Membangun Ruang Literasi di Tangerang

Literasi bisa menjadi sesuatu yang mencakup segala hal, bukan hanya soal membaca buku, tetapi bagaimana kita bisa belajar dan peka terhadap lingkungan.

Tahun ini festifal literasi kembali di gelar di Tangerang Selatan. Banyak agenda disuguhkan dalam acara ini. Mulai dari lomba mewarnai untuk kalangan anak-anak, seminar kepenulisan, diskusi antar komunitas, dan lain sebagainya.

Ini kali pertama saya datang ke acara Festival Literasi Tangsel, terus terang saya kagum. Bagaimana tidak? Dengan mendatangkan sejumlah penulis, sastrawan, seniman hingga pegiat literasi, acara tersebut benar-benar layak diapresiasi. Kita butuh banyak acara seperti ini di Tangerang raya.

Festival Literasi Tangsel digelar di Kandank Jurank Doank, Ciputat, Tangerang Selatan. Sebuah tempat milik seniman kondang, Dik Doank. Lahan luas yang dipenuhi rimbun pohon memberikan suasana begitu nyaman dan damai, tersedia juga balai-balai seperti rumah pohon dan di setiap dinding yang saya temui terdapat lukisan-lukisan yang membuat tempat ini menjadi sangat artistik.

Festival tahunan ini hadir untuk yang kedua kalinya dengan mengusung tema “Narasi Baru” yang ditujukan untuk para generasi milineal jaman now. Festival ini menyuguhkan berbagai program selama dua hari, yaitu tanggal 17-18 November.

Hadir pula sejumlah penulis yang terlibat meramaikan acara festival ini seperti Dee Lestari, Heru Joni Putra , Ratih Kumala, dan sutradara teater Qomarudin. Selain itu, Ibu Wali Kota Tangsel ikut berpartisipasi memberikan orasi kebudayaan sekaligus menandatangani launching buku Narasi Baru yang ditulis oleh 80 penulis.

Karya lukisan puisi dan visual karya Edi Bonetski menjadi suatu hal yang menarik untuk saya. Ia mengajak pengunjung berkaloborasi membuat suatu karya dari satu kata atau satu kalimat. Nantinya akan menghasilkan sebuah puisi dan digambar dengan bentuk visual menggunakan crayon yang bisa kita bawa pulang dengan gratis.

Untuk komunitas literasi, disediakan Forum Besar Komunitas Literasi yang dihadiri oleh komunitas se-Tangerang Raya seperti Sayap Kata, Tengger Pustaka Jalanan, Pecandu Sastra, Rumah Baca Semut, Dapur Sastra Cisauk, tak lupa Baca Tangerang dan masih banyak lagi komunitas-komunitas yang datang di acara itu. Mereka berdiskusi membicarakan tentang keresahan, masalah, dan juga kegiatan yang ada di komunitas. Mereka juga saling berpendapat, saling memberi solusi terkait pergerakan-pergerakan yang harus dilakukan komunitas untuk menjadi media atau wadah bagi masyarakat khususnya dalam hal literasi. Lalu festival ini juga bekerja sama dengan beberapa penerbit dengan mengadakan lapak buku yang diiisi dari berbagai penerbit diantaranya yaitu Buku Mojok, Marjin Kiri, Indie Book Corner, Ea Books, Maneno Books, Komunitas Bambu dan masih banyak lagi.

Dalam acara tersebut Nirwan Arsuka menyampaikan orasi kebudayaan. Menurutnya, tujuan utama literasi itu bukan menumbuhkan minat baca, melainkan menumbuhkan bagaimana kita berpikir dan bernalar kritis.

Di Penghujung acara, panitia memberikan awarding untuk berbagai nominasi diantaranya Awi Cerita terbaik, komunitas terbaik, taman baca terbaik, penerbit terbaik, ibu literasi, bapak literasi, dan masih banyak lagi.  Acara ini juga dimeriahkan oleh FLT Musician yang membawakan beberapa karya musikalisasi puisinya yang sangat keren dan apik dengan suasana yang intim.

Pada malam itu cukup membuat saya menghilangkan penat atas kegalauan terhadap status single bertahun-tahun yang tak kunjung berubah menjadi couple dan juga tugas akhir kuliah yang melanda.

Saya pribadi sebagai generasi milenial merasa bahwa kita memang perlu membuat banyak acara seperti ini, butuh ruang-ruang yang membangun kreatifitas, ruang bertemu dengan para pemuda yang mempunyai semangat dan tekad dalam membuat suatu kaloborasi yang bisa menjadi pergerakan menuju perubahan yang lebih baik. Festival Literasi Tangsel telah mewadahinya.

Komentar
Nuryeti

Never stop learning, because life never stop teaching

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *