Membaca Buku dan Alam Di Alas Literasi Banjarharjo

Indonesia adalah negeri dengan sisi kemajemukannya. Sebagai warga negaranya sendiri, saya sangat kagum akan Indonesia dengan ragam rupa di dalamnya. Terdiri dari banyak suku yang menghasilkan banyak adat dan budaya. Dalam aktifitasnya, dari kelompok satu dengan kelompok lain berbeda-beda. Begitu juga dalam berliterasi, orang-orang Indonesia melakukan banyak cara untuk membangun literasi yang dicap rendah.

Kita sudah tak asing dengan penggerak-penggerak literasi yang tergabung dalam Pustaka Bergerak. Mereka turun langsung ke lapisan masyarakat terkecil untuk mendistribusikan buku-buku yang sulit didapat. Caranya pun bervariatif, tentu dengan transportasi milik sendiri seperti seperti motor, becak, hingga perahu. Ada yang fokus di pesisir pantai, ada juga di pegunungan.

Di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, sebuah tempat wisata telah disulap menjadi tempat literasi yang sedang digemari banyak orang. Tempat itu bernama Alas Literasi Banjarharjo. Tempat dengan luas 3.800 meter persegi ini awalnya adalah rest area di kawasan wisata Becici, salah satu destinasi wisata pegunungan yang sedang naik daun karena pemandangan indahnya.

Alas Literasi Banjarharjo didesain menjadi tempat makan, tempat wisata, sekaligus tempat membaca buku dengan suasana yang berbeda, dengan nuansa alam bebas. Tidak seperti di perpustakaan yang kita tau, dengan suasananya tegang dan harus selalu sunyi. Tempat ini dibuat untuk pembaca agar lebih santai serta dapat menikmati suguhan alam.

Saya pikir, ada beberapa hal unik yang bisa kita dapatkan di tempat ini. Selain positif, karena mampu mengangkat perekonomian masyarakat sekitar, tempat wisata ini juga (seperti yang sudah saya terangkan di atas) berbasis pendidikan. Jarang sekali rasanya ada tempat wisata yang juga menyediakan banyak buku untuk di jamah. Dan menariknya, coba pikir, adakah terbesit bayangan untuk menyediakan buku-buku di tengah hutan?

Buku yang tersedia disana lumayan banyak, sekitar kurang lebih 700 buku dijajakan cuma-cuma bagi pengunjung yang tertarik membaca. Bukunya tidak diletakan di lemari, rak, melainkan di sebuah bakul (tempat nasi yeng bentuknya bundar).  Jadi, para pengunjung yang menunggu pesanan makanan bisa sambil membaca buku dengan suasana asik dan hijau. Menikmati indahnya alam ditengah hutan dengan buku-buku. Bukankah itu bisa mengasyikkan?

Alas Literasi bagi saya, atau kalian yang juga mungkin setuju, ibarat oase di gurun pasir. Kenapa bisa begitu? Di tengah lebatnya pepohonan hutan ada sebuah tempat yang sangat memanjakkan hati dan pikiran.

Gagasan baru yang mungkin bisa memicu tempat-tempat lainnya untuk melakukan hal serupa, meski mengadopsi tidak lebih baik ketimbang memulai, tapi tidak ada salahnya jika mencoba terlebih dulu, toh yang terpenting bermanfaat baik.

Agakanya dengan menggebrakan literasi merupakan salah satu cara ampuh untuk bisa menangkal hoax. Coba lihat, seberapa sering kita mengomentari hal yang sebelumnya tidak begitu paham daripada mencari tahu kejelasannya dulu. Terlebih, terlalu sempit rasanya jika kita hanya mengidentikan literasi hanya dengan membaca, literasi kan juga tentang membaca situasi, berfikir lebih kritis hingga bisa membedakan opini dan fakta. Barangkali, dengan difasilitasi alam serta buku-buku, kita bisa mendayung makna dari literasi.

Sebenarnya, kita juga bisa bepergian dengan membawa buku, saat berwisata ke tempat yang belum menyediakan buku. Tapi, mari kita coba gali pandangan lain, Alas literasi hadir untuk menyadarkan kita semua, khususnya para milenialis yang hari ini sangat awam dengan literasi. Kita, yang biasanya bepergian dan sibuk berswafoto, sembari mengabadikan momen, membuat insta stroy hingga status wassap, seakan ditegur dengan ajakan: Jangan terlalu sibuk cekrak-cekrek, bacalah buku.

 

Sumber Foto: kompas.com

Komentar

Bergembira sebelum negara api menyerang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *