Melintas Sejarah Etnis yang Ada di Tangerang

Tangerang adalah satu daerah dengan jumlah penduduk besar yang terletak di pinggiran ibukota. Secara historis, kota ini memiliki kisah menarik untuk diikuti. Mulai dari asal-usul nama Tangerang, hingga cerita beragamnya etnis penduduk yang bermukim di tempat ini.

Nama Tangerang sendiri diambil dari kata Tangerang yang berarti tanda atau penanda. Nama ini digunakan karena daerah ini memiliki satu tugu yang menjadi penanda batas wilayah dan kekuasaan, antara VOC dan Kesultanan Banten kala itu. Kemudian, daerah ini kerap disebut sebagai Tanggerang oleh para serdadu VOC yang banyak berasal dari Celebes dan Madura. Hingga akhirnya, masyarakat setempat menyebut daerah ini sebagai Tangerang.

Kini, wilayah Tangerang terbagi dalam tiga daerah administratif. Pertama adalah yang paling tua Kabupaten Tangerang, lalu ada Kota Tangerang, dan Tangerang Selatan yang belum 10 tahun berdiri. Ketiga daerah administratif ini berada di wilayah Provinsi Banten yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta.

Meski berada di tanah sunda, masyarakat Tangerang juga banyak didominasi oleh etnis Jawa, Betawi dan Tionghoa. Hal ini terjadi mengingat keberadaan Tangerang yang berbatasan langsung dengan Batavia kala itu. Para masyarakat Betawi bersentuhan dengan Tangerang karena usaha perdagangan yang mereka geluti. Kedekatan wilayah ini dengan Batavia memudahkan mereka untuk menjual hasil pertanian ke sana. Mereka banyak menetap di daerah pinggiran seperti Ciputat, Ciledug, juga Teluknaga.

Sementara para masyarakat Jawa diketahui banyak tinggal di wilayah Tangerang Barat Laut dan Tangerang Utara, menyusuri pantai utara Pulau Jawa. Kelompok ini diperkirakan adalah keturunan dari sisa prajurit Mataram yang kalah dalam perang. Pada umumnya, mereka masih menggunakan bahasa Jawa dan hidup sebagai petani atau nelayan di wilayah Utara sana.

Yang terakhir, dan memiliki historiografi yang amat dekat dengan Tangerang, tentu saja adalah warga Tionghoa. Sejak lama, ada kelompok masyarakat di Tangerang yang dikenal dengan sebutan Cina Benteng. Dalam sejarah, disebut masyarakat Tionghoa memang ditempatkan untuk tinggal di kisaran sungai Cisadane oleh VOC agar dapat menahan pasukan Kesultanan Banten sebelum mencapai Batavia. Karena diposisikan seperti itulah kemudian kelompok ini disebut sebagai Cina Benteng. Kebanyakan mereka mendiami kawasan di sekitaran Pasar Lama Tangerang.

Namun, persebaran penduduk di masa ini tidak lagi mudah dibaca. Mengingat banyaknya pendatang baru dari beberapa daerah di Indonesia yang mulai banyak menempati daerah-daerah di Tangerang. Tidak dapat dipungkiri, berkembangnya daerah ini sebagai wilayah industri membuatnya menjadi magnet bagi banyak orang. Akhirnya, urbanisasi tidak dapat dibendung dan sedikit banyak telah mengubah wajah Tangerang.

Sekarang, Tangerang sendiri belum bisa menemukan patron dalam urusan kebudayaan. Walaupun terletak di provinsi Banten yang menjadi salah satu basis masyarakat Sunda, kebudayaan masyarakat Sunda sendiri tak begitu menonjol. Sebagai daerah yang menjadi tempat bertemunya banyak kebudayaan, Tangerang harusnya lebih adaptif terkait hal ini. Semoga ke depannya, tak ada lagi keributan yang muncul karena persoalan etnis yang begitu ragam di wilayah ini.

Komentar
Dhani Arief Wicaksono

Benci feodal namun juga bukan patriotik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *