Malam Pelepas Penat Bersama Beatles Mania

Malam itu saya datang terlalu awal untuk sebuah pementasan. Sekira jam 10 saya sudah sampai di lokasi, sementara penampilan baru dimulai kira-kira 30 menit lagi. Sambil menunggu pentas dimulai, saya beserta teman memilih untuk membeli beberapa botol bir terlebih dahulu untuk menemani kami menikmati sisa malam.

Kepala kami memang agak penat, setelah menjalani hari yang tidak bisa dibilang baik, tapi ya nggak teramat berat juga. Bagi sebagian masyarakat perkotaan seperti kami, hari senin jelas bukan hari yang ramah. Senin adalah jelmaan dari banyaknya pekerjaan dan kemacetan (hampir) tiada akhir. Sebenarnya hari-hari lain tidak jauh berbeda. Pekerjaan tetap banyak dan jalanan tetap macet. Namun Senin punya porsi lebih, karena ia adalah hari yang menghentikan kesenangan akhir pekan.

Karenanya, agar kami tetap waras menghadapi kota yang kelewat kejam, kami memutuskan untuk menghibur diri sejenak di Downtown Walk Summarecon Mall Serpong Tangerang. Malam itu adalah jadwalnya para Beatles Mania berjoget di sana, sembari menikmati alunan lagu dari The Beatles. Yap, Senin malam di sana adalah waktunya Beatles Night menghibur para pengunjung.

Saya lupa kapan pertama kali acara ini berlangsung, namun sejak saya masih duduk di bangku sekolah menengah acara ini telah berlangsung. Dulu sekali, waktu sekolah, hampir sebulan sekali saya beserta teman-teman datang untuk sekadar menghabiskan malam dengan botol-botol bir sembari berjoged ria diiringi band yang tampil. Kini, saya sekali lagi menikmati momen tersebut setelah lama sekali tidak hadir di Beatles Night.

Dan yang mengejutkan saya, band yang mengiringi kami berdendang malam itu belum berganti sejak terakhir saya ke sini beberapa tahun lalu. Masih band yang digawangi Abadi Soesman, mantan pemain keyboard God Bless dan Baratha Band. Ia, bersama rekannya membentuk kelompok musik bernama Abadi Soesman and The Lonely Hearth Club Band untuk mengisi malam sunyi para jomblo Beatles Mania.

Bagi sebagian masyarakat perkotaan, malam-malam seperti ini adalah hiburan tersendiri bagi mereka. Di daerah tempat saya tinggal, misalnya. Ada Rock in Night pada setiap malam minggu di tempat yang sama seperti Beatles Night berdendang pada setiap senin malam. Pun ada Rock Klasik yang selalu bergema pada setiap rabu malam di Asmara Coffee Jogja. Atau pada malam-malam lain di berbagai kota, hampir selalu ada hiburan sebagai pelepas penat masyarakatnya.

Selain sebagai malam pelepas penat, Beatles Night bagi sebagian pengunjungnya adalah sebuah cara untuk mengenang kembali band legendaris asal Liverpool tersebut. Beranggotakan John Lennon (gitar ritem, vokal), Paul McCartney (gitar bass, vokal), George Harrison (gitar utama, vokal), Ringo Starr (drum, vokal), band ini tetap menginspirasi banyak orang sekalipun sudah lama bubar.

Saya sendiri sebenarnya tidak begitu mengenal The Beatles. Selain urusan kota kelahiran band ini sama seperti tempat bermukimnya klub sepak bola idola saya, Liverpool, hampir tidak ada hal yang mengaitkan kami.

Sementara itu, untuk menghibur diri saya lebih suka menghabiskan malam di kedai kopi langganan di kawasan Cikokol, Kota Tangerang. Saya lebih suka menghabiskan malam bersama beberapa gelas kopi dan berbatang-batang kretek, sembari ditemani canda kawan atau menikmati sunyi di tengah keramaian. Tapi apa boleh buat, berhubung seorang teman mengajak saya dengan iming-iming bir maka berangkatlah saya malam itu.

Teman saya ini seorang pecinta Beatles. Hampir di sepanjang pentas Ia ikut menyanyikan lagu-lagu yang dibawakan. Tentu sembari menenggak bir langsung dari botolnya, Ia terlihat amat menikmati malam itu. Seperti yang saya katakan diatas, saya sendiri tidak begitu tahu Beatles. Hanya hapal satu dua lagu, seperti Let It Be dan Imagine. Malah menurut teman saya Imagine bukanlah lagu Beatels, melainkan sebuah lagu yang dinyanyikan sendiri oleh John Lennon. Karenanya, hampir di sepanjang pentas saya hanya bisa menikmati irama tanpa bisa mengikuti isi lagu yang dibawakan.

Memasuki pertengahan pertunjukan, lagu-lagu yang familiar dengan telinga pengunjung mulai didendangkan. Lagu-lagu seperti Eigght days a week, Love me do, dan Help membawa atmosfer penonton meningkat. Jika sebelum lagu-lagu ini dimainkan hanya ada dua-tiga penonton yang ikut berjoged di depan panggung, maka setelah lagu dimainkan hampir seluruh Beatles Mania ikut berjoged di depan.

Saya melihat sekitar, mencari-cari apa yang sempat diceritakan teman saya saat berangkat. Menurutnya, jika sedang ramai dan beruntung kita bisa bertemu dengan mbak-mbak kantoran yang datang ke acara ini. Sama seperti kami, mereka juga hendak melepaskan penat di kepala mereka sebelum harus kembali bekerja esok hari. Namun sayang, semalam pengunjung belum begitu ramai. Setidaknya beberapa pekan setelah lebaran, Beatles Night belum menampilkan pengunjung terbanyaknya.

Tapi malam itu tetaplah malam yang cukup ramai. Kegembiraan adalah wabah yang menular bagi setiap orang yang tidak malu mengespresikan dirinya dengan bergoyang di depan panggung. Maka menjelang pentas berakhir, Om Abadi Soesman mengajak semua pengunjung yang tersisa untuk maju ke depan panggung dan menuntaskan malam itu dengan Obladi Oblada. Semua bersuka ria, mengentaskan malam yang lumayan menggairahkan sebelum kembali dihadapkan pada kenyataan, esok hari selasa. Saatnya pulang dan kembali bekerja.

Pertama kali terbit di Minum Kopi

Komentar

Bukan siapa-siapa, bukan apa-apa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *