Membaca Soekarno dan NU Dalam Pertemuan Semangat Nasionalisme

Sosok Soekarno identik dengan nasionalis sejati, semangatnya dalam menghapus kolonialisme dan imperialisme dari bumi pertiwi masih kita dengar hingga saat ini. Sedangkan NU (Nahdlatul Ulama) adalah lembaga agama yang concern untuk memberikan pemahaman ajaran Islam.

Dari kedua sifat yang bertolak belakang itu, buku Soekarno dan NU hendak membuktikan bahwasanya Soekarno dan NU bertemu dalam satu titik yang sama yaitu nasionalisme. Soekarno memosisikan nasionalisme sebagai usaha perlawanannya terhadap penjajah, sedangkan NU menjadikannya sebagai bagian dari semangat hubbul wathan minal iman yang memiliki arti cinta tanah air bagian dari Iman.

Pertama kali melihat judul dari buku ini, saya bertanya-tanya apakah pernah terjadi kedekatan yang begitu intim antara presiden pertama RI, Soekarno dengan NU sebagai lembaga keagamaan? Inilah yang memacu saya untuk menangkap lebih jelas, apakah bisa kedua entitas ini saling terikat. Apalagi sub judul yang dibuat oleh penulis ialah Titik Temu Nasionalisme, sontak saja saya merasa ingin langsung membaca halaman demi halaman dari kisah antara Soekarno dan NU ini.

Soekarno dan Nu nyatanya belum saling mengenal sebelum kemerdekaan Indonesia. Hal itu beralasan memang, karena Soekarno dipandang sebagai sosok Muhammadiyah yang menganut paham Islam Modernis. Sedangkan NU dianggap menganut paham Islam tradisional. Jelas saja dari kedua perbedaan itu, Soekarno dan NU mempunyai perbedaan ideologi.

Namun, ketika Soekarno muda sedang berguru pada H.O.S Tjokroaminto, tokoh Sarekat Islam, dia berkenalan dengan salah satu kiai muda progresif pada saat itu, KH Wahab Hasbullah yang mana sosok kiai ini dikenal sebagai salah satu motor utama organisasi NU. Sejak saat itu, Bung Karno terus berinteraksi dan berdiskusi dengan KH Wahab Hasbullah.

Baca Juga: Kegiatan Literasi Di Bulan Ramadhan

Isi diskusinya pun tak sembarangan loh dimana bahan diskusi ini membicarakan ide untuk menuju Indonesia merdeka. Sehingga dalam hal ini Bung Karno telah dikenal dan diterima dengan baik di lingkungan pesantren NU.

Pada saat itu, Bung Karno memang telah terkenal di kalangan kaum pergerakan sebagai seorang pemikir pejuang. Namun NU melihat lebih jauh ke dalam diri Soekarno, bahwa ia adalah calon pemimpin yang mumpuni bila Indonesia telah merdeka.

Kemudian ada tulisan Bung Karno mengenai Nasionalisme, Islamisme dan Komunisme yang mana maksud dari tulisan ini ialah Soekarno menawarkan titik temu antara Islamisme dan Nasionalisme, sehingga Soekarno dan NU mempunyai visi yang sama mengenai Nasionalisme karena telah berhasil memadukan konsepsi dari dua hal yang berbeda tersebut. Peran NU dalam semangat nasionalisme sebelum kemerdekaan ialah berusaha menghadapi perlawanan dari pemerintah kolonial serta bersikap tegas dalam urusan keagamaan dari campur tangan Belanda.

Hari demi hari berlalu, berbagai perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme pun telah usai, hingga akhirnya kemerdekaan telah menjadi milik bangsa Indonesia. Sampai saat itu pula hubungan Soekarno dan NU masih berjalan harmonis. Hal itu tercermin dari dukungan NU terhadap Pancasila yang digagas oleh Bung Karno sebagai Ideologi negara, serta NKRI adalah bentuk final. Sehingga menurut NU dan Soekarno siapapun yang berusaha mengganggu kedaulatan NKRI adalah musuh negara yang harus dihadapi bersama-sama.

Menjadi NU menjadi Indonesia, memahami Soekarno juga menjadi Indonesia. Kedua elemen penting dari sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia itu telah menjadi salah satu kekuatan terbesar yang berada di garda terdepan dalam perjuangan bangsa bersama kelompok nasionalis lainnya.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *