Menantikan Bumi Manusia dan Perburuan, Dua Film Adaptasi dari Karya Hebat Pramoedya Ananta Toer

Bakal diputarnya dua film Indonesia yang diadaptasi dari dua buku karya Pramoedya kembali membangkitkan ingatan dan gairah menonton saya. Bumi Manusia, satu judul dari Tetralogi Pulau Buru yang kemahsyur itu dan Perburuan si novel tentang revolusi kemerdekaan akhirnya bakal difilmkan. Keduanya, karya yang membuat imaji tentang pergulatan pemuda dan kesadaran untuk melawan, bakal tersaji dalam bentuk audio visual. Jujur saja, ini adalah film adaptasi yang saya nantikan kehadirannya sejak lama, walau ya tidak berharap bakal digarap oleh Falcon Pictures juga sih.

Wajar saja sih kalau ekspektasi akan kedua film ini bakal meredup. Mengingat Falcon Pictures sebagai rumah produksinya memang lebih sering menggarap film-film tidak serius. Apalagi, kedua karya Pram yang mereka filmkan merupakan salah dua dari sekian novel terbaik di Indonesia. Bayangan akan busuknya kedua film pun makin menjadi.

Dulu, ketika pertama kali penggarapan film Bumi Manusia diumumkan pada publik, kritik dan kecaman langsung hadir setelah ditunjuknya Hanung Bramantyo sebagai sutradara. Walau sebenarnya Hanung dikenal sebagai salah satu sutradara kondang di Indonesia, tapi beberapa karya terakhirnya yang melibatkan cerita tokoh besar nyatanya mengecewakan. Film Soekarno dan Sultan Agung, salah dua garapan Hanung, justru membuat dua tokoh besar kita terasa kecil ketimbang kisah dan ceritanya yang melegenda.

Pun saat kita tahu kalau Iqbaal Ramadhan dipilih sebagai tokoh utama dalam film ini, alamakjang, ini mau bikin film-cerita-cinta-cintaan atau gimana sih? Kurang lebih begitu sih tanggapan netizen kala itu. Dengan rekam jejak sebagai Dilan, Iqbaal dianggap terlalu kecil untuk memerankan ketokohan Minke yang luar biasa itu. Ini belum ditambah tidak dipilihnya Happy Salma sebagai Nyai Ontosoroh ya, aduh imaji saya akan Bumi Manusia jadi rusak.

Memang sih, semua anggaapan dan tuduhan pada orang-orang yang bakal terlibat di produksi Bumi Manusia terlalu dini untuk diberikan. Banyak juga yang menganggap mereka harus diberi kesempatan terlebih dulu, kalau filmnya memang jelek barulah kita hajar habis-habisan.

Sialnya, trailer dan poster Bumi Manusia yang dipublikasi oleh Falcon justru membuat bayang buruk itu semakin nyata. Sudah posternya jelek, hanya berupaya menampilkan Iqbaal belaka, lah cuplikannya juga tidak menjanjikan. Makin malaslah diri kita untuk menonton filmnya. Walau memang, justru pada cuplikan Perburuan lah kita bisa sedikit berharap akan adaptasi yang keren dari karya Pramoedya.

Ah iya, Perburuan, film adaptasi lainnya yang juga digarap Falcon ini memberikan sedikit harapan pada publik akan kualitasnya. Pemilihan duo Adipati Dolken dan Ayusitha sebagai pemeran menjadi nilai lebih pada produksinya. Ditunjuknya Richard Oh sebagai sutradara juga memberi tambahan harapan buat kita.

Saya sendiri bakal menonton kedua film tadi saat tayang di hari perdana, 15 Agustus 2019. Ya, besok kedua film ini bakal tayang. Sebagai persiapan, saya sudah membaca ulang Bumi Manusia dan Perburuan sebagai bahan untuk kembali meneguhkan ingatan dan imaji saya akan kedua cerita hebat tersebut. Kalau nantinya film ini jelek, ya tinggal kita kritik saja. Toh sedari awal kita memang tidak boleh berharap-berharap amat pada film-film garapan Falcon Pictures.

Komentar

Bukan siapa-siapa, bukan apa-apa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *