Mem-Baca Tangerang

Dibenak saya, masih lekat stigma yang berkembang luas di masyarakat, bahwa setiap orang yang senang membaca buku selalu dicap kutu buku, bahkan dianggap orang yang kurang bergaul. Sulit rasanya menepis anggapan itu. Pasrah pada keadaan bukanlah pilihan, Barack Obama pernah berkata, “Perubahan tidak akan datang jika kita menunggu orang lain atau lain waktu.” Lalu? Sampai kapan kita diam. Ucapan itu yang selalu memompa semangat untuk melakukan perubahan, dimulai dari mengembangkan sebuah gagasan ke dalam bentuk kerja nyata.

Setelah hampir sembilan tahun berkecimpung di dunia aktivisme, berdiskusi soal idealisme, mengasah nalar altruisme, sikap kritis muncul ketika melihat ketimpangan di depan mata. Di Kota Tangerang akses buku sangatlah minim, ditambah lagi budaya hedonisme yang semakin mengakar. Bukan juga tidak ada upaya sama sekali yang dilakukan Pemerintah Kota untuk mengatasi persoalan rendahnya minat baca. Pemerintah Kota Tangerang mengklaim telah membuat enam kelompok besar perpustakaan dengan total keseluruhan sebanyak 85 unit. Angka yang cukup besar namun manfaatnya belum bisa dirasakan secara signifikan dan menyeluruh. Untuk itu, diperlukan sebuah gerakan sistematis yang muncul dari kesadaran masyarakat akan pentingnya literasi dan mengemas kegiatannya semenarik mungkin untuk menarik minat baca masyarakat.

Munculnya berbagai komunitas literasi di Kota Tangerang membawa harapan baru. Bagaikan jamur di musim hujan, mereka tumbuh subur di sudut basah peradaban Kota. Walaupun, tidak semuanya mampu hidup dan berkembang, bahkan mati begitu saja karena tak mampu menjaga konsistensi.

Dua minggu setelah saya dan beberapa relawan mendirikan Komunitas Sayap Kata. Kami rutin menggelar lapak baca gratis setiap Minggu pagi di Taman Prestasi. Nazali dan satu temannya datang, mereka mengenalkan diri sebagai relawan di Komunitas Baca Tangerang yang bergerak dalam dunia yang sama, yaitu literasi. Diskusi pagi itu sangatlah cair, kami berkelakar tentang pengalaman manis ataupun pahit selama membangun komunitas dan melapak. Hubungan baik yang terjalin tak sebatas itu, dibeberapa kegiatan Sayap Kata, teman-teman Baca Tangerang sempat hadir untuk meramaikan acara. Niat kita adalah saling membesarkan tanpa harus merasa besar sendiri.

Meski berada di jalur yang sama, pendekatan yang dilakukan sangatlah berbeda. Baca Tangerang menjelma menjadi komunitas literasi yang fokus mengembangkan literasi media sebagai ujung tombak gerakannya. Sedangkan Sayap Kata lebih memilih mengembangkan budaya diskusi tematik, dan upaya pembangunan rumah baca di setiap kelurahan di Kota Tangerang. Contohnya seperti, Beranda Hatta di Gang Swadaya Kelurahan Petir dan Taman Baca Buka Buku di Gang Pentil, Cipondoh.

Saya sangat kagum melihat segala terobosan yang dilakukan Komunitas Baca Tangerang. Bisa dipastikan, saya termasuk pembaca setia web Baca Tangerang. Artikel yang dibuat sangat menarik dan inspiratif, membuka wawasan baru untuk kita semakin cinta terhadap Kota Tangerang. Tidak mudah untuk melakukan itu, butuh keterampilan dan pelatihan khusus dalam menulis dan Baca Tangerang mampu menjawabnya. Terlebih, kecenderungan penggunaan teknologi yang berkembang pesat saat ini, dijadikan peluang untuk aktualisasi diri dan menebar virus literasi.

Konsistensi gerakan tak perlu diragukan. Belum genap setahun berdiri, Baca Tangerang sudah memiliki rumah baca di Perumnas Karawaci untuk menjalankan aktivitas hariannya. Sangat langka untuk sekelas komunitas baru yang berdiri tanpa topangan dana dari pemerintah, namun mampu merealisasikan hal itu. Menurut saya, semangat serta keikhlasan mereka jadi kunci segala pencapaian yang ada.

Jika ingin membaca Tangerang, baca dan lihatlah Baca Tangerang. Di sana nampak jelas potret pemuda berkemajuan yang memikul semangat perubahan. Menjawab tantangan, di tengah derasnya arus apatisme pemuda yang tak peduli akan nasib bangsa. Mampu bekerja tanpa teriak dana serta berkarya tanpa mengemis balas jasa. Semoga ke depanya Baca Tangerang tetap membaca Tangerang, memahami segala permasalahan, meracik gagasan untuk Kota Tangerang berkemajuan.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *