Melek Aksara

Sepanjang usia hingga detik ini, kita menikmati membaca puluhan, ratusan, bahkan mungkin hingga ribuan buku. Mulai dari buku teks yang diwajibkan sejak sekolah hingga kuliah, juga buku-buku yang kita pilih sendiri sesuai selera.

Belum lagi jika ditambah jurnal, makalah, artikel, dan bermacam jenis bacaan lainnya sebagai referensi keseharian, atau bahan tambahan penyusunan laporan, skripsi, tesis, disertasi, dan karya ilmiah lainnya. Berapa juta kata yang telah kita baca. Berapa juta kalimat yang tertangkap pandangan mata dan masuk dalam pikiran dan perasaan. Dan berapa puluh juta huruf yang terus diulang-ulang, menyusun kata dalam rangkaian kalimat hingga terekam dalam ingatan. Huruf yang sejak kecil sudah diingat di luar kepala dan hingga kini sampai mati akan terus kita gunakan, lagi dan lagi.

Mencatat hal-hal yang dianggap penting dalam pelajaran yang diterima. Fisika, matematika, kimia, biologi, sejarah, ilmu pengetahuan sosial, dan berbagai materi lainnya. Menulis jawaban-jawaban saat ujian, tes masuk sekolah dan perguruan tinggi, juga tes masuk kerja dan kursus-kursus tambahan demi mengejar kepandaian dan menimbun ilmu pengetahuan.

Menulis keluh kesah, caci maki, cerita-cerita, dan tulisan-tulisan di sosial media seperti ini. Hingga, tulisan-tulisan yang menghasilkan ijazah juga uang untuk menyambung hidup di bumi.
Semua itu, semua, semuanya, hanya perlu satu syarat saja yang kadang kita abai dan lupa siapa sebab kita bisa seperti itu: MELEK AKSARA.

Sepanjang hidup saya, saya kira, saya abai dan tak peduli siapa sebenarnya orang di balik kemampuan saya bisa melek aksara kini. Terlalu menganggapnya sepele, tak berguna, karena ya begini, saya menganggap ini teramat sangat biasa.

Saya lebih bisa mengingat orang yang memberikan pekerjaan, menghargai mereka yang melepas kita dari status pengangguran. Atau lebih parahnya lagi, saya lebih bisa mengingat orang yang mengajarkan saya bermain playstation misal.

Sampai akhirnya di suatu pagi yang cerah di perbatasan Kabupaten Asmat dengan Kabupaten Nduga, Papua, pagi yang ramai oleh anak-anak lucu dan menggemaskan, seorang murid Sokola Asmat, Lape Bijen mengingatkan saya akan hal ini, penghargaan terhadap Ia yang ambil peran menjadikan kita melek aksara.

“Kemarin Kuri Ansel, Pak Habibi, Pak Ais yang kasih saya hafal huruf-huruf, saya jadi bisa membaca dan menulis. Sekarang, kamu yang kasih saya belajar tambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian, belajar matematika. Saya akan ingat terus pak guru, saya akan ingat terus kalian semua guru-guru yang kasih ajar kami di sini.” Sembari tetap mengerjakan soal-soal matematika yang saya berikan, Lape berujar.

Saya kira, usia Lape berkisar antara 10 hingga 12 tahun saat itu. Perkataannya itu membuat saya terjaga dari tidur panjang, tidur panjang hingga lupa siapa sesungguhnya orang yang menjadi sebab saya melek aksara. Sepele memang, tapi bocah seusia Lape menampar kealpaan saya yang tak bisa menghargai seseorang yang paling berjasa dalam hidup seperti ia menghargai kami guru-guru di Sokola Asmat.

Umi? Itu sudah pasti. Selain Umi? Saya benar-benar lupa, atau memang sengaja melupakannya? Entahlah, saya benar-benar tak ingat. Saya kemudian memaksa untuk mengingat-ingat, mencari-cari hingga pusing, sampai akhirnya lupa lagi.

Lalu, di penghujung tahun 2015, Melak dan Bejajo, murid-murid di Sokola Rimba, Jambi kembali mengingatkan saya akan hal ini. Semua itu terjadi saat kami bercerita tentang guru-guru dan pelajaran menarik di tengah hutan Taman Nasional Bukit Dua Belas.

“Aku paling ingat, pertamakali ikut Sokola waktu melangun di daerah Kuamang Kuning. Waktu itu guru cuma kamu sendiri yang datang, kita belajar di kebun karet dan kebun sawit.” Ujar Melak.

“Iya, sama. Aku juga pertama kali belajar di Kuamang Kuning, gurunya kamu guding Faway.” Bejajo menimpali.

“Kamu masih teringat atau tidak guding Faway?” Melak dan Bejajo kompak bertanya pada saya.

Usai obrolan dengan Melak dan Bejajo, saya terus menerus berusaha, mengingat-ingat kembali, siapa sebab di balik melek aksara saya kini selain Umi. Tak ada salahnya untuk berterima kasih, berterima kasih sepenuh hati atas andil mereka dalam kehidupan saya di bumi. Karena melek aksara tentu saja menjadi modal utama saya dan saya kira kebanyakan dari kita semua untuk tetap bisa bertahan hidup kini.

Komentar

Volunteer Sokola Rimba

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *