Membuka Mata, Melihat Dunia Bersama Kampoeng Baca

Tangerang sebagai salah satu daerah yang berada di pinggiran ibukota dengan jumlah populasi penduduk yang begitu banyak, tak henti-hentinya menyediakan segala macam fasilitas penunjang kebutuhan hidup untuk penduduk yang tinggal di dalamnya, seperti taman, transportasi umum dan lain sebagainya.

Setelah merebaknya taman di Tangerang, hal lain pun turut serta menjamur, seperti TBM (Taman Baca Masyarakat) yang beberapa tahun silam ini terus bergerak memberikan akses edukasi kepada warga Tangerang. Atas banyaknya TBM yang telah terbentuk maka berdirlah Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Kota Tangerang sebagai wadah pemersatu TBM. Yang kebetulan juga, belum lama ini kepengurusannya baru saja dilantik.

Belum begitu banyak terlihat agenda yang dilaksanalan FTBM. Hanya saja, selama ini pengurus FTBM tengah fokus merangkul TBM-TBM di Kota Tangerang, yang tersebar di berbagai kecamatan. Berdasarkan data dari FTBM Kota Tangerang, ada sekitar 30-an taman baca, angka tersebut masih jauh dari capaian pemkot yang mencanangkan di tahun ini untuk ada 1004 taman baca di Kota Tangerang.

Itu merupakan salah satu program pemkot atas capaiannya yang luar biasa (gila), namun pada dasarnya TBM-TBM yang ada di Forum TBM Kota Tangerang adalah taman baca yang independen, dibentuk atas inisiasi dari masing-masing pegiat literasi. Singkatnya, tidak ada keterikatan dengan pemerintah, apalagi untuk urusan bantuan. Sama sekali tidak begitu mengharapkan hal tersebut. Akan tetapi, para pegiat literasi Kota Tangerang cukup mendukung adanya program tersebut.

Minggu ini, pengurus FTBM berkesempatan mengunjungi salah satu anggotanya, Kampoeng Baca. Dibalik maksud untuk sekadar bersilaturahmi, FTBM juga berkeinginan untuk bisa bertukar pengalaman seputar literasi, pengelolaan rumah baca hingga ‘syukur’ mungkin bisa bertukar gagasan untuk memajukan komunitas literasi yang ada di Kota Tangerang.

TBM Kampoeng Baca, kalian mungkin akan berspekulasi bahwa TBM tersebut merupakan hasil cipta pemkot. dari segi namanya yang bertemakan kampung. Memang, meski sekarang ini pemkot sedang gemar-gemarnya mendirikan banyak kampung tematik. Seperti Kampung Markisa, Kampung Bekelir, Kampung Sastra, dan kampung-kampung lainnya, yang entah tidak terawat kondisi dan kegunaannya.

Tetapi Kampoeng Baca ini murni seratus persen bukan dibuat oleh pemerintah Kota Tangerang, Apalagi ada campur tangan di dalamnya. Ini adalah gerakan masyarakat sekitar dalam mempersiapkan generasi muda agar dapat bersaing di era industri 4.0.

Bertempat di Rawa Bokor, Kecamatan Benda, Kampoeng Baca hadir sebagai lembaga masyarakat yang bergerak dalam dunia pendidikan, kesehatan dan ekonomi mandiri. Dengan motto ‘Membuka Mata, Melihat Dunia’ dan motto tersebut sejak dua tahun lamanya berdiri hingga kini sangatlah berhasil diperdengungkan hingga ke seluruh antero jagat.

Bila ditelisik lebih dalam lagi, Kampoeng Baca merupakan hasil inisiasi Rumah Berbagi Foundation yang dimana didukung penuh pembangunan dan fasilitasnya oleh PT. Angkasa Pura II (Persero) melalui program CSR (Corporate Social Responsibility).

Tujuan Kampoeng Baca ini sungguhlah mulia, berkeinginan untuk dapat mengembangkan daya saing generasi pemuda melalui peningkatan minat baca, minat belajar dan pengembangan bakat. Hal tersebut dituangkan melalui beragam kegiatan di dalamnya. Mulai dari kelas Pendidikan Anak Usia Dini hingga kelas komputer dan bahasa asing. Semua kegiatan tersebut diselenggarakan secara cuma-cuma alias gratis. Yang lebih menariknya lagi, meski para siswa yang belajar tidak dipungut biaya, ternyata tenaga pendidik yang mengajar di Kampoeng Baca diberikan gaji. Hal ini dikarenakan, Kampoeng Baca telah sukses menggaet banyaknya donatur.

Saya baru kali pertama menemui TBM yang kuat secara finansial macam Kampoeng Baca ini. Mereka memang tidak menerima bantuan dari pemerintah. Tapi dengan sayap relasi-relasinya yang kuat itu, Kampoeng Baca bisa mengepakkan sayap yang kuat nan gagah hingga terus selalu mengudara di langit. Betapa hebatnya Kampoeng Baca membangun sebuah lembaga secara rapi.

“Kita bisa bergerak, tanpa berharap banget dengan bantuan pemerintah,” kata Abdul Rohman Hafid, salah satu pengurus Kampoeng Baca.

Terbukti, saat ini Kampoeng Baca mempunyai sarana gedung yang dipakai untuk aktifitas edukasi. Gedung tersebut berhasil dibangun lewat bentuk kerjasama antara Kampoeng Baca dengan PT. Angkasa Pura II. Dan memang, sebelumnya juga areal yang ingin dibangun di tempat itu adalah sebuah tanah wakaf. Daripada tidak terpakai, maka dibangunlah gedung untuk Kampoeng Baca sebagai sarana tempat belajar yang begitu bermanfaat sekali hingga sekarang. Memiliki dua lantai dan terdapat beberapa ruangan yang cukup luas. Kampoeng Baca memfungsikan dua lantai tersebut sebagai ruang belajar, diantaranya;  ruang kelas PAUD, ruang mengaji, perpustakaan hingga lab komputer.

Kampoeng Baca dapat dibilang sebagai lembaga dengan sumber dana yang berkecukupan. Bagi saya, Kampoeng Baca menjadi salah satu rujukan untuk membangun sebuah lembaga dalam mendapatkan sumber dana yang begitu lumayan. Dalam menjalankan sebuah lembaga, tidak dipungkiri bahwa sumber dana menjadi unsur penting dan hal utama agar kerja-kerja di dalam lembaga tersebut tidak tersendat di tengah jalan, karena bukan melulu sepenuhnya pendanaan dibiayai oleh para pengurus di dalamnya. Dengan adanya Kampoeng Baca jelas membuktikan bahwa kehadirannya sebagai TBM sangat berperan dalam membangun kecerdasan literasi untuk masyarakat.

Komentar

Bergembira sebelum negara api menyerang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *