Mendapati Hal-Hal Menarik Dari Hujan Bulan Juni Milik Sapardi Djoko Darmono

Bulan Juni adalah bulan yang mengingatkan kita akan sepenggal puisi nan romantik milik sastrawan kondang Indonesia yaitu Sapardi Djoko Darmono—lewat karyanya yang berjudul Hujan Bulan Juni.

Kalau boleh berlebihan, kiranya begini: bulan juni adalah bulannya milik Sapardi, semua orang boleh bersedih dibulan ini. Karena besar kemungkinan semua orang akan sepakat dengan hal itu, lewat bait-bait yang ditulis terasa tulus, dengan kata-katanya yang sederhana, namun tetap menggugah hati siapapun yang membacanya. Karyanya tersebut merupakan jawaban jikalau muncul pertanyaan tentang mana yang lebih terkenal dari sekian banyak karya-karya lain miliknya.

Prof. Dr. Sapardi Djoko Darmono merupakan sastrawan kelahiran Surakarta, 20 Maret 1940. Dikatakan bahwa dirinya sudah gemar menulis sejak duduk di kelas SMP. Lewat kecintaannya serta keinginannya untuk terus belajar dan berkembang, membawanya menjelma menjadi Sastrawan terkenal di Indonesia.

Baca Juga: DISLEKSIA BUKAN BENCANA BERLITERASI

Sejauh ini telah banyak karya sastra yang lahir dari tangan serta pemikirannya. Meski diusianya yang kini sudah terhitung memasuki usia senja, namun dirinya dapat dibilang masih tetap produktif melahirkan karya-karya. Bahkan setelah pensiun menjadi dosen di Universitas Indonesia, dirinya masih sering terlibat diskusi dengan anak-anak muda yang tertarik dengan sastra. Memang benar, usia hanya sebatas deretan angka, jiwanya masih tetap muda dan membara.

Sejak pertama kali terbit di surat kabar pada tahun 1989, Puisi Hujan Bulan Juni adalah karyanya yang paling banyak diadopsi ke beberapa medium. Duet Ari Malibu dan Reda Gaudiamo serta beberapa musisi lainnya mengubah puisi Hujan Bulan Juni menjadi sebuah musikalisasi puisi. Kendati dirubah kemasannya menjadi sebuah lagu, tak sama sekali membuat puisi kehilangan ruh-nya.

Kemudian pada tahun 2015 lalu, Hujan Bulan Juni menjelma menjadi sebuah novel hasil karya tulisan milik Sapardi sendiri. Tak dapat dipungkiri kepiawaian beliau dalam berkarya mampu mengemas lewat segala bentuk cara apapun.

Berangkat dari sepenggal puisi, lewat tangannya menjadi sebuah novel dengan cerita yang sangat menarik. Ia berhasil mencipta sebuah tokoh baru yaitu Sarwono dan Pinkan—kisah cinta berbeda latarbelakang adalah hal yang coba diceritakan Sapardi lewat novelnya tersebut. Dua tahun kemudian, novel Hujan Bulan Juni akhirnya di filmkan.

Baca Juga:  Dunia Kali: Bukan Buku Pedoman Mendidik Anak

Dibalik proses perjalanan yang berliku serta kerja keras yang tak henti-hentinya, tentu disitu akan ditemukan titik gemilang. Ya, saya sepakat perihal hal ini, begitu juga kiranya dengan yang ditoreh banyaknya raihan prestasi untuk Sapardi.

Mengutip dari laman inspiratorfreak.com, Prof. Sapardi Djoko Darmono mendapatkan penghargaan Anugerah Buku ASEAN 2018 untuk dua buku terbaiknya, Hujan Bulan Juni dan Yang Fana Adalah Waktu. Penghargaan itu diberikan di acara Kuala Lumpur International Book Fair yang digelar di Putra World Trade Center, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu, 28 April 2018. Hujan Bulan Juni mendapatkan penghargaan untuk kategori Buku Kompilasi Terbaik, sedangkan buku Yang Fana Adalah Waktu mendapatkan penghargaan untuk kategori Penulisan Prolifik. Tentu saja ini bukan penghargaan pertama yang dia terima. Pada 1978, Sapardi Djoko Damono menerima penghargaan Cultural Award dari Australia. Selain itu, dia juga pernah mendapatkan penghargaan Anugerah Puisi Putra dari Malaysia pada 1983.

Indonesia sepatutnya bangga memiliki Sastrawan seperti Sapardi Djoko Darmono. Semangatnya dalam berkarya tak dapat dibendung oleh apapun dan siapapun. Semangat itulah yang seharusnya bisa memotivasi para sastrawan muda Indonesia. Tentu ada segaris harapan besar bahwa dunia kesusastraan Indonesia bisa menjadi terang lewat semangat para sastrawan mudanya. Dan Sapardi Djoko Darmono adalah sosok sastrawan yang patut menjadi teladan.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *