Membalut Kampung Tematik di Ulang Tahun Kota Tangerang Yang Berbeda

28 Februari menjadi tanggal penting bagi warga Kota Tangerang, khususnya warga asli yang telah lama menetap, sebab tentunya sudah familiar sekali dengan tanggalan tersebut. Tepat di tanggal itu, Kota Tangerang genap berumur 26 tahun. Angka yang sudah terbilang bahwa fase jati diri dan kedewasaan, sepatutnya sudah terlihat dan terbentuk. Dan kota Tangerang dimata saya (sedikit) sudah menemukan jati diri tersebut.

Dibanyak tempat, pemberitahuan akan adanya semarak pesta ulang tahun Kota Tangerang sudah banyak sekali bertebaran. Baik berbentuk baliho di setiap sudut kota maupun di media sosial dan media cetak. Masyarakat juga akan dimanjakan dengan adanya beberapa hiburan dari seniman terkenal dan beberapa jajanan murah meriah pastinya akan bertebaran di pusat keramaian di Kota Tangerang, begitu pula di Pasar Lama dengan kuliner malamnya yang akan penuh dengan promo menarik dalam rangka spesial HUT ke-26 Kota Tangerang.

Tapi, ada hal-hal menarik dibalik euforia ulang tahun Kota Tangerang yang tak hanya sebatas perayaan pemuas nafsu kemeriahaan, sedikitnya ada dua hal menarik yang saya jelaskan disini. Oke, mari kita bahas.

Pemerintah Kota Tangerang kini sedang menggalakkan adanya kampung tematik di beberapa titik wilayah, itu pun atas dorongan dan keinginan warga kampung di tiap-tiap wilayah Kota Tangerang.

Bahkan menurut Arief R. Wismansyah selaku Walikota Tangerang, program kampung tematik nantinya akan ada dimasing-masing Rukun Warga (RW) di tiga belas kecamatan. Upaya ini agar terus meningkatkan wilayah Kota Tangerang untuk menjadi kota yang layak huni, layak dikunjungi, layak investasi, hingga dapat menjadi kota pintar.

Beberapa Organisasi Perangkat Daerah ikut dilibatkan kembali dalam pengerjaan kampung tematik. Diantaranya, Dinas Budaya dan Pariwisata membangun Kampung Budaya dan kampung Wisata, Dinas Sosial akan membangun Kampung Sejahtera Mandiri, Dinas Pemuda dan Olahraga membangun Kampung Pemuda, bahkan Dinas Lingkungan Hidup melanjutkan program Kampung Iklim dan Kampung Hijau, serta cetusan dari Satpol PP yang akan akan mendirikan Kampung Aman dan Tertib.

Kampung tematik, nantinya akan terus melibatkan Organisasi Perangkat Daerah dan masyarakat. Karena kita ketahui bahwa Kampung Bekelir salah satu bukti nyata, dan telah menjadi primadona ketika nama kampung yang penuh dengan warna itu tersorot di media. Bahkan bukan hanya menjadi tujuan wisata alternatif, wisata Kampung Bekelir juga telah menjadi ladang usaha bagi para masyarakat  setempat untuk semakin memeriahkan wisata di tempat tersebut.

Pemkot juga terus mengajak para Organisasi Perangkat Daerah untuk melanjutkan keberhasilan Kampung Bekelir. Dengan bertajuk, penerapan pola hidup bersih dan sehat, pengentasan kemiskinan melalui koperasi dan UMKM, serta menaikan potensi wisata lokal. Tajuk tersebut juga jadi pengantar baik kepada beberapa kampung tematik yang nantinya akan dibangun.

Tak hanya soal kampung tematik yang akan semakin menjamur di Kota Tangerang. Yang menjadi perhatian saya, perihal gerakan literasi di Kota Tangerang harus juga ikut ditunjang bersamaan.

Dalam urusan seputar literasi, DPAD (Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah) telah membentuk Forum Taman Baca Masyarakat yang menjadi awal untuk memunculkan gagasan-gagasan luar biasa dari banyaknya TBM (Taman Baca Masyarakat) yang tersebar di Kota Tangerang. Dan dengan dibentuknya pengurus Forum Taman Baca Kota Tangerang, semakin memudahkan ruang gerak komunitas yang fokus di bidang literasi. Ini jadi pertanda sinyal baik bahwa FTBM akan mengawal komunitas-komunitas literasi agar dapat dilirik dan diperhatikan oleh masyarakat, khususnya pemerintah.

Capaian dari Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah dalam rangka ulang tahun Kota Tangerang mengupayakan untuk adanya 1004 Taman Baca di masing-masing Rukun Warga (RW). Dan kebetulan juga, usulan tersebut diamini bersamaan oleh FTBM (Forum Taman Baca Masyarakat).

Gerakan seperti inilah yang sangat saya tunggu sebagai warga Kota Tangerang, ketimbang melulu razia kendaraan dan pembenahan area jalan, mengingat masih kurangnya fasilitas untuk masyarakat mendapatkan akses membaca yang mudah, nyaman, dan tentunya menyenangkan.

Gerakan literasi memang kini tengah menjamur, dan ini menjadi momentum untuk kita semua menyokong program tersebut dalam rangka memajukan minat membaca masyarakat agar tidak lagi terjadi hasil penelitian yang menyebutkan minat baca masyarakat Indonesia rendah.

Dengan penjelasan dua hal diatas, menurut saya bisa menjadikan Kota Tangerang semakin dewasa dalam menyikapi permasalahan dan penerapan kebijakan, terlebih di umur yang telah menginjak masuk ke seperempat abad ini, masyarakat tentu akan diajak banyak menyikapi hal-hal tersebut. Karena pada dasarnya, masyarakat sendiri lah yang patut menilai, baik atau buruk program-program tersebut. Ya, paling tidak itulah cara biar bisa ‘sedikit’ cinta dengan tanah asal kelahiran.

“Selamat ulang tahun ke-26 Kota Tangerang, jangan lupa potong kuenya”

 

 

Komentar

Penyuka karya Dewi Lestari dan berhasrat ingin bertemu sang Supernova

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *