tentang masyarakat kampung dadap reklamasi

‘SAKIT’ YANG DIRASAKAN MASYARAKAT KAMPUNG BARU DADAP

Reklamasi terus menjadi polemik besar di negeri ini. Pemerintah mengganggap bahwa proyek ini adalah sebuah upaya baik, sementara rakyat yang terkena ‘imbas’ menganggap bahwa proyek ini ‘pembunuh perlahan’. Tentu hal yang penting untuk diperhatikan dalam proyek reklamasi adalah analisis dampak lingkungan. Sekiranya dampak buruk terhadap lingkungan bahkan masyarakat sekitar yang menjadi korban proyek tersebut tinggi tentu rakyat tak akan diam. Karna yang tau dampak nyatanya adalah masyarakat sekitar—karna mereka lebih mengenal alam sekitarnya ketimbang pemerintah yang hanya mengandalkan data dan teori.

Reklamasi yang saat ini sedang santer tersiar, bahwa Kampung Baru Dadap tengah mengalami dampak negatif akan adanya reklamasi proyek pembangunan jembatan yang menghubungkan kampung tersebut dengan pulau reklamasi C dan D. Sejauh ini, rencana pemerintahan Kabupaten Tangerang yang ingin menertibkan kawasan pesisir pantai Kampung Baru Dadap juga terus mendapat penolakan keras dari para nelayan. Sebab, mereka menganggap bahwa proyek ini memiliki dampak negatif—tak hanya pada lingkungan, juga pada masyarakat sekitar. Dan dampak-dampak tersebut diantaranya yaitu;

Menyulitkan para nelayan

Sejauh ini, para nelayan di pesisir pantai Dadap merasa sangat dirugikan akibat adanya pembangunan mega proyek tersebut. Sebab, para nelayan mesti melaut lebih jauh lagi, bermil-mil jauh daripada sebelumnya. Imbas lain juga sangatlah besar, mata pencaharian nelayan sangat terganggu, sebab dari proyek jembatan penghubung tersebut, beberapa kapal nelayan kerang hijau, rajungan dan ikan tangkap harian sangat sulit melintasi akibat adanya jembatan ini.

Belum lagi masalah lain dari proyek pembangunan jembatan ini, banyak para nelayan yang sudah gulung tikar dan mencari mata pencaharian dengan berprofesi lain, tapi itu hanyalah sebagian, mereka sampai saat ini berharap dan berdoa supaya adanya uluran bantuan dari pemerintah daerah. Mereka yang lahir dan asli bermukim disana sejak lama sebagai nelayan dipaksa untuk beralih profesi. Sungguh miris, mata pencaharian masyarakat asli Kampung Dadap telah hilang. Padahal nelayan tradisional itu adalah nelayan yang tidak lepas dari pesisir pantai dan bibir sungai.

Pencemaran Laut

Perlu diketahui kembali bahwa mayoritas warga disana ialah nelayan, dan Kampung Baru Dadap telah lama hidup nyaman dan bersumbangsih besar kepada negara terhadap tangkapan laut yang dihasilkan setiap hari nya sebelum adanya sebuah proyek reklamasi. Tapi kenyataan berkata lain, ibarat ‘air susu dibalas dengan air tuba’ proyek pembangunan jembatan penghubung reklamasi memberi imbas adanya pencemaran laut. Biota laut, terutama ikan dan hewan-hewan lainnya terancam mati. Ekosistem laut sekitar terganggu

Akibat adanya proyek pembangunan reklamasi pulau di Teluk Jakarta, ekosistem laut dan pantai di sekitar turut terseret arus dampaknya, dari mulai musnahnya tempat hidup hewan dan tumbuhan laut hingga  terganggunya keseimbangan alam. Yang jelas nyata dirasakan ialah banyak nelayan Kampung Baru Dadap mengeluhkan, bahwa sudah dipaksa menempuh perjalanan jauh diperparah pula dengan kondisi jumlah tangkapan yang kian susah dicari. Air yang telah surut akibat efek reklamasi, daratan yang terbangun dan air di sekellingnya menjadi surut. Tidak mungkin juga apabila perairan dan nelayan dipisahkan, sebab mereka bagaikan orangtua dan anak, perairan sebagai orangtua dan nelayan sebagai anaknya.  Pada poin intinya, pembangunan jembatan jadi menyusahkan nelayan—merusak lingkungan dan mengganggu ekosistem laut.

Apabila pengerjaan jembatan telah usai dibangun, maka akan juga berimbas pada relokasi pemukiman warga Kampung Baru Dadap dan hal itu jelas terjadi penolakan keras, diajak bermediasi pun tak kunjung jelas dan hanya sebatas iming-iming belaka yang ingin menjadikan Kampung Baru Dadap dengan hunian berupa Rusunawa. Yang kita ketahui, efek dari reklamasi sudah terjadi pada bilangan daerah Jakarta yang mayoritas pemukiman penduduknya telah digusur dan dijadikan hunian berupa rusun. Dan alhasil, lihat kondisi disana, sampai sekarang banyak sekali warga merasa dirugikan akibat tidak terpenuhinya janji pemenuhan fasilitas yang (katanya) ditunjang secara baik. Akankah Kampung Baru Dadap mesti dipaksa serupa dengan hal itu juga?

Perairan muara Kali Dadap yang merupakan lokasi jembatan itu merupakan satu-satunya gerbang nelayan menuju lautan. Dengan adanya jembatan, nelayan jelas akan sangat kesulitan memperoleh ikan dan mesti melaut lebih jauh. Serta terparahnya adalah pencemaran di wilayah perairan.

“Kamu punya uang kamu menang, kamu punya kekuatan kamu menang, kamu punya otoritas kamu menang. Tapi kamu belum menang di mata masyarakat Kampung Baru Dadap.”

Komentar

Benci feodal namun juga bukan patriotik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *