Masih Ragu Vaksinasi Karena Konspirasi?

Masih ingat tentang vaksin dan titan? ya di awal wacana pengadaan vaksin, sampai foto Pak Presiden saat sedang vaksin pun dikomentari salah seorang pengguna sosial media “Tambah berapa cm, Pak?” Haha, saya anggap itu cuma sebagai gurauan. Sebab di masa tak menentu seperti ini kita memang butuh dosis hiburan agar imun tidak cepat turun.

Belum lagi tentang konspirasi ‘tai kucing’. Vaksinasi dipercaya cara elit global menanami chip ke tubuh kita. Lha, kok kaya gampang yaa masukin chip ke tubuh. Iya aja kalau choco chip.

Dengan penyebaran info yang begitu masif, benar atau salah tak lagi penting. Jauh lebih penting siapa yang menyampaikan, dan apa isi yang disampaikan. Jika orang yang menyampaikan adalah orang yang kita kagumi, tidak peduli apa yang disampaikannya salah, sudah pasti dipercaya dan dibela sampai mati-matian bukan?

Baca Juga:  Setelah PPKM Darurat, Terbit PPKM Level 4. Setelah Ini, Level Berapa Lagi?

Lain cerita kalau yang berbicara adalah orang yang tidak kita sukai. Sebenar apapun informasi yang di sampaikan, pasti akan ditentang dan ditolak hingga dicari kesalahannya. Dasar manusia fantastik. Ehh, ‘fanatik’.

Beberapa waktu lalu, saya menolak untuk melakukan vaksinasi. bukan karena berita yang beredar bahwa vaksin mengandung zat berbahaya atau ketika diberikan vaksin akan ditanami chip dan sebagainya. Tapi sesimpel hanya karena saya takut jarum suntik. Bahkan saya tidak memikirkan manfaatnya. Saya hanya takut disuntik dan akhirnya saya menolak divaksin.

Namun hari berlalu, makam-makam terus digali. Tidak kenal siang atau malam, angka kematian terus bertambah. Stok tabung oksigen dan kebutuhan medis lainnya terus berkurang. Nyawa-nyawa melayang meninggalkan yang disayang.

Saat itu saya mulai meluluhkan hati untuk menerima vaksin. Karena saya tidak sanggup, dan tidak cukup kuat membayangkan ada diposisi mereka yang harus berbesar hati melepaskan.

Pandemi ini benar-benar menguras tenaga. Habis menangis membaca berita kehilangan, lalu amarah terbakar melihat orang-orang dengan seenak jidat mengatakan yang meninggal itu dicovidkan. Bersandar pada argumen yang dicopas dari ‘golongannya’.

Terus aja berteriak “Pasien yang mati di rumah sakit itu dicovidkan, rumah sakit bermasalah. Kalau benar covid ada, kenapa bukan mati di rumah?” Ujarnya. Ya, lagi-lagi mereka menutup mata, bahwa banyak yang meninggal saat menjalankan isolasi mandiri.

Jujur saja saya tidak sanggup melihat atau mendengar berita tentang pasien covid yang tidak dapat kamar, hati saya sakit melihatnya. Entah mereka tidak tahu atau menolak tahu, ada seorang anak kecil yang harus mengenakan jubah sebatang kara, sebab kedua orang tuanya meninggal saat isolasi mandiri di rumahnya.

Jika covid benar konspirasi, paling tidak kita bisa ikut berduka dan berbela sungkawa atas meninggalnya orang tua bocah itu, hargai sedikit saja dukanya. Atau mungkin, penganut konspirasi ini juga tidak tahu, kalau ada seorang pemuda yang harus pulang dengan derai air mata setelah lama mengantre isi ulang tabung oksigen, sebab orang tersayang sudah dipanggil Tuhan.

Saya curiga, jangan-jangan penganut konspirasi ini diam-diam ikut vaksin juga. Tapi karena sudah kepalang tanggung dikenal dengan segala konspirasi yang dijajahkan, akhirnya tetap melapak narasi konspirasinya supaya terlihat memiliki konsistensi. Jangan sampai kamu percaya konspirasi, tapi penyebar hoaks dan konspirasi sudah vaksin dua kali, haha.

Baca Juga: Menghabiskan Buku Solusi Terbaik Mengisi Waktu Luang Saat Isolasi Mandiri

Ada seorang yaang membagikan cerita soal seseorang di tempat tinggalnya yang giat menyebarkan berita bohong tentang vaksin, tapi diam-diam vaksin bahkan sudah dosis kedua. Astaga, menyebalkan sekali orang-orang seperti ini. Menakut-nakuti orang lain, berbohong, dan sembunyi-sembunyi menjilat ludah sendiri. Mungkin ludahnya rasa coklat strawberry.

Komentar

Manusia yang belum jadi manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *