Mastini Hardjoprakoso: Perjalanan Kepala Perpustakaan Pertama di Indonesia

“Ketika kamu ragu akan sesuatu, carilah di perpustakaan.”  – J. K. Rowling, Penulis novel Harry Potter

Kalau perpustakaan adalah miniatur dunia, maka pustakawan adalah pemilik petanya. Ia tahu apa yang ingin anda cari. Ia tahu ruang yang ingin anda tuju. Bersamanya, anda tak akan tersesat dalam keraguan.

 

Adagium miliki J. K. Rowling layak jadi pengantar untuk menyambut Hari Kunjungan Perpustakaan yang jatuh pada tanggal 14 September. Salah satu hari besar dalam dunia literasi. Sialnya, sebagian besar dari kita mungkin tak bisa langsung merayakannya dengan datang ke perpustakaan. Apalagi sebabnya kalau bukan karena pandemi yang tak kunjung berkesudahan ini.

Tapi, kita tetap bisa memperingati hari besar ini setidaknya dengan mengenang salah satu sosok besar yang sangat dekat dengan sejarah kepustakaan di Indonesia. Sosok tersebut adalah Masitini Hardjoprakoso, beliaulah Kepala Perpustakaan pertama di Indonesia. Rekam jejaknya dalam dunia literasi di Indonesia tak bisa dianggap remeh. Ialah salah satu pelopor berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Mastini memang bukan seperti para pejuang heroik, ia berangkat dari keluarga sederhana. Kehidupannya berasal dari darah biru, anak dari pasangan R. M. T Hardjoprakoso dan R. A Mantinah. Dengan begitu, ia punya kesempatan lebih besar pada zamannya untuk menempuh pendidikan hingga tingkat tertinggi. Ia pernah menempuh pendidikan di HIS Siswo School, Solo.

Hingga pada suatu kesempatan, dirinya bekerja di Lembaga Kebudayaan Indonesia (LKI). Selama bekerja di sana, Mastini muda sangat tekun dan pekerja keras. Hingga pada akhirnya, ia mendapatkan beasiswa Stichting voor Culturele Samenwerking ke Belanda di Nederlands Instituut voor Documentatieen Registratie untuk mempelajari lebih dalam tentang ilmu kepustakaan.

Saat LKI berganti menjadi Museum Pusat, sekembalinya Mastini, ia langsung mendapatkan tugas sebagai Kepala Perpustakaan. Dirinya juga yang mempelopori diadakannya pameran besar berbagai bahasa dari surat kabar langka dalam rentang ratusan tahun kebelakang. Acara itu menarik perhatiaan sosok Ibu Negara saat itu, Ibu Tien Soeharto. Lewat kedekatan yang terjalin antara Mastini dan Ibu Tien, perbincangan tentang pembentukan Perpustakaan Nasional sudah ada.

Ketekunan dirinya dalam mempelajari bidang ilmu kepustakaan membawanya pada kesempatan untuk melanjutkan studi di University of Hawaii untuk meraih gelar Master Of Library Studies. Ia terus menekuni niat untuk medirikian Perpustakaan Nasional dan melakukan penelitian ke berbagai tokoh nasional hingga interasional, sekaligus juga untuk merampungkan papernya yang berjudul The Need of a National Library in Indonesia (1971).

Pembahasan serius tentang rencana pembentukan Perpustakaan Nasional dibahas pada forum resmi oleh Prof. Mohammad Yamin dalam Konferensi Perpustakaan Seluruh Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan pada tanggal 25 Maret 1954. Akhirnya terbentuklah Dewan Perpustakaan lewat Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan no. 17287/kab/1955.

Walau sudah ada rencana, pada kenyataannya memang butuh rentang waktu yang panjang hingga niatan untuk membuat Perpustakaan Nasional benar-benar terwujud. Pembahasan lebih serius lagi tentang hal tersebut dibahas pada Kongres Ikatan Pustakawan Indonesia, di Ciawi.

Hasil kongres secara tak langsung berbuah terbentuknya tim peneliti Persiapan Perpustakaan Nasional, yang terdiri dari: Mastini Hardjoprakoso, Luwarsih Pringgoadisurjo, Rusina Syahrial, Sukarman Kertosedono, dan Abdurrachman Surjomihardjo. Dalam kurun waktu dua tahun lamanya, tim tersebut berhasil menyusun “Laporan dan Rekomendasi tentang Sistem Nasional Perpustakaan dan Perpustakaan Nasional”. Penantian panjang arkhirnya terwujud pada tanggal 17 Mei 1980. Diresmikanlah Perpustakaan Nasional Depdikbud berdasarkan Keputusan Menteri 17 Mei 1980 no 0164/0/1980.

Mastini saat itu ditunjuk juga sebagai Kepala Perpustakaan, dan merupakan yang pertama. Tantangan yang dihadapinya semakin besar. Dirinya harus menjaga kinerja dari 4 bidang sekaligus yaitu: Perpustakaan Museum Pusat, Perpustakaan Sejarah, Politik dan Sosial, Perpustakaan Wilayah Jakarta dan Bidang Deposit dan Bibliografi.

Kepemimpinan Mastini tentu tak berjalan mulus begitu saja. Ada beberapa masalah yang timbul saat itu, terutama terkait dengan komunikasi yang terjalin antar bidang. Apalagi saat itu dinilai bahwa Perpustakaan Nasional Depdikbud dianggap kurang berkembang. Dirinya saat itu langsung berkomunikasi dengan Ibu Tien Soeharto terkait masalah yang sedang dihadapinya. Hingga pada akhirnya, ditingkatkannya status Perpustakaan Nasional sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI nomor 11 tahun 1989 pada tanggal 6 Maret 1989.

Dari sini, kita bisa belajar tentang kegigihan sosok Masitini Hardjoprakoso sebagai pustakawan yang berjiwa besar dan pantang menyerah. Dirinya juga dikenal akan sifat rendah hatinya. Ia tak pernah menuntut hak pribadinya atas apa yang telah ia lakukan. Itu bisa tergambar dari status golongannya selama ia bekerja. Integritasnya sebagai sosok pustakawan pertama di Indonesia memang layak jadi tauladan. Sejarah akan selalu mencatatkan dirinya sebagai sosok yang berpengaruh besar dalam dunia literasi bangsa.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *