kekerasan seksual

Memutus Rantai Kekerasan Seksual Dalam Komunitas

Tak ada ruang bagi pelaku kekerasan seksual di dalam komunitas. Begitu sebenarnya harapan saya akan sikap komunitas yang ada  terkait keberadaan predator di dalam organisasinya. Suka atau tidak, komunitas menjadi salah satu lahan subur bagi predator untuk melakukan kekerasan seksual. Sialnya, masih ada banyak komunitas permisif terhadap hal seperti ini.

Sebuah komunitas sastra di kisaran Pasar Minggu begitu permisif terhadap koleganya yang melakukan pemerkosaan terhadap seorang mahasiswi UI. Pada kasus ini, Sitok Srengenge, katanya seorang sastrawan, dibiarkan melenggang bebas melakukan aktivitas sementara korbannya harus mendera trauma dan melahirkan bayi dari predator seksual ini.

Salihara, komunitas tempat Sitok beraktivitas kesusastraan diam seribu bahasa. Jangankan bersikap tegas membuang Sitok, membela korban pun tidak. Bahkan, Goenawan Mohamad yang katanya juga sastrawan sekaligus pentolan komunitas ini pernah dengan tegas menyatakan; aktivis-aktivis yang memperjuangan kasus yang menyerang Sitok ini seperti orang yang tidak mau mendengar kebenaran. Satu pembelaan paling busuk yang pernah dilakukan komunitas ini.

Di tempat lain, kekerasan seksual yang dilakukan dalam komunitas sastra juga terjadi di Ciputat. Rusa Besi, komunitas tersebut, memberikan ruang bagi pelaku kekerasan seksual untuk “menyelamatkan diri” dari kejahatan yang Ia lakukan. Ingat, bukan hanya tidak tegas, tetapi juga begitu permisif terhadap kekerasan seksual demi menyelamatkan teman.

Berengseknya, apa pun yang kita harapkan dari komunitas-komunitas seperti tadi tidak akan banyak berguna. Kasus kekerasan seksual telah terjadi, komunitasnya telah mereduksi advokasi, dan ancaman peristiwa serupa masih bisa terjadi pada banyak perempuan. Lantas, apa yang bisa kita lakukan?

Saya kira, satu hal paling mendasar yang harus dilakukan untuk memutus rantai kekerasan seksual (setidaknya) di dalam komunitas adalah dengan memberi kesadaran terkait kepada anggota kelompok. Mungkin semua orang tahu bahwa pemerkosaan adalah kekerasan seksual, tetapi tidak semua orang paham tentang consent  (persetujuan) dan relasi kuasa. Baik lelaki atau perempuan dalam kelompok perlu sadar akan dua hal ini.

Kebanyakan kekerasan seksual terjadi dan tidak terungkap karena korbannya tidak tahu bahwa apa yang dialami adalah pelecehan bahkan kekerasan. Tidak juga semua lelaki sadar kalau apa yang dilakukannya bisa dikategorikan sebagai pelecehan dan kekerasan seksual. Dari hal yang paling sederhana cat calling, hingga intimidasi seksual dan pemaksaan aborsi. Tidak semua orang paham kalau kekerasan seksual tidak hanya berbentuk pemerkosaan.

Ketidakpahaman akan konsep consent tentu dapat melahirkan kekerasan seksual. Kediaman seorang korban ketika mengalami pelecehan bahkan kekerasan seksual tidak bisa dianggap sebagai sebuah persetujuan. Karena secara psikologis, seorang korban dapat mengalami freeze atau membatu ketika mengalami kekerasan seksual.

Secara psikologis, ada tiga respon alami dari otak manusia ketika mengalami ancaman, termasuk perkosaan. Tiga respon ini kerap disebut sebagai sistem 3F yakni membeku (freeze), menghindar (flight), dan melawan (fight). Tidak semua orang bisa merespon perlawanan atau melarikan diri dalam peristiwa kekerasan seksual. Dan kondisi membeku seorang korban tidak bisa dianggap sebagai persetujuan atas perbuatan kekerasan seksual.

Baca juga : 4 Hal Yang Bisa Dilakukan Warga Indonesia Ketika Terjadi “LOCKDOWN”

Terakhir, komunitas juga harus memberikan pemahaman tentang relasi kuasa terhadap anggotanya. Ingat, kekerasan seksual tidak terjadi hanya karena otak yang cabul, tetapi juga karena kesadaran kuasa si pelaku. Pada konteks ini, para pelaku merasa berhak melakukan kekerasan seksual tersebut dan merasa apa yang mereka lakukan adalah hal wajar. Cara berpikir semacam ini tentu harus dimatikan, setidaknya komunitas harus memberikan kesadaran bahwa itu adalah cara pikir yang keliru.

Tanpa adanya edukasi dan upaya memberikan kesadaran, kekerasan seksual akan terus ada dan berlipat ganda. Dalam hal ini komunitas tidak hanya harus bersikap tegas untuk membuang para predator pelaku kekerasan seksual, tetapi juga harus berupaya memutus rantai tersebut. Kalau tidak, jangan kaget dan sok melindungi komunitas ketika terjadi kekerasan seksual di dalamnya.

Baca juga: Stop Kekerasan Seksual Pada Perempuan dan Anak!

Komentar

Bukan siapa-siapa, bukan apa-apa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *