serta melawan kebatilan.

Sudah sepatutnya kita sebagai warga Tangerang meneladani perjuangan para pahlawan, khususnya mereka yang berjuang demi mempertahankan kedaulatan Tangerang. Banyak isak tangis yang mengalir deras, darah yang tumpah serta nyawa yang hilang, dibalik sejarah dahulu Tangerang. Kemewahan yang kita rasakan sekarang di Kota Tangerang, sepatutnya kita sadari bahwa semua itu tak bisa lepas dari peranan sejarah pengorbanan para pahlawan terdahulu. Maka dari itu jangan pernah kita menutup mata soal sejarah apalagi untuk melupakannya.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *