Gelaran

Membangun Taman Baca Saat KKN Adalah Sebuah Kesia-siaan

Bertahun-tahun lalu, ketika masih berstatus mahasiswa, saya pernah mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN). Sebagai seorang mahasiswa yang jarang ikut kelas, KKN bisa jadi salah satu dari sedikit beban kuliah yang saya ikuti. Dan boleh jadi, KKN juga yang membuat saya punya sedikit kenangan bagus soal mata kuliah.

Satu prasyarat penting dari mata kuliah bidang pengabdian masyarakat ini adalah program kerja. Ada yang membuat program penyuluhan atau lokakarya tentang budidaya tanaman atau pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat. Ada yang mengajar di sekolah-sekolah. Ada juga yang membangun jamban. Setidaknya itu sih program-program yang biasa ada di KKN.

Ah iya, satu lagi program andalan mahasiswa di ajang ini: pengadaan buku untuk taman baca masyarakat.

Program yang satu ini memang seakan keren, mungkin juga berguna dan bermanfaat. Memberikan sumbangan ratusan buku pada sebuah desa, diberikan di taman baca atau perpustakaan sekolah, dan kemudian meninggalkan semua itu tanpa jejak. Iya, tanpa jejak.

Ketika melakukan aktivitas yang sama dulu, ada satu hal yang membuat saya sadar: pengadaan buku dari mahasiswa KKN tidak bakal berarti apa-apa, tidak akan menjadi apa-apa. Karena fokus dan tujuan dari program ini hanyalah pengadaan buku, bukan pembangunan budaya membaca serta pola pengelolaan taman baca.

Mungkin, selama satu bulan taman baca itu bakal berjalan. Meski ya tidak bakal efektif-efektif amat. Anak-anak akan datang ke perpustakaan sekolah atau taman baca, bergantung mana yang diberi buku, karena keberadaan orang asing yang menyediakan buku. Rasa penasaran mereka terhadap mahasiswa menjadi dorongan pertama untuk datang, setelahnya, tergantung buku-buku yang disediakan menarik atau tidak.

Tapi ya itu, setelah satu bulan berjalan, mahasiswa akan kembali ke kelas yang begitu-begitu saja. Kewajiban mereka telah tuntas. Hal-hal yang dilakukan di desa bakal segera terlupakan, dan terbengkalai.

Saya kira kesalahan cara berpikir menjadi faktor kunci dari kegagalan kebanyakan taman baca yang dibangun saat KKN. Umumnya, para mahasiswa datang ke desa dengan pandangan yang “ngota”. Mereka berpikir bahwa desa membutuhkan bantuan sarana dan prasarana. Padahal, hal yang dibutuhkan desa adalah pikiran cerdas untuk mengatasi masalah-masalah yang ada di sana.

Mereka pikir, dengan memberi bantuan buku anak-anak bakal jadi senang membaca. Padahal, berdasar pengalaman KKN dulu, perpustakaan sekolah di desa memiliki begitu banyak buku-buku bagus. Ensiklopedia, dan beragam buku pengetahuan untuk anak-anak tersedia dengan lengkap di sana. Masalahnya, perpustakaan tersebut tidak diurus. Dan guru-gurunya, tidak tahu bagaimana cara mengurus perpustakaan.

Hal inilah yang tidak banyak dipahami para mahasiswa, termasuk saya waktu itu. Jika orang-orang desa telah memiliki kemampuan pengelolaan pustaka yang mumpuni, mereka tidak akan memerlukan bantuan dari para mahasiswa. Toh jika bisa mengelola pustaka, mereka bakal tahu cara mencari donasi buku tanpa bantuan mahasiswa.

Karenanya, membangun sistem dan pola pengelolaan taman baca akan jauh lebih bermanfaat ketimbang pengadaan buku belaka. Memang, ketersediaan buku itu penting. Tapi tanpa adanya pengelola, buku-buku yang banyak itu bakal terbengkalai. Seperti yang terjadi di perpustakaan kecamatan yang ada di Tangerang.

Tanpa adanya pengelolaan yang baik, sebuah taman baca juga perpustakaan bakal sepi belaka. Tanpa kegiatan, orang-orang mungkin tidak akan tahu bahwa taman baca itu ada. Dan tanpa jadwal buka yang sistematis, orang-orang bakal dikecewakan dengan sering tutupnya taman baca yang telah mereka datangi.

Mungkin karena pengalaman inilah, sebagai Koordinator Komunitas Baca Tangerang, saya menolak segala permintaan donasi buku yang dilakukan mahasiswa KKN tahun ini. Buat saya, buku-buku itu bakal lebih berguna jika kami donasikan untuk simpul-simpul pustaka bergerak. Ketimbang sia-sia di desa, seperti yang dulu pernah saya alami.

Boleh jadi, cara pandang saya tentang hal ini keliru. Bisa saja kan. Tapi, jika ada mahasiswa yang bisa menawarkan ide bagus untuk mengatasi persoalan ini, kami bersedia membantu pencarian buku untuk didonasikan kepada desa tempat kalian harus mengabdi.

Komentar

Bukan siapa-siapa, bukan apa-apa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *