Maryamah Karpov: Perjuangan Haru Ikal Mewujudkan Mimpi

Maryamah Karpov merupakan salah satu buku Andrea Hirata dalam Tetralogi Laskar Pelangi. Tetralogi buku miliknya itu berisikan Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor dan terakhir adalah Maryamah Karpov.

Sekuel terakhir buku maryamah karpov bisa dibilang bikin pembaca dibuat terheran, bagaimana bisa bahwa selama 240 halaman, barulah ditemukan arti nama Maryamah Karpov? Yang sebetulnya ia adalah sosok grand master catur kenamaan Rusia yang dikenal pada buku tersebut sebagai Mak Cik. Namun, untuk kelanjutan tentang sosok tersebut tidak begitu dijelaskan terperinci, pun tidak dijelaskan secara detail tentang pengambilan nama ataupun inspirasi terciptanya nama Maryamah Karpov.

Yang mungkin bisa saya garis bawahi, seolah Andrea Hirata memberi penekanan bahwa cerita di dalamnya dirasa punya benang merah dengan segala mimpi Lintang sebagai tokoh dan pengaruh mimpi di masa depan bersama dengan teman-temannya. Yang juga termasuk Ikal sebagai tokoh utama.

Secara plot, dijelaskan di dalam buku ini kita masih tetap bisa merasakan adanya konsep pendidikan. Perjuangan Ikal meraih mimpi hingga impiannya dapat terwujud. Hanya saja perbedaan dalam buku Maryamah, penulis mengemas cerita lewat gaya bahasa lama, santai dan tidak terlalu kaku.

Jadi tidak heran apabila Andrea Hirata bisa cepat menjaring hati pembaca, lewat kehebatannya mengolah tulisan yang mudah dimengerti dan enak dibaca. Begitupun pembaca awam seperti saya, seketika dibuat takjub pada bagian demi bagian dari isi dalam buku tersebut. Dan bukan hanya itu saja, pada beberapa bagian pun Andrea Hirata berani menyisipkan beberapa kritik sosial terhadap Indonesia. Seolah, saya merasakan langsung bagaimana kritikan tersebut sebagai potret nyata yang terjadi di negeri sendiri.

Mengungkap realitas akan masih banyaknya kekurangan di negeri ini disampaikan cukup lugas, pada akhirnya saya seringkali terharu. Selain itu, dalam buku Maryamah Karpov saya dibuat takjub atas keteguhan hati pada setiap perjuangan Ikal. Ia rela melakukan pengembaraan dalam pencarian A Ling yang sudah sejak jaman Ikal masih bersekolah SD Muhammadiyah Belitong membuatnya tertarik, bertemu kembali keluarga dan teman-temannya di kampung, sampai pada kejadian-kejadian tak terduga.

Kalau diingat-ingat, ketertarikan Ikal pada A Ling telah terjadi saat ia selalu disuruh membeli kapur tulis di Toko ayahnya A Ling. Dari situlah ketertarikan Ikal pada A Ling mulai terlihat. Dan siapa sangka, ternyata kisah perjuangan Ikal sejak dulu akhirnya diteruskan dan menemukan titik terang pada buku ini. Namun, dalam kisah perjuangan itu ia terpaksa mesti rela mencari A Ling meski harus pergi ke sebuah pulau bernama Batuan.

Baca Juga : Cerita Sisi Lain Kalis Mardiasih Pada Buku “Sebuah Seni Untuk Memahami Kekasih”

Cerita perjuangannya pun kerap terganjal, karena Ikal harus mencari jejak perginya A Ling. Saya pribadi, merasa ketika membaca bagian ini cukup terharu, ketika melihat Ikal punya semangat juang tinggi dalam menemukan cintanya yaitu A Ling.

Selain itu, yang membuat saya semakin terharu, momen di saat Ikal lulus dari sidang tesisnya dan pulang kembali ke tanah air. Di situ rasa haru saya memuncak, dimana Ikal lanjut bertemu kembali dengan keluarga dan teman-teman alumni Laskar Pelangi.

Dapat dibilang, eratnya persahabatan meraka bagaikan cerdik tak membuang kawan, gemuk tak membuang lemak. Seakan segala sesuatu bagi mereka tak boleh terpisahkan meski sekeras ombak menabrak batu karang, segala sesuatu juga bukan perihal mementingkan diri sendiri, melainkan kepentingan bersama.

Terbukti bahwa teman-temannya ternyata turut ambil bagian, membantu dalam misi pencarian A Ling. Susah payah Ikal bersama kawannya mencari jejak sosok perempuan yang telah lama dicintai.

Meskipun dalam beberapa bagian kronologis waktu, tempat dan kejadian masih cukup masuk diakal. Sayangnya, buku ini bagi saya masih terkesan menggantung, ada beberapa momen mengganjal, masih belum terpecahkan. Ditambah lagi dalam beberapa bagian masih terkesan dipakaskan oleh sang penulis. Walau demikian, saya tidak begitu mengindahkan, sebab pada dasarnya ini adalah buku fiksi, yang diceritakan bebas, sesuai dengan selera dan imajinasi penulis.

Baca Juga :  Sudahkah Sistem Belajar Daring Efektif Atau Sebatas Sarana Alternatif?

Bagi saya, perihal rating masih terbilang cukup baik, setidaknya sekelas buku fiksi, ditambah lagi penulisnya adalah sosok terkenal sastrawan tanah air, Andrea Hirata. Walau kepopuleran buku yang terbit pada November 2008 dengan 504 halaman ini masih tergolong belum mampu menyaingi buku sebelumnya yang termasuk dalam Tetralogi Laskar Pelangi. Namun untuk kalian yang penasaran kelanjutan cerita dari para Tokoh Laskar Pelangi, diwajibkan membaca buku ini juga.

 

Judul : Maryamah Karpov – Mimpi-mimpi Lintang
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan : I, II, November 2008
Tebal : 502 halaman
ISBN : 978-979-1227-45-2

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *