Masjid Kalipasir: Saksi Toleransi di Tangerang


Dengan kemajuan teknologi saat ini, informasi dengan mudah sekali didapat. Namun, Informasi yang tersebar terkadang sulit dibedakan antara yang benar dn hoaks. Begitu mudahnya penyebaran informasi tersebut, isu agama menjadi kayu kering yang gampang terbakar. Sehingga banyak oknum yang memanfaatkan untuk memecahbelah antar umat. Padahal, sejak dulu kita adalah bangsa yang saling bertoleransi.

Seperti di Tangerang, Implementasi dari toleransi umat beragama sudah ada sejak dulu. Hal ini nyata adanya dilihat dari bangunan bersejarah di Kampung Kalipasir, Kelurahan Sukasari, Kota Tangerang. Bangunan itu berupa Masjid bernama Masjid Jami Kalipasir, berdekatan dengan Vihara Boen Tek Bio.

Dari sejarahnya, menurut Pemkot Tangerang, masjid ini dibangun oleh  Tumenggung Pamit Widjaja yang berasal dari kerajaan Kahuripan Bogor tahun 1712. Masjid ini sejak dulu dikelola turun temurun oleh keturunan Tumenggung Pamit Widjaya. Mulai dari anak, cucu, sampai keturunan selanjutnya.

Bukan hanya muslim yang membangun masjid tersebut. Ada andil dari orang Tionghoa di sekitar lingkungan tersebut. Itu bisa dilihat dari menaranya yang mirip dengan Pagoda di Tiongkok. Bangunan khas Tionghoa. Di dalamnya juga ada kubah kecil dengan ukiran mirip bunga teratai khas bangsa Cina.

Masjid Kalipasir sendiri berada di pinggir Jalan Kalipasir Indah, diapit oleh pemukiman padat penduduk. Tidak jauh dari Masjid Agung Al-Ittihad Pasar Lama.

Seperti pada umumnya, Masjid Jami Kalipasir berbentuk persegi, dengan menara yang berada di sisi timur masjid. Sebagai penyangga masjid, ada empat tiang penyangga yang sudah rapuh. Meski begitu pengurus masjid tidak mau menggantinya. Mereka menginisiasinya dengan memasang tiang besi sebagai pelapis. Maksudnya, agar isi bangunan tetap utuh walaupun sudah kropos.

Sisi selatan terdapat 5 kolom seperti ladam kuda dan 6 kolom di sisi bagian timur masjid. Bagian atas dari lengkungan kolom terdapat list berbentuk setengah lingkaran berdiameter kurang lebih 3 cm dan berwarna-warni.

Di sebelah Barat Masjid Jami Kalipasir terdapat 9 pasang Nisan dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berukuran 2×2 meter terletak di sebelah timur yang berisi tiga pasang Nisan dan  bagian kedua berukuran 4×2 meter yang terletak di sebelah sisi barat dan berisi enam pasang Nisan.

Bangunan tersebut memberi contoh kepada kita agar saling menghargai keyakinan. Semenjak dibangun sampai sekarang, masyarakat di sekitar kedua bangunan tersebut tidak pernah bertikai karena masalah keyakinan. Malah mereka saling melindungi terutama dari salah satu pihak merayakan hari besarnya. Dari keterangan warga, jika muslim sedang merayakan Hari Raya, orang Tionghoa akan menjaga keamanan. Begitu juga sebaliknya. Hal tersebut patut dicontoh oleh kita ketika isu agama sering sekali menjadi penyulut pertikaian.

Komentar

Karena yang sempurna itu tidak mungkin ada, kenalan aja dulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *