Membaca Derita di Hiroshima

“Benar-benar membingungkan, pasien-pasien bom atom ini.” Ujar salah seorang dokter yang mengobati pasien-pasien bom atom yang dievakuasi dari Hiroshima dan Nagasaki ke Tokyo.

Pada 6 Agustus 1945, sebuah bom atom yang diberi nama Little Boy dijatuhkan pesawat pengebom B-29 dari udara kota Hiroshima. Bom atom ini berbahan bakar uranium. Tiga hari kemudian, bom atom dengan kekuatan yang lebih dahsyat dijatuhkan ke kota Nagasaki. Berbeda dengan bom atom di Hiroshima, bom atom di Nagasaki berbahan bakar plutonium.

Dua bom atom ini kali pertama digunakan dalam sebuah peperangan dan hingga saat ini, sejarah mencatat hanya dua bom atom itu saja yang pernah digunakan dalam peperangan. Kurang dari sepekan setelah bom kedua dijatuhkan, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu yang dimotori Amerika Serikat.

John Hersey, seorang wartawan Amerika Serikat kelahiran Cina pada 1914 datang meliput beberapa waktu setelah bom atom meledak di Hiroshima dan Nagasaki. Ia mewawancarai enam orang narasumber secara mendalam di Hiroshima. Enam orang yang berada di sekitar pusat ledakan ketika bom atom meledak dan berhasil selamat.

Tulisan panjang hasil liputannya Ia beri judul ‘Hiroshima’ dan pertama kali tayang di The New Yorker pada Agustus 1946, setahun setelah kejadian. Penerbit Komunitas Bambu pada 2008 kemudian menerbitkan terjemahan ‘Hiroshima’ dalam format buku. Karya ini diterjemahkan oleh Gatot Triwira.

Sejak Jepang mengumandangkan perang pada akhir periode 30an, kota Hiroshima memang sudah dipersiapkan sebagai pusat komunikasi dan salah satu pusat kekuatan militer besar Jepang. Selain itu Hiroshima juga dipersiapkan sebagai wilayah untuk memindahkan pusat kekaisaran sekaligus pemerintahan jika Tokyo jatuh ke tangan musuh. Kondisi ini membuat pihak sekutu memutuskan menjatuhkan bom atom pertama kali di kota ini.

Nona Toshiko Sasaki, seorang juru tulis di perusahaan East Asian Tin Works; Dokter Masazaku Fujii, dokter sekaligus pemilik rumah sakit swasta berkapasitas 30 ruang inap; Nyonya Hatsuyo Nakamura, seorang janda yang berprofesi sebagai penjahit; Pastur Wilhelm Kleinsorge, pastor Jesuit asal Jerman yang bertugas di Hiroshima; Dokter Terufumi Sasaki, dokter muda ahli bedah; dan Pendeta Kiyoshi Tanimoto, seorang pendeta Gereja Metodis Hiroshima, adalah enam orang narasumber yang menceritakan kisahnya kepada Hersey runtutan pengalaman yang mereka alami usai bom atom meledak di Hiroshima.

Lewat kisah enam orang itu, Hersey berhasil menarasikan betapa dahsyat dan destruktifnya pengaruh bom atom terhadap seisi kota Hiroshima. Kisah-kisah mereka yang dinarasikan Hersey juga mengantar pembaca mengetahui tahapan-tahapan yang terjadi usai bom atom meledak di udara kota Hiroshima.

Tulisan Hersey terbagi dalam empat bab. Bab pertama berjudul ‘Kilat Tanpa Suara’ mengisahkan tentang detik pertama ketika bom atom meledak dan kejadian-kejadian setelahnya yang betul-betul mengusik sisi kemanusiaan kita. Ketika bom atom meledak, hanya kilatan putih yang terlihat di sekitar Hiroshima. Seluruh warga yang selamat yang berada di kota Hiroshima, setidaknya hingga 10 kilometer dari pusat ledakan, tak mendengar suara apapun, hanya kilatan putih menyilaukan.

Kelak kesaksian seorang nelayan yang berada 30 kilometer dari pusat ledakanlah yang memberi kesaksian bahwa Ia mendengar suara ledakan yang sangat keras ketika bom atom jatuh di Hiroshima.

Bab kedua berjudul ‘Api’. Kebakaran besar terjadi hampir di seluruh kota beberapa saat setelah ledakan bom atom terjadi. Perubahan cuaca akibat ledakan bom atom ini juga menyebabkan bencana angin kencang, puting beliung, dan hujan lebat disertai banjir di beberapa tempat.

Bab ketiga dan bab keempat berisi narasi-narasi tentang keanehan yang banyak terjadi di sekitar Hiroshima setelah bom atom meledak hingga sekira setahun setelahnya.

Keenam orang narasumber Hersey berada pada tempat yang berbeda ketika bom atom meledak di Hiroshima. Jarak mereka dari pusat ledakan paling jauh sekira dua kilometer. Dua kesamaan yang mereka alami ketika bom atom meledak, mereka melihat kilatan putih menyilaukan kemudian dorongan keras melempar mereka dari posisi semula.

Para ilmuwan yang datang meneliti beberapa saat setelah bom atom meledak berkesimpulan, tekanan yang diakibatkan oleh ledakan ini bervariasi antara 4,4 hingga 6,7 ton/m². Para ilmuwan juga menyimpulkan bahwa panas yang muncul di pusat ledakan mencapai 6000°C. Panas ini mampu melelehkan nisan berbahan mika yang memiliki titik leleh 900°C yang berjarak 347 meter dari pusat ledakan.

Narasumber yang diwawancarai Hersey, kecuali pendeta Tanimoto, semuanya mengalami luka-luka yang cukup parah. Nona Sasaki dan Nyonya Nakamura bahkan sampai tertimbun reruntuhan bangunan tempat mereka berada ketika bom atom meledak.

Dokter Fujii harus menerima fakta buruk bahwa lebih separuh staf di rumah sakitnya meninggal dunia. Mereka yang selamat tidak bisa membantu Fujii mengobati pasien yang berbondong-bondong datang ke rumah sakit miliknya yang sebagian bangunannya hancur berantakan. Ia betul-betul keteteran dan hanya tidur kurang dari dua jam per hari selama beberapa hari karena banyaknya korban yang membutuhkan pertolongan.

Di rumah sakit palang merah di kota Hiroshima yang bangunannya sebagian besar rusak, Dokter Sasaki begitu terkejut dengan begitu banyaknya korban akibat bom atom ini. Pada pekan awal usai bom atom diledakkan, seluruh Hiroshima memang belum mengetahui bom dari jenis apa yang menghancurkan kota mereka dengan begitu parah. Pihak sekutu bahkan hingga setahun kemudian masih merahasiakan dampak buruk dari bom atom meskipun mereka pada akhirnya memberitahukan jenis bom yang mereka gunakan usai Jepang menyerah.

Pendeta Tanimoto dan Pastor Kleinsorge lekas bergerak ke Taman Asano di pinggiran kota Hiroshima usai bom atom meledak. Bersama ribuan orang lainnya mereka mengungsi di sana. Pemerintah kota memang menetapkan taman ini menjadi salah satu lokasi evakuasi jika Hiroshima di serang musuh.

Bom atom meledak pada pagi hari yang cerah, pada malam hari, Pendeta Tanimoto bertemu serombongan tentara di Taman Asano yang hampir seluruhnya mengalami kerusakan mata dan tidak bisa melihat. Ketika ledakan terjadi diduga kuat mereka melihat langsung ke pusat ledakan dan mata mereka terkena efek radiasi dari bom atom.

 

Selanjutnya, seluruh penghuni Hiroshima  termasuk keenam orang narasumber Hersey yang sempat selamat mengalami penyakit radiasi akibat bom atom ini. Penyakit radiasi bervariasi sesuai dengan intensitas radiasi yang diterima tubuh. Efek paling buruk, kematian, seperempat korban meninggal di Hiroshima, meninggal pada waktu yang cukup jauh dari ledakan pertama kali dan mesti menderita sebelum meninggal karena radiasi ini.

Mual, muntah-muntah, tidak nafsu makan, kepala pening, rambut rontok, luka terbuka sulit sembuh, cacat fisik, hingga kematian adalah dampak-dampak dari radiasi yang dipancarkan usai bom atom diledakkan.

Komentar seorang dokter yang saya kutip pada awal tulisan ini, adalah komentar terkait penyakit radiasi yang dialami Pastor Kleinsorge. Ketika penyakit radiasi mulai melemahkannya, Ia pada akhirnya dievakuasi ke Tokyo untuk mendapat perawatan lebih lanjut. Dokter yang mengobatinya keheranan karena luka-luka luar Pastor Kleinsorge yang sembuh dan tertutup, kembali terbuka menganga ketika pastor bergerak lagi.

Perang memang selalu seperti itu, penderitaannya dialami oleh mereka yang malah menolak pilihan perang, atau sama sekali tidak tahu-menahu apa maksud dan tujuan perang itu. Anak-anak, orang tua, dan warga sipil kerap menjadi korban paling mula.

Hingga hari ini Amerika Serikat dan sekutu belum mau meminta maaf atas pilihan mereka menggunakan bom atom saat perang melawan Jepang. Di Hiroshima saja, jumlah korban meninggal mencapai 146.000 jiwa. Lebih sepertiga penduduk Hiroshima ketika itu. Mereka beralasan tidak mengapa mengorbankan segelintir orang untuk menyelamatkan lebih banyak manusia lagi. Dan 146.000 jiwa sekadar statistik semata demi memenuhi syahwat perang dan berkuasa. Gila.

Hari-hari belakangan ini, ada puluhan ribu hulu ledak nuklir aktif yang siap diluncurkan. Kekuatannya puluhan hingga ratusan kali bom atom yang meledak di Hiroshima dan Nagasaki. Hulu ledak nuklir itu tersimpan di Amerika Serikat, Israel, Rusia, India, Pakistan, Iran, dan beberapa negara lainnya.

Cukup separuh dari hulu ledak aktif yang tersimpan itu diledakkan untuk menghancurkan seluruh dunia. Saya kira, buku berjudul ‘Hiroshima’ karya John Hersey yang terpilih sebagai karya jurnalisme terbaik abad 20 ini baik dibaca oleh seluruh umat manusia. Ia mengingatkan sisi kemanusiaan kita, dan betapa biadabnya peperangan itu, lebih lagi peperangan menggunakan bom nuklir.

Buku ini mengajak kita kembali menjadi manusia dan mengedepankan sisi-sisi kemanusiaan kita dari pengalaman mereka yang mengalami langsung rentetan penderitaan akibat perang dan terutama akibat bom atom.

 

Judul Buku: Hiroshima

Penulis: John Hersey

Penerjemah: Gatot Triwira

Penerbit: Komunitas Bambu, cetakan pertama Mei 2008

ISBN: 979-3731-29-x (x+165 hlm; 11,5 x 17,5 cm)

Komentar

Volunteer Sokola Rimba

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *