Menapaki Sejarah Buku Fisik Dan Kehadiran Buku Digital

Buku dikenal begitu identik dengan pendidikan dan kecerdasan. Dua hal tersebut dapat saling mengikat tentu bukan tanpa suatu alasan. Malahan, hebatnya lagi buku memiliki peranan penting bagi peradaban manusia. Hadirnya sebuah buku dapat bermanfaat, karena mampu mengumpulkan catatan yang tercecer, serpihan ilmu yang terserak, mengabadikan kejadian penting dan sebagainya. Menjadi serangkaian data dan peristiwa yang berguna dalam memberdayakan kehidupan.

Sejarah tentang sebuah kisah juga dapat diketahui dari generasi ke generasi karena dibukukan. Termasuk karya sastra yang akan selalu dinikmati para pembaca—yang takkan lenyap dimakan usia. Sehingga terbit suatu slogan yang berseru “Menulislah, maka kau akan abadi” dan saya kira buku layak menjadi tempat keabadian.

Kebiasaan menulis telah sejak lama ada, lahir pada manusia purba yang menggunakan benda sebagai media, entah kayu, batu ataupun tulang, itupun masih dalam berbentuk simbol-simbol. Namun,lambat laun kebutuhan manusia tarhadap simbol(tulisan purba) bisa dituangkan lewat kertas. Di Mesir, tahun 2400-an SM ditemukan kertas papirus. Tulisan yang ada di kertas kemudian digulung dan di simpan, yang pada waktu itu orang belum menyebutnya buku. Barulah sekitaran tahun 200 SM, Tiongkok menciptakan buku yang berbahan dasar bambu. Sebelum akhirnya Johann Gutenberg menciptakan mesin cetak yang membawa evolusi terhadap dunia perbukuan hingga saat ini.

Baca juga: Puisi Sebagai Simbol Perlawanan

Kini dunia semakin berkembang, kemajuan teknologi yang kian canggih turut menuai dampak positif kepada buku. Buku yang pada dasarnya berbentuk fisik, mulai berinovasi seiring berkembangnya jaman, menjadi buku digital.

Kemunculan buku digital tentu bukan tanpa sebab. Berangkat dari masyarakat yang begitu masif menggunakan gadget dan akses internet yang semakin mudah—menjadi salah dua penyebabnya. Dari data Kominfo tahun 2014, 84 persen penduduk Indonesia tercatat sebagai pengguna gadget aktif. Kemunculan gadget juga diiringi dengan fitur-fitur memudahkan di dalamnya. Termasuk memindahkan fungsi buku fisik menjadi buku digital. Dalam hal ini, para pelaku usaha penerbitan buku melihat peluang minat baca dengan menggunakan gadget. Nah, saya pikir itulah titik mengapa tercetus ide menciptakan buku digital.

Konsep buku digital dapat dibilang cukup praktis dan efisien. Dapat dibandingkan, dari beberapa judul buku fisik yang beratnya kiloan, cukup dengan smartphone semua kumpulan buku dapat tertampung didalamnya, bahkan justru berat smartphone jaman sekarang, semakin canggih malah semakin ringan.

Di sisi lain harga buku digital pun lebih murah, karena tak lagi memerlukan ongkos cetak. Simpelnya, setelah selesai melewati tahap proses editing, buku bisa dengan cepat dipasarkan  secara luas.

Dan keuntungan selanjutnya, buku digital diklaim punya terobosan yang sangat baik bagi keberlangsungan ekologi alam ‘ramah lingkungan’ karena tak ada satupun bahan dasar alam pada proses pembuatannya.

Tapi boleh percaya atau tidak, bahwa buku digital bukanlah buku. Buku itu pada dasarnya terbuat dari kertas, kalau tidak ada kertasnya berarti bukan buku. Itu yang mestinya kita semua sadari. Kalau buku, ya rupa nya seperti buku, yang dari dulu bentuknya seperti itu melulu. Lantas, kalau begitu apa disebutnya?

Pertanyaan tersebut pastinya akan berlarut dan menjadi bahan perdebatan panjang, yang mungkin bisa jadi tak berujung dan memusingkan. Namun ketahuilah, kemunculan buku digital tidak bisa juga dibilang sempurna, semua tentu ada kelebihan dan kekurangannya. Toh, entah buku fisik atau digital itu memiliki pasar berbeda yang tergantung pada peminatnya.

Komentar

Bergembira sebelum negara api menyerang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *